Mentari pagi di Jawa selalu datang dengan intensitas yang sama, tak pernah ragu membakar kulitku. Aku berdiri di ambang pintu penginapan, menyisip kopi hitam pekat buatan ibu Bilal. Aroma kopi bercampur dengan bau rempah dan asap kendaraan yang samar, kontras dengan bau amis pasar ikan yang kemarin menempel di ingatanku. Sekarang, aku bebas. Bebas secara legal, setidaknya di mata hukum Indonesia yang bobrok ini. Sebuah senyum tipis terukir di bibirku. Udin, si bajingan pengecut itu, memang menepati janjinya. Hidup di sini terasa seperti game baru yang siap aku mainkan, dengan aturan yang lebih fleksibel dan karakter-karakter yang mudah ditebak.
Penginapan ini, meskipun kumuh dan tua, kini menjadi markas sementaraku. Ruangan sempit dengan jendela tak berkaca adalah privasiku, tempat aku bisa merenung dan merencanakan langkah selanjutnya. Setelah membunuh Ibnu, aku merasa sedikit lega, tapi rasa bosan mulai merayapi. Aku bukan tipe orang yang bisa berdiam diri terlalu lama. Kemanusiaan? Normalitas? Kata-kata itu terdengar asing di telingaku, seperti bahasa yang sudah lama tidak aku gunakan. Mungkin Bilal benar, aku memang berbeda dari turis kebanyakan. Aku datang bukan untuk liburan, melainkan untuk hidup—atau lebih tepatnya, untuk melanjutkan “hidup” versiku.
Aku melihat Bilal keluar dari warung, mengangkut beberapa keranjang sayur. Dia bersenandung kecil, seolah-olah tak ada beban di pundaknya. Wangi asam keringat dan aroma bawang yang khas darinya kembali tercium. Dia melirik ke arahku, melemparkan cengiran lebarnya.
“Selamat pagi, Belial! Tidur nyenyak?” tanyanya, suaranya yang sedikit nyaring itu terdengar riang.
Aku hanya mengangguk pelan. Dia terlalu polos, terlalu transparan. Sebuah target yang terlalu mudah untuk dipecahkan. Keputusanku untuk tidak menjadikannya rekan kerja adalah keputusan yang tepat. Dia tidak akan mengerti, atau lebih tepatnya, tidak akan mampu menanggung beratnya duniaku. Dunia yang penuh pisau bergerigi dan darah yang tak kunjung kering. Dunia yang penuh dengan jiwa-jiwa yang kurenggut tanpa penyesalan.
“Mau ikut ke pasar, Belial? Banyak hal menarik di sana. Mungkin kamu bisa menemukan sesuatu yang kamu suka, bukan ikan mati lagi, hahaha!” candanya, kemudian tertawa renyah.
Aku terdiam sejenak. Pasar? Sebuah tempat yang ramai, penuh interaksi, dan potensi.
“Baiklah,” jawabku singkat. “Tapi bukan untuk membeli ikan.”
Senyum Bilal melebar. Dia tampaknya senang dengan responsku. Aku mengikuti langkahnya, menyusuri gang-gang sempit dan jalanan yang ramai. Setiap langkahnya penuh energi, berbanding terbalik dengan langkahku yang selalu terukur dan penuh perhitungan. Orang-orang di sini memang ramah, sesuai apa yang pernah internet katakan padaku. Mereka tersenyum, menyapa, bahkan menawarkan bantuan. Aku masih merasa asing dengan semua keramahan ini. Di Eropa, tatapan mata yang aku dapatkanf adalah campuran ketakutan, jijik, atau bahkan tantangan. Di sini, yang aku lihat adalah rasa ingin tahu dan ketulusan yang membingungkan.
Kami tiba di pasar yang lebih besar, bukan pasar ikan yang amis itu. Di sini, ada deretan toko yang menjual berbagai macam barang: pakaian, makanan, rempah-rempah, dan barang antik. Bau-bauan baru menyerbu indra penciumanku, campuran wangi manis buah, bumbu masakan, dan aroma dupa yang tipis. Mataku menyapu sekeliling, memindai setiap wajah, mencari anomali, mencari celah.
“Belial, lihat ini!” Bilal menunjuk ke arah sebuah lapak yang menjual ukiran kayu. “Ini dibuat oleh pamanku. Dia sangat berbakat!”
Aku mendekat, mengamati ukiran-ukiran itu. Bentuknya sederhana, tetapi detailnya cukup rumit. Tanganku terulur, menyentuh permukaan kayu yang halus. Ada energi aneh yang terpancar dari karya seni itu, sebuah sentuhan kemanusiaan yang nyaris terlupakan bagiku.
“Apakah ini bisa menjadi hadiah?” tanyaku, tanpa sadar.
Bilal menatapku terkejut, kemudian tersenyum lagi. “Tentu saja! Untuk siapa?”
Aku terdiam. Untuk siapa? Aku tidak punya siapa-siapa. Keluargaku … aku sendiri yang mungkin telah membunuh mereka. Teman? Kata itu terdengar seperti lelucon di bibirku. Rekan kerja? Udin adalah sebuah alat, bukan rekan. Mungkin aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya memberikan sesuatu yang tulus, meskipun aku tahu ketulusan itu tak pernah ada dalam diriku.
“Tidak ada,” jawabku datar. “Hanya ingin tahu.”
Bilal hanya mengangguk, seolah-olah sudah terbiasa dengan sifat anehku. Dia kemudian bercerita tentang kehidupannya di pulau ini, tentang cita-citanya untuk memiliki warung makan yang lebih besar, tentang impiannya untuk melihat adiknya kuliah. Dia berbicara tanpa henti, dan anehnya, aku tidak merasa terganggu. Suaranya yang sedikit nyaring itu justru menjadi semacam latar belakang yang menenangkan, mengisi kekosongan dalam kepalaku.
Saat kami berjalan melewati kerumunan, mataku menangkap siluet yang familier. Seseorang dengan postur tegap, mengenakan kemeja rapi berwarna gelap, berdiri di depan sebuah toko elektronik. Gerak-geriknya terukur, tapi ada aura ketegangan di sekelilingnya. Sosok itu tampak berbicara dengan seseorang di telepon, sesekali melirik sekeliling dengan waspada.
Itu dia. Udin.
Dia tidak melihatku, terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Aku menarik Bilal sedikit ke belakang, menyembunyikan diri di balik tumpukan karung beras. Bilal menatapku dengan bingung.
“Ada apa, Belial?”
“Tidak apa-apa,” bisikku. “Hanya … melihat sesuatu yang menarik.”
Udin tampak tidak sendirian. Ada beberapa pria lain yang berdiri tidak jauh darinya, juga mengenakan pakaian rapi. Mereka terlihat seperti pengawal, atau mungkin anak buahnya. Ini menarik. Udin tidak sesampah yang kubayangkan. Dia memiliki jaringan, dan itu bisa menjadi keuntungan bagiku.
“Aku akan kembali ke penginapan lebih dahulu,” kataku pada Bilal. “Ada yang harus aku lakukan.”
Bilal terlihat kecewa, tetapi dia tidak bertanya lebih lanjut. “Baiklah, Belial. Sampai jumpa di penginapan nanti.”
Aku berbalik, menyelinap menjauh dari keramaian pasar. Pikiranku mulai menyusun rencana. Udin adalah benang merahku ke dunia bawah tanah di tempat ini. Dia pasti memiliki informasi, koneksi, atau bahkan misi-misi baru yang bisa memberiku “hiburan”. Rasa bosan yang tadi merayap kini digantikan oleh gelora.
Aku mempercepat langkahku, kembali ke penginapan yang kumuh. Di sana, aku akan menunggu malam tiba. Aku akan membiarkan kopi dan rokok marijuana menemaniku, membangkitkan kembali naluri “Sang Perebut Jiwa” yang sudah terlalu lama bersembunyi di balik topeng orang asing yang kebingungan.
Darah Ibnu sudah kering, tetapi ada lautan darah baru yang menungguku di tanah asing ini. Dan kali ini, aku tidak akan hanya menjadi alat. Aku akan menjadi pemain utama. Aku akan menemukan “normalitasku” sendiri di tengah kekacauan ini, di tengah kehinaan manusia-manusia di negara ini yang mudah dipecahkan.
Aku tiba di penginapan. Ibu Bilal menyapaku dengan senyum layu. Aku membalasnya dengan anggukan kecil, kemudian langsung menuju kamarku. Kunci berkarat itu terasa dingin di tanganku. Begitu masuk, aku mengunci pintu dan mengeluarkan pisau bergerigi dari saku celanaku. Pisau itu berkilauan di bawah cahaya remang-remang dari jendela sempit. Aku menyentuh bilahnya yang tajam, merasakan familiaritas yang menenangkan. Darah, itu adalah satu-satunya hal yang terasa nyata bagiku.
Aku akan mencari tahu lebih banyak tentang Udin dan jaringannya. Aku akan mencari tahu siapa saja yang terlibat dalam penyelundupan narkoba itu. Dan kemudian, aku akan memilih. Memilih siapa yang akan menjadi korban selanjutnya, siapa yang akan “disingkirkan dari bumi”. Indonesia, negeri yang ramah ini, akan segera mengenal Sang Perebut Jiwa.




