Dari belakang, aku mendengar suara itu makin mendekat dan mendekat. 50 meter, 30 meter, 15 meter jaraknya, dan terus melaju makin cepat. Ia mengejarku seakan-akan berlari. Lengah sejenak saja akan membuatku berhasil dikarungi dan dibawa ke pulau terpencil di ujung dunia. Aku harus bergegas bergerak. Aku harus juga melaju tak kenal batas. Aku harus lepas dari laki-laki yang tak kelihatan wajahnya itu.
Keringatku bercucuran, wajahku memerah karena cemas dan takut yang bertubi-tubi datang. Kepalaku memanas memikirkan skenario-skenario buruk yang akan terjadi padaku. Aku menggigit bibir bawahku, gigiku bergetar tak karuan. Tanganku tremor tak henti-hentinya. Mataku menoleh ke sana-sini. Jalan sepi karena malam membuatku makin bergidik ngeri.
“Genis, lo sengaja banget nutupin abang-abang belakang lu ya? Udah klakson berkali-kali itu, cepet minggir!” Suara nyaring di telinga kananku membangunkanku dari lamunan cemas.
“Lho, hah?!” Aku menarik rem depan sedikit terburu-buru. Motor yang aku kendarai berbelok agak oleng ke kiri.
“Ehh Genis, yang bener bawanya! Lo mau kita dijemput Izroil?!” teriak Abit yang mencengkram pundak kananku kencang.
Sembari panik kian padam, aku membetulkan laju motorku. Abit masih mencengkram pundakku, satu tangannya berpegangan pada ujung besi motor yang ada di belakangnya.
“Aduh mbak, untung ini jalanan bukan trek bomb bomb car.” Pemuda yang sempat melaju dengan motor miliknya di belakangku kini sejajar denganku. Ia langsung tancap gas begitu saja.
“Lo sih Genis diikutin motor belakang kayak dikejar copet aja,” celetuk Abit.
“Hehe, sorry, sorry, first time,” timpalku tertawa kecil.
“Alah pret.”




