Terakhir kali aku bertemu dengan Kakek, aku pernah diajak olehnya pergi ke danau di dekat rumah tua miliknya. Kami membawa alat pancing dan sampan kayu buatan sendiri. Memang sejak kecil, kata Ayah, Kakek senang membuat barang-barang di rumah.
Sesampainya kami di danau, Kakek segera melempar sampan kayu miliknya ke air tenang di hadapanku. Saat ia bersiap turun dan melangkah masuk ke sampannya, seketika itu aku melontarkan pertanyaan yang tercipta di ujung kepalaku.
“Kek, kok Kakek bisa sih bikin alat bahkan sampan sendiri?”
Kakek tersentak sejenak mendengarku, ia berhenti sembari berdiri dan berbalik arah menghadapku. Lantas ia menjawab, “Loh iya dong, kalau enggak bisa, nanti Kakek enggak sukses-sukses. Ini namanya Kakek memaksa diri Kakek.”
Senyum sumringahnya tergambar jelas di wajah setengah keriputnya. Aku tertawa singkat sebelum akhirnya kembali bersuara, “Terus, pernah gagal enggak, Kek?”
Kakek mengambil waktu untuk berpikir sejenak, dahi yang sudah berkerut di wajahnya ia makin kerutkan seketika. Beberapa detik berlalu, ia berbicara, “Wah, pasti pernah.”
“Terus, Kakek dapet bahan-bahannya dari mana sih?”
Kakek menjawab, “Kakek cari sendiri, atau enggak, dikasih pemerintah.”
“Kok bisa dikasih pemerintah, Kek?” Rengut wajahku kebingungan.
“Soalnya kan gampang dibohongin. Kakek bilang aja lagi kena musibah banjir, atau enggak, pohon tumbang,” tutur Kakek sembari tertawa kecil.
“Terus, sampan punya Kakek, pasti bahannya dari pemerintah ya?”
“Iya, kenapa emang, Dik?”
“Itu dia mau tenggelam.” Arah mataku melirik ke sampan punyanya yang sudah setengah terbenam air danau keruh.
“Loh, Dik?! Kok enggak bilang Kakek dari tadi?”
Ia segera mengangkat sebelah kakinya yang sudah tersentuh air dan melangkah mundur dari sampan miliknya, kini hanyut dilalap danau.
“Kakek sih percaya pemerintah!” ejekku sambil menyedekapkan tangan di depan badan. Kami lanjut tertawa seraya melihat gelembung air makin menutupi sampan berwarna merah menyala di depan kami.





