Lompat ke konten

Persekutuan Perempuan-Perempuan Lajang: Realitas Kebebasan Perempuan yang Terkekang oleh Konstruksi Sosial

Sampul Buku Persekutuan Perempuan-Perempuan Lajang oleh Artie Ahmad
Oleh: Ryenk Retno Jayanti*

Judul: Persekutuan Perempuan-Perempuan Lajang

Penulis: Artie Ahmad

Penerbit: Langgam Pustaka

Cetakan: Pertama, Oktober 2022

Jumlah Halaman: 183 halaman

Bagaimana tanggapanmu jika sepulangnya dari tempat kerja, kamu mendapati hadirnya surat undangan untuk memperingati seperempat abad status lajangmu tergeletak di bawah pintu rumah? Kaget, kah, atau mungkin kamu akan tertawa terbahak-bahak karena mendapati peristiwa tersebut begitu lucu dan tak masuk di logika? Kejadian itulah yang dialami oleh Luka Sukma, benar kamu tidak salah membaca. Nama tokoh utama dari novel ini adalah Luka Sukma. 

Sontak, ia menolak mentah-mentah untuk mempercayai kejadian aneh tersebut. Sebab, yang ia tahu, dirinya di usia 24 tahun tengah menjalin asmara dengan William, seorang pemuda baik hati. Tak mungkin ia akan berakhir melajang selama 50 tahun hidupnya. Akan tetapi, setelah menghadiri pesta perayaan yang diselenggarakan oleh komunitas wanita lajang itu, Luka Sukma banyak mendapati kejadian aneh, membingungkan, sekaligus merubah kehidupannya.

Potret Marginalisasi Perempuan

Hal paling mencolok yang dapat dilihat dalam novel besutan Artie Ahmad ini adalah pada penjabaran alur ceritanya. Penulis menggabungkan penulisan alur maju dan mundur dalam menggambarkan bagaimana kehidupan Luka Sukma, orang-orang di sekitarnya, serta lingkungan tempatnya tumbuh berjalan.

Artie dengan sukses menyoroti kehidupan masa muda sosok Ibunda Luka Sukma yang mulai dari awal hingga akhir cerita tidak pernah sekali pun disebutkan nama aslinya. Hanya Ibu, itulah panggilannya. Penggunaan penyebutan Ibu alih-alih memperkenalkannya dengan nama aslinya sebenarnya cukup unik.

Hal tersebut menggambarkan bagaimana peran sosok Ibu dalam kehidupan Luka Sukma. Entah seperti apa pun latar belakang ibunya, siapa nama aslinya, bagaimana masa lalunya sebelum ia melahirkan Luka Sukma, itu tidak lagi memiliki makna. Sebab, di mata Luka Sukma, sosok Ibu hanyalah ibunya. Ibarat rumah, ibunya akan selalu menjadi tempatnya berpulang.

Apabila menyoroti pada bagian flashback kehidupan masa muda sosok Ibu dari Luka Sukma, maka kita akan menemukan potret nyata dari adanya marginalisasi pada kaum perempuan. Tepatnya di Waru Sari, sebuah desa di wilayah Jawa Tengah yang merupakan tempat masa kecil di mana Luka Sukma dan ibunya menetap. Desa tersebut memiliki pemahaman yang diwariskan secara turun-temurun mengenai kodrat perempuan sebagai ibu rumah tangga.

Pemahaman atau pemikiran yang telah mengakar selama bertahun-tahun lamanya di desa tersebut meyakini bahwa anak perempuan tidak layak mendapatkan pendidikan tinggi. Tetua desa di sana beranggapan bahwa tidak akan ada manfaat yang didapatkan apabila seorang anak perempuan disekolahkan setinggi mungkin. Waru Sari menganut paham bahwa anak perempuan tidak lebih berharga dibandingkan anak laki-laki dan bahwa mereka ditakdirkan untuk mengurusi dapur, bukan duduk di bangku sekolah.

Alhasil, banyak anak perempuan yang lahir di desa tersebut hanya mampu mengenyam pendidikan hingga sekolah menengah pertama saja. Selepas masa itu usai, mereka langsung ditawarkan kepada pihak lain untuk dipinang  menjadi seorang istri. Kembali kepada paham dan kepercayaan yang dianut oleh warga desa tersebut, bahwa perempuan akan kembali ke rumah, ke dapur, merawat suami dan anak-anaknya.

Nasib berbeda terjadi pada ibu dari Luka Sukma yang melawan kehendak ayahnya untuk dinikahkan sesuainya ia mengenyam bangku sekolah menengah pertama. Alhasil, meskipun banyak menerima penolakan pada awalnya, sang Ibunda pun berhasil bertahan hingga mengenyam bangku Sekolah Menengah Atas.

Lain nasib dengan ibunda Luka Sukma, ada warga desa lain yang harus menghadapi kemarahan keluarganya akibat menolak dinikahkan selepas lulus dari sekolah menengah pertama. Tak ayal, ia pun dikurung paksa oleh keluarganya. Fenomena yang ada pada novel ini menunjukkan bahwa tidak hanya perempuan mendapatkan perlakuan marginalisasi di mana mereka dihalangi untuk mendapatkan haknya, tetapi perempuan juga mendapatkan intimidasi dan ancaman ketika memperjuangkan apa yang mereka inginkan.

Sungguh ironis, bukan? Kalimat ‘pendidikan ialah hak segala bangsa’ rupanya hanyalah bualan semata. Perempuan alih-alih dianggap setara, malah dianggap merupakan entitas yang tidak memiliki nilai. Praktik-praktik seperti ini mungkin saja masih terjadi di beberapa daerah dan tidak terdengar hingga telinga kita di sini.

Abstraksi dalam Realitas Kehidupan

Artie Ahmad mengemas penceritaan novel ini dengan menunjukkan dua sisi realitas yang berbeda. Pertama pada realitas kehidupan Luka Sukma ketika ia berusia 24 tahun dan yang kedua, realitas lain yang Artie hadirkan lewat sosok Luka Sukma dewasa di akhir usia 50 tahun.

Diceritakan bahwa kehadiran sosok Luka Sukma dewasa merupakan bentuk paradoks dari kehidupan yang tengah Luka Sukma muda jalani. Luka Sukma dewasa banyak memberikan petuah kehidupan pada dirinya di masa muda. Pada awalnya, apabila tidak terlalu teliti ketika membaca, maka pembaca akan mengalami kebingungan singkat mengenai penggambaran dua kehidupan Luka Sukma yang sangat berkebalikan ini.

Namun, Artie Ahmad selaku penulis berhasil mengemas gaya penceritaan novelnya dengan bahasa yang lugas serta jelas. Ia menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan acapkali dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Alhasil, pembaca lebih mudah dalam memahami keseluruhan alur dari novel ini.

Tidak berhenti di situ, dengan menghadirkan dua realitas yang sangat berbanding terbalik antara kehidupan Luka Sukma muda dan dewasa, Artie juga berhasil membuat pembaca terus menebak-nebak dari awal hingga akhir cerita mengenai bagaimana bisa dua sosok yang berbeda usia bisa hidup di waktu yang bersamaan, saling berinteraksi antara satu sama lain pula. Dari situ, Artie mengajak pembaca untuk menyelami misteri realitas dua kehidupan Luka Sukma yang ia tampilkan dalam novel terbitan tahun 2022 ini.

Perempuan dalam Kemelut Asmara

Romansa tentu menjadi bumbu yang menarik pada sebuah cerita. Begitu pula pada novel dengan total 183 halaman ini. Namun, romansa dalam novel ini hadir jauh dari kata manis layaknya kehidupan asmara pada umumnya. Penulis menghadirkan realitas kehidupan pasangan suami istri yang tidak selalu tentram, melainkan juga diwarnai kemelut pertengkaran yang silih berganti.

Adegan-adegan yang menggambarkan bentuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) beberapa kali disisipkan. Artie dengan sukses menggambarkan realita kehidupan perempuan di mana ketika mereka telah terikat dalam naungan pernikahan, selalu menjadi sosok yang harus mengalah, bungkam, dan menerima segala bentuk perlakuan dari suaminya. Bahkan jika itu termasuk tamparan dan paksaan untuk melakukan hubungan badan setelah mereka disakiti secara fisik dan mental berkali-kali.

Melalui buku ini, Artie seolah berusaha memberikan peringatan pada perempuan bahwa menjalin hubungan asmara bukan berarti menyerahkan keseluruhan hidup kita pada seorang pria. Ikatan pernikahan tidak membuat segala bentuk pemaksaan akan diri kita menjadi suatu hal yang layak untuk dimaklumi. Tubuh dan perasaan itu tetaplah milik kita dan perempuan selalu bisa melawan atas segala bentuk penjajahan pada diri mereka yang didasarkan atas nama cinta.

Artie Ahmad sebagai penulis banyak menghadirkan kalimat-kalimat yang begitu menarik untuk dikupas lebih lanjut mengenai makna di baliknya. Salah satu kalimat dalam novel ini yang begitu membekas di ingatan adalah ‘bagian paling purba dari peradaban manusia adalah cinta’. Entah bagaimana kalian akan memaknai kalimat tersebut.

Meskipun memiliki tema dan gaya penceritaan yang terbilang cukup unik, sayangnya masih cukup sering ditemui kesalahan-kesalahan penulisan di dalamnya. Hal tersebut sangat memengaruhi kenyamanan dalam membaca, sehingga bahkan kesalahan kecil seperti tertukarnya susunan huruf dalam sebuah kata merupakan suatu hal yang perlu diperhatikan dengan lebih teliti oleh tim editor.

Terakhir, novel besutan Artie Ahmad ini memuat kisah Luka Sukma yang berputar pada perempuan dan segala permasalahan dalam hidup mereka. Namun, rupanya permasalahan-permasalahan itu tak hanya bersumber dari diri mereka sendiri, tetapi juga orang lain dan lingkungan sekitarnya.

(Visited 42 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswi Ilmu Komunikasi angkatan 2023 yang saat ini sedang menjabat menjadi staf tetap Divisi PSDM LPM Perspektif 2025. Penggemar garis berat permen Chupa Chups.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?