Hembusan angin dini hari menyusup melalui celah jendela gedung tua tempat aku bersembunyi. Aroma karat, debu, dan tetesan air dari pipa bocor menambah kekacauan suasana, kontras dengan pikiranku yang justru terasa tenang.
Tenang … tapi rapuh oleh satu hal yang tak pernah kuinginkan,
Rafael.
Senyum miringnya semalam belum benar-benar memudar dari pikiranku. Setiap kali aku memejamkan mata, aku melihat jelas bagaimana wajahnya berubah ketika peluru menembus dada ayahnya. Ketakutan, kesakitan, sekaligus … kekecewaan. Kekecewaan yang bukan sekadar anak terhadap ayah, tapi milik pemburu yang kehilangan kendali atas buruannya.
Aku membuka mata.
“Anak sialan itu … sudah masuk terlalu dalam,” gumamku pelan, antara geli dan terganggu.
Kepalaku kembali memutar kilas balik saat Rafael berlari menuruni panggung, kemeja putihnya basah oleh darah ayahnya, namun tetap sempat melayangkan tatapan mengikuti ke mana aku melangkah. Tatapan yang bukan kebencian murni melainkan tatapan yang justru membuatku tergila-gila karena kehilangan.
Tak butuh waktu lama untuk aku menyadari sesuatu.
Bahwa Rafael mengikuti polaku.
Rafael memetakan reaksiku.
Rafael menghafal cara aku bergerak dalam keramaian.
Rafael mengincarku … dengan cara yang sama seperti aku mengincar targetku sendiri.
“Obsesi yang manis,” aku terkekeh pelan sambil membersihkan Glock-ku.
“Sayang sekali dia terlalu… manusia.”
***
Di lantai paling atas gedung Wiranto Tower, Rafael tidak tidur sama sekali. Ia duduk membungkuk di depan layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV dari berbagai sudut aula Kusuma Bangsa. Jemarinya yang lentik bergerak cepat, memutar ulang adegan penembakan ayahnya tanpa berkedip bahkan terlihat seperti menikmati kekejamannya sendiri.
Namun yang ia fokuskan bukan ayahnya.
Bukan darah.
Bukan teriakan panik.
Melainkan bahu kiri Belial yang sedikit menegang dua detik sebelum menarik pelatuk.
Melainkan cara Belial menyelipkan Glock ke tas selempang, bukan ke pinggang.
Melainkan tatapan liar Belial yang pecah menjadi tenang ketika melihat dirinya di panggung.
Tatapan yang membuat Rafael merinding … bukan karena takut.
Tapi karena ingin memilikinya.
“Inikah rasanya menemukan seseorang yang lebih kejam dari aku?” Rafael berbisik lirih, bibirnya melengkung ke arah yang berbahaya. Matanya yang merah masih berkaca-kaca, tetapi tidak lagi berduka. Duka itu sudah berubah rupa menjadi obsesi.
Asisten pribadinya masuk tergesa, membawa map laporan pers. “Mas Raya, seluruh media menunggu konferen-”
“Diam.”
Rafael tidak menoleh. Ia memperbesar layar pada satu frame yaitu saat Belial memiringkan kepala, seolah mengajak Rafael bermain.
“Kau lihat itu?” Rafael menunjuk layar. “Dia tersenyum. Tepat sebelum bunuh ayahku.”
Asisten itu menelan ludah. “… Saya lihat, Mas.”
Tatapan Belial di monitor itu … membuat Rafael semakin tergila-gila.
Semakin ingin menangkap.
Semakin ingin memaksa “permainan” ini berjalan sesuai kemauannya sendiri.
Lampu gedung tinggi di kejauhan berkedip, membentuk ritme yang rapi yang seakan memberi tantangan yang belum terucap. Rafael tersenyum tipis, penuh tekad.
“Dia akan kembali padaku,” gumamnya, tak terdengar oleh siapapun.
“Cepat atau lambat. Aku hanya perlu membuatnya yakin bahwa permainan ini masih berlanjut.”
***
Aku sedang memoles pisau lipatku di gedung tua itu ketika tiba-tiba jariku berhenti. Sesuatu … sebuah tarikan halus di bawah sadarku, membuat seluruh inderaku menegang. Bukan bahaya, tetapi perhatian.
“Apa kau memanggilku, Rafael?” lirihku, nyaris seperti berbicara pada angin.
Seberkas cahaya dari gedung tinggi di kejauhan berkedip tiga kali dalam ritme yang terlalu rapi untuk dianggap kebetulan. Aku menyipitkan mata, punggungku merinding, bukan karena takut. Namun karena merasa bahwa seseorang sedang menandai aku kembali.
“Ah … kau memang bukan sekadar anak manja.” Aku tersenyum tipis, suara sendiri seolah memecah kesunyian. “Tapi kalau kau pikir bisa bermain main denganku, kau salah besar.”
Namun di balik senyum itu, aku merasakan sesuatu yang membingungkan.
Aku ingin melihat Rafael lagi.
Aku ingin melihat reaksinya.
Aku ingin menguji seberapa jauh obsesi bocah setan itu bisa mendorongnya melakukan hal-hal bodoh.
Aku menegakkan tubuh, memasukkan Glock ke belakang pinggang.
“Baiklah, Rafael,” gumamku pelan, nada bercampur tantangan dan hiburan. “Ayo lihat siapa yang lebih dulu terbakar di permainan ini.”
Dari kejauhan, lampu Wiranto Tower berkedip sekali lagi kali ini membentuk ritme yang berbeda. Seakan menjawab.





