Lompat ke konten

Persetan Hari Esok

Ilustrator - Azzara Naila
Oleh: Ni Komang Yuni Lestari*

Mei terbangun dengan perasaan sepi yang aneh. Tak ada apa pun yang memicunya atau mengusik lelapnya. Dia terbangun begitu saja seakan sudah seharusnya hidupnya menjadi nyata kembali. 

Ada rasa lunglai yang berat dan aneh, yang membuatnya enggan bangkit dari satu-satunya kenyamanan yang dia rasakan tentang keberadaannya hari itu. Mei berguling tengkurap dan mengubur diri di bawah selimut,  sambil berharap bisa tidur kembali, ternyata sia-sia saja. Mei menendang selimutnya dan menyerah setelah tiga puluh menit berusaha.

Pukul lima pagi, dan alarm di ponselnya belum lagi berbunyi. Langit di luar jendelanya masih gelap. Selama beberapa saat Mei hanya memandangi langit-langit kamar sambil mengeja ingatan dan kenangan dalam pikirannya.

Kamar itu sunyi secara eksistensial. Di kepalanya, Sang empunya ruangan tengah berkelana jauh pada masa lalu dan masa depan yang entah, kadang lamban, kadang berkelebat cepat. Kontras dengan detikan jarum jam dan dengung mesin pendingin ruangan, pikiran Mei melesat-lesat dari satu hal ke hal lain dalam sekejap.

Bermenit-menit berlalu hingga akhirnya Mei lelah dan menyerah dengan isi kepalanya sendiri. Kadang dalam keadaan seperti itu, dia akan menangis di atas bantalnya, dengan pikiran dan ingatan paling buruk itu sampai jatuh tertidur atau meniban suara-suara nyaring itu dengan lagu metal kesukaannya. Sekarang, putaran isi kepala itu hanya membuatnya kosong. Akhirnya Mei bangkit dan bergerak dengan kesadarannya.

Untuk pertama kali, Mei tidak langsung menyambar ponselnya yang tengah di isi daya di meja belajar di sebrang tempat tidur. Pikirnya, masih belum akan ada pesan untuknya sepagi ini. Tidak ada pula pesan yang mungkin tanpa sengaja diabaikannya tadi malam. Dia juga sudah tidak berkontak pesan dengan siapa pun selama seminggu terakhir, kecuali grup kelompok kuliahnya. Jadi, tidak ada gunanya membuka ponsel itu sekarang. Hanya mengingatkan bahwa ia bukanlah orang yang cukup penting untuk dipedulikan siapa pun hingga perlu dikirimi pesan setiap hari.

Mei mengabaikan ponselnya dan juga sebungkus rokok yang tak jauh dari benda pipih itu. Dia keluar dari kamar dan merasakan keheningan yang lebih pekat dari kamarnya yang dia tinggalkan. Dari sini, Mei seakan dapat mendengar rekahan kekosongan di benaknya dan suara-suara nyaring yang bergaung dari sana.

Mei bergidik dan memegangi tengkuk. Napasnya mulai terdengar pendek-pendek. Matanya bergerak cepat menyisiri area kos, dan sedikit cahaya dari dapur bersama seakan melepaskan ketegangan yang aneh itu dari dirinya.

Lengkingan suara sebuah kendaraan yang melesat di jalanan dari luar kos menggugahnya. Mei perlahan-lahan kembali pada keakuannya. Seharusnya itu menjadi hari yang biasa seperti hari-hari kemarin. Dia akan bangun untuk bersih-bersih atau memasak sesuatu, menyeduh kopi, dan merokok di teras depan. Namun rasa lelah yang ganjil itu sudah mengosongkan sesuatu dari dirinya.

Mei berdiri dalam waktu yang cukup lama di depan kamarnya. Dalam kegelapan dan keheningan hunian itu, dia mencoba mengingat-ingat apa yang akan hendak dia lakukan.

Gadis itu berbalik dan memandangi seluruh kamarnya dengan cermat, dan tahu bahwa tidak ada yang perlu dibereskan. Namun, tangannya bergerak begitu saja meraih lap di gantungan, lalu mulai membersihkan peralatan makannya yang tertata di rak plastik. Hanya ada sedikit sekali debu di sana, yang kalau tidak dibersihkan pun tak apa-apa.

Mei menarik dan menutup laci-laci meja belajarnya setelah mengaduk-aduk isi laci itu tanpa tujuan. Dia kemudian membuka pintu lemarinya, menata ulang baju-baju di dalamnya yang sudah tertata rapi.

Setelahnya, Mei beralih ke rak bukunya dan melakukan hal yang hampir sama. Membersihkan buku-bukunya yang sudah bersih, mengaturnya ulang dengan urutan yang serupa. Lalu, dia menata ulang barang-barangnya di tempat yang sama seperti sebelumnya, dan mengulangi kegiatan itu dalam pikiran yang setengah berada di tempatnya.

Setelah letih melakukan semua itu, Mei diam terpaku di atas tempat tidur dan merasakan rasa sepi yang aneh itu masih tak kunjung hilang. Dia beranjak mengambil ponselnya, menimbang-nimbangnya selama beberapa saat sambil berpikir, “Adakah yang sudah menghubungiku?”

Cukup lama Mei memelototi benda itu dengan wajah suram. Kemudian dia meletakannya kembali setelah berpikir bahwa dengan mendiamkan ponselnya lebih lama lagi, maka mungkin dia akan mendapatkan pesan-pesan yang dia harapkan.

Sebagai gantinya, Mei menyulut sebatang rokok lalu pergi ke jendela kamarnya yang sudah mulai dibiasi cahaya. Dia terus merokok hingga waktu menunjukan pukul enam pagi. Sudah waktunya bersiap-siap untuk berangkat ke kampus.

Mei seakan bergerak secara mekanis. Dia mandi dengan cepat, lalu lama termangu di depan pintu lemari. Baju apa yang akan dia kenakan hari ini? Apakah dia harus mengenakan kemeja merah anggur yang baru di belinya, atau blus gading yang kapan hari dipuji oleh temannya? Harus dengan apakah dia memadu padankan pakaian itu, apakah dengan celana panjang abu-abu favoritnya, atau leging cokelat yang serasi dengan blus gading itu? Yang mana yang akan terlihat cukup baik hari ini.

Detik selanjutnya Mei mencemooh pikirannya sendiri. Dia sudah bergumung dengan pikiran yang lebih runyam dan lebih liar sepagian ini, dan dia masih termangu di depan pintu lemari hanya untuk memilih baju.

Mei mengumpat. Dia akhirnya menarik kemeja hitam andalannya dan celana kulot warna denim, lalu mengenakan sepatu kets abu-abu dan jaket jeans yang warnanya sudah pudar. Dia menyambar tas, ponsel, dan rokok, lalu beranjak keluar.

Hari itu adalah hari pertama di bulan September yang dingin dan berangin. Kelabu membentangi langit sejak pagi. Tidak ada tanda-tanda bakal cerah, tapi juga tak ada aba-aba akan kedatangan hujan. Mendung menggantung saja di sana dan menolak untuk beranjak. Bahkan untuk secercah cahaya bahwa janji hari itu akan lebih baik pun tidak ada.

Mei menghabiskan nyaris dua menit penuh untuk memandang langit dan menimbang-nimbang payung di tangannya, ragu memutuskan apakah dia akan membawa benda itu atau tidak. Ia paling malas dengan barang bawaan yang merepotkan saat bepergian. 

“Apakah hujan akan turun hari ini?” 

“Mungkin tidak,” kata sebagian dari dirinya yang menginginkan demikian.

“Bisa saja iya,” kata pikirannya yang lain.

Sedetik kemudian Mei berdecak kesal dan mencampakan payung itu di tempatnya, lalu berderap keluar dan menapaki jalan beraspal di gang kosannya, di bawah naungan langit kelabu yang perlahan menggelap. Persetan dengan hujan.

Mei tidak menyukai begitu banyak antisipasi yang dia butuhkan untuk hidup. Dia sudah lelah melakukannya. 

Saat ini, yang ia inginkan hanyalah agar hidup segera beraksi atasnya, entah apa pun itu.

Seperti membiarkan hujan menjatuhinya, membiarkan angin menyapu rambut pendek sebahunya, atau mungkin tertabrak pengendara yang sembrono saat dia berjalan menuju halte pagi ini? Bahkan mungkin, tertimpa pohon tumbang ditengah badai, dalam perjalanan menuju kampus? 

Mei tahu benar bahwa selama ini hidup terlalu berbaik hati padanya sehingga tak sekali pun hal buruk terjadi setelah sekian lama ia mengharapkannya. Hingga kini semua hal yang dia keluhkan selalu berlanjut betapa pun ia menginginkan sebuah akhir.

Sebuah bus berhenti tepat ketika Mei mencapai halte. Pintunya terbuka diiringi desis hidrolik, menampakan wajah suram pagi hari pramudinya. Mei naik dan langsung menuju ke kursi deretan belakang favoritnya setelah mengetap kartu pembayaran elektronik.

Bus kembali melaju. Mei agak terhuyung ketika mengempaskan diri ke kursi  seraya  merapatkan jaket. AC bus terasa lebih dingin setelah gerimis membuat tubuhnya sedikit basah. Ia memeriksa jadwal kuliah di ponsel, dan mengutuk pelan karena hari ini adalah jadwal dosen tua yang paling membosankan. Dia memandang keluar jendela dan berandai-andai, bisakah ia meninggalkan kota ini dan kuliahnya yang tak berjuntrung?

“Tidak mungkin,” pikirannya berbisik.

“Tapi, mungkin saja, kan? Mengapa tidak?” Pikiran semacam ini sudah terlalu sering hinggap di kepala Mei acap kali hidup mengambil jeda yang begitu lama untuk membuatnya memikirkan ulang hidupnya hari itu, atau apa-apa yang telah dia putuskan untuk dia lakukan selanjutnya.

Namun, segala pikiran-pikiran itu akan berakhir bila dia sampai di halte fakultas, mana kala realitas hidupnya sebagai seorang mahasiswa berhadapan langsung dengannya saat itu juga. Seperti kali ini. Bus berhenti di tempat tujuannya, dan gerimis turun dalam waktu yang sangat buruk. Mei mengumpat, harusnya dia bawa saja payung tadi.

Mei turun dan langsung berlari-lari kecil menyebrangi halaman depan fakultas menuju gedung perkuliahan. Sesampainya di sana, hujan langsung menderas tanpa ampun. Mei memandanginya dengan setengah bersyukur, setengah kosong. Dia berdiri di bibir selasar dan mengulurkan tangannya pada titik-titik air yang menderas. Air yang menusuk kulitnya terasa dingin.

“Ini hanya air. Kenapa aku takut dengan air?” Dia membatin pada dirinya sendiri.

“Jelas, lah. Kamu sudah rapi dan akan masuk kuliah sebentar lagi. Ponsel dan buku-bukumu di tas tidak boleh kebasahan.” Seloroh pikirannya yang lain.

“Dasar manusia paranoid,” umpatnya pada diri sendiri dan pada udara yang bergerak di sekitarnya. Ia menggeleng jengah karena pikirannya sendiri.

Mei berbalik ke arah pintu masuk gedung lalu turut mengantre di depan lift. Ia memerhatikan mahasiswa-mahasiswa dari dalam dan luar gedung hilir mudik di sekitarnya, antrean panjang di depannya, orang-orang yang membawa celoteh masing-masing. Gosip-gosip pertemanan, gerutuan panjang tentang ujian, dan segala keluhan tentang apa pun mendengung dari setiap sudut.

Mahasiswa-mahasiswa akhir bertampang suram yang menggendong ransel hilir mudik sendirian, sementara mahasiswa-mahasiswa muda yang berseliweran dengan totebag berjalan berdua-dua atau bertiga-tiga dan larut dalam obrolan.

Mei memandang mereka dengan tatapan hampa yang ganjil. Untuk apa mereka ada di sini? Untuk apa dia ada di sini? Apakah ia dan mereka punya pilihan lain? Apa yang membuat segerombolan manusia ini bersepakat untuk berada di tempat ini?

Gadis itu termangu seperti orang linglung, sambil bertanya-tanya dan menggali dari dasar pikirannya dan mencoba mendapatkan alasan mengapa detik ini dia berada di gedung kampusnya setelah dua tahun ke belakang dan mungkin hingga dua tahun ke depan.

Mei barang kali paham mengapa ia ada di sini. Mungkin saja, dia memilih untuk memahaminya dengan kesadaran penuh sambil mengilhami pemahaman lain, pilihan-pilihan yang mungkin tapi tak pernah atau tak bisa ia pilih tetapi selalu ia keluhkan dengan kesadaran penuh yang sama. Hal tersebut bisa ia pilih dengan konsekuensi berbeda.

Mei menggeleng-geleng dan tersadar bahwa antrean di depannya sudah nyaris tuntas dan dia kini mulai diperhatikan atas ketermanguannya di tengah kehidupan yang terus bergerak di sekitarnya. Dia buru-buru masuk dan ikut berdesakan di lift, sambil memeriksa jam tangannya yang sudah menunjukan sepuluh menit sebelum kelas dimulai. 

Setibanya di lantai empat, alih-alih masuk ke kelas, Mei berjalan menuju balkon dan memandang ke bawah dari lantai empat gedung fakultas. Seharusnya dia sudah bergegas-gegas ke kelas sekarang, kendati pun tahu bahwa telat sepuluh menit lagi pun tidak apa-apa.

Mei memegangi pagar balkon dan memandang langit kelabu. Angin membawa bulir air dan tempias hujan ke arahnya, sensasi yang memberinya perasaan damai. Dia memegangi satu sisi rambut dan wajahnya yang dingin dan basah sambil memandang ke bawah, ke halaman kampus yang kelabu dan orang-orang yang hilir mudik. 

Seminggu yang lalu, seseorang telah menerjunkan diri dari atas sini dan langsung meninggal dunia. Ia bertanya-tanya dalam hati, apa yang orang itu pikirkan sebelum melakukannya? Apakah dia merasakan rasa sakit saat tengkoraknya pecah menghantam pavling kelabu itu? Apakah dia memikirkan keluarganya? Teman-temannya? Atau kemungkinan orang-orang yang akan melihat tubuh seseorang akan hancur di dekat mereka sebentar lagi?

Mungkin dia tidak memikirkan itu. Mungkin dia sudah mati rasa dan pikirannya hanya terpusat pada rasa muak, kesepian menahun, dan rasa jenuh yang tak berkesudahan tentang hidup. Mungkin kesadarannya yang hilang mendahului rasa sakit itu.

Pikirannya sudah barang tentu tidak secemerlang pikiran Mei yang kini berada di tempat yang sama, dengan keinginan untuk pergi yang sama pula, tapi Mei memutuskan untuk tidak melompat sementara mahasiswa itu memilih untuk melompat.

“Apa yang sebenarnya kamu cari, Mei?” tanyanya pada diri sendiri. “Apa yang kamu harapkan dari hidup yang selalu kamu keluhkan setiap hari ini? Hidup kamu segan, tapi mati pun kamu enggan. Bukankah pada akhirnya akan sama saja?”

Mei menghela napas keras-keras. Kemudian, getar ponsel di saku celana mengusiknya. Mei memeriksa ponsel itu dengan penuh harap, tapi yang didapatinya adalah notifikasi promosi dari sebuah aplikasi travel. Sebuah diskon penerbangan menuju Bali yang benar-benar murah. 

Mei memandangi notifikasi itu dengan datar, namun kepalanya mengingat angka di tabungannya dan kepalanya langsung menghitung dengan cepat. Satu bagian dari dirinya yang sinting entah bagaimana mengambil alih. “Mengapa tidak?” Bagaimana bila ia benar-benar menghilang saja sekarang, pergi ke Bali, melupakan kuliahnya, dan entah bagaimana dia akan bertahan hidup di sana?

Mei menoleh ke arah pintu kelasnya. Seorang dosen paruh baya keluar dari lift dan berjalan pelan menuju kelas itu. Dua Jam yang membosankan lainnya. 

Mei memandangi lagi notifikasi promosi itu dan entah bagaimana inspirasi itu, atau kegilaan itu mengambil alih kendali hidupnya saat itu juga. Iya, dan tidak, dan iya. Terjadi tiga detik jeda keraguan yang menarik Mei pada realitas. Ia menumpas keraguan itu dan tanpa banyak ba-bi-bu, ia memesan penerbangan menuju Bali.

Mei berlari kecil dan alih-alih menuju lift, dia serabutan menuju tangga. Semangatnya meluap-luap hingga Mei pikir dia bisa berlari berkilo meter dengan sekencang-kencangnya, menuju kebebasan dan pembebasan yang absurd yang ia ciptakan hari ini.

Mahasiswa-mahasiswa yang dia lewati sepanjang perjalanan yang terburu-buru itu memandangnya dengan aneh dan mereka semua tampak tidak senang dengan kegaduhan yang dia ciptakan. Gadis itu menyelip sana-sini, tanpa sengaja menyenggol bahu dan pundak mahasiswa lain yang hendak naik atau turun.

Mei tidak peduli. Bahkan, ketika hujan di luar masih cukup deras, dia tetap berlari menerjangnya hingga ke ujung jalanan di depan kampus. Dia baru berhenti dengan terengah-engah dan kebasahan di depan halte, dan langsung naik ke bus yang datang tak lama kemudian. Ia tak berpikir untuk pulang dan mengemas koper. Ia tidak mau menunggu untuk sesuatu yang akan membuatnya memikirkan ulang pelarian ini.

Di sepanjang jalan, mulai dari bus sampai ojek online yang membawanya ke bandara, Mei agak gelisah karena merasakan setiap letupan katarsis yang tak berhenti disepanjang pelarian itu. Antusias, cemas, takut, gentar, dan campur aduk semuanya menaungi seperti awan yang mengikuti kemana pun dia pergi. 

Satu hal yang Mei tahu betul ia innginkan adalah kebebasan ini, kehendak atas hidupnya sendiri. Apa pun yang kemudian akan terjadi pada hidupnya yang dia tinggalkan tapi yang juga ia pilih sekaligus.

Tiga jam kemudian, mana kala pesawat yang ditumpanginya membumbung tinggi ke angkasa, Mei merasakan sentakan di perutnya dan sekejap merasa mulas tentang kehidupan yang telah dia tinggalkan di kota itu. Tentang bagaimana dia pergi, dan apakah orang-orang akan mencarinya?  Apakah dia akan kembali ke kota ini, untuk membereskan segala yang tertinggal, atau kembali pada kehidupan kuliahnya yang absurd itu?

Mei tidak tahu. Dia enggan membuka sekelumit imaji tentang masa depan atau bahkan hari esok. Pengetahuan bahwa kini ia telah melesat dengan kecepatan dua ribu kaki permenit dan berada 30.000 kaki di atas permukaan laut membawa antisipasi kegembiraan yang jauh lebih spektakuler dari yang pernah ia rasakan di sepanjang kehidupan dewasanya.

Kurang dari lima jam dari keputusannya yang impulsif itu, Mei tiba di Bali. Sesaat ia ingin merasakan rotasi bumi dan mengambil alih orientasi yang selama beberapa saat lalu tercerai berai di jalanan kota Pendidikan itu.

Mei berjalan dengan lebih merasakan dirinya sendiri,mengilhami waktu dan realitas hidupnya yang seakan-akan menjauh lalu lenyap. Sambil merasakan kesadaran yang lamat-lamat tentang di mana dia berada dan apa yang tengah ia jalani kini, di tempat yang jauh, baru, dan yang dipilihnya dengan spontanitas yang tak tahu bisa dia miliki.

Mei menghabiskan waktu menuju senja dengan mencari penginapan, makan, dan kopi. Ia menelan sisa-sisa ledakan katarsis itu, merasakan pahitnya, cemasnya, dan gamangnya dirinya saat ini, dan menyerap sepenuhnya realitas tempatnya berpijak dan menghirup udara kebebasan yang begitu menggetarkan.

Lalu setelah matahari sudah lebih condong ke barat, Mei tiba di pantai Double Six. 

Masih dengan setelan yang digunakannya untuk kuliah tadi pagi, Mei berlari-lari dan berlompatan dengan girang di atas pasir kelabu, lalu menjatuhkan diri di tepian ombak yang basah tapi masih cukup jauh untuk menggapai kakinya. Tak peduli meski sekujur baju dan celananya kotor oleh pasir. Dia berlutut, menyaksikan bentang langit yang mulai berwarna ungu, dan apa yang ia inginkan berada di sejauh mata memandang laut tak bertepi itu. Senyumnya merekah lebar sekali. Ia begitu puas bisa mengelabuhi kehidupannya yang sialan itu.

Di situ, di suatu tempat yang jauh, sangat jauh meski sekilas hanya terdapat satu garis batas antara langit dan laut, di sanalah tempat yang paling ingin ia kunjungi. Ia benar-benar melihatnya sekarang dengan jarak yang cukup dekat untuk merasakannya, tetapi tetap berada jauh dari kemungkinan paling akhir itu.

Mei memandangi ayunan ombak yang bergemuruh di hadapannya, dan bintang-bintang di langit yang begitu luas di atasnya. Begitu dekat, begitu jauh. Seperti dirinya kini yang terlempar di tempat yang begitu jauh, tapi perlahan-lahan kini ia merasakan hidupnya sendiri, dan mengingat apa-apa yang telah ia tinggalkan yang entah bagaimana terasa begitu dekat.

Orang-orang yang dikenalinya, kota yang begitu akrab dengannya, universitas yang dahulu ia masuki dengan susah payah. Prestasi-prestasinya di kampus, kosannya yang baru saja dia bayar, barang-barangnya yang dia tinggalkan. Segalanya menjelma serupa masa lalu yang berkelap-kelip tanpa arti, dan yang nyata baginya hanyalah apa yang dicerap seluruh indranya kini. Debur ombak, kelembutan pasir, bentang langit luas, dan aroma kebebasan yang bercampur dengan asin laut.

Di sini, dia terlempar sebagai orang yang tak dikenali siapa-siapa, tidak punya tempat tinggal yang aman, tidak ada barang-barang andalan. Tak seorang pun tahu bahwa dia adalah manusia yang telah melarikan diri dari hidup yang dahulu dipilihnnya dengan kebanggaan luar biasa itu. 

Mei merasa puas, ia berbaring di hamparan pasir kelabu, tampak seperti orang sinting dengan seluruh pakaian semi formal yang tersemat pada tubuhnya. Mei tidak peduli. Dia merentangkan tangan dan memandang pada bentang langit dan bintang-bintang, merasakan sepenuh jiwanya seakan melayang dan terbang ke batas cakrawala. 

Detik itu, ia benar-benar tak memikirkan apa pun lagi. Ia tak peduli tentang masa lalu, tentang masa depan, tentang siapa pun atau apa pun. Hanya ia dan satu kehendak hidupnya di sore itu, dan … persetan untuk semua omong kosong di hari esok.

(Visited 44 times, 1 visits today)
*) Penulis adalah mahasiswa jurusan Sosiologi angkatan 2025. Sekarang sebagai staf magang LPM Perspektif 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?