Lompat ke konten

Wanitaku

Ilustrasi oleh Puri
Oleh: Ryenk Retno*

Namaku Jalang. Itu bukan nama pemberian ayah dan ibuku. Sejujurnya aku sudah mulai lupa siapa nama asliku. Kak Arlan tidak suka nama pemberian orang tuaku, katanya itu tidak cocok dengan sifatku. Itu membuatku bertanya-tanya, apakah sifatku begitu hina sehingga ia sering memanggilku begitu?

Kak Arlan adalah kekasihku, sudah berapa bulan ya? Maaf, ternyata sudah dua tahun ini aku menjadi wanitanya. Itu panggilan yang manis, bukan? Pada awalnya aku selalu tersipu malu, pipiku merona dengan cepat, senyumku terbit dengan instan, dan mataku—mataku langsung memandang tepat ke bola matanya yang sehitam jelaga dengan binar yang tak mungkin bisa aku sembunyikan. Hatiku berbunga-bunga dan aku selalu jatuh cinta lagi dan lagi setiap kali mendengar panggilan itu keluar dari bibirnya.

Aku lupa kapan pastinya perasaan bahagia yang meletup-letup dalam hatiku itu hilang tak berjejak. Perasaan itu tidak pernah muncul kembali seolah itu tak pernah menjadi perasaan yang selama ini aku nanti-nantikan kemunculannya. Anehnya, secara perlahan-lahan muncul suatu perasaan ketakutan, tidak nyaman, tidak tenang, tidak bahagia, dan bahkan kekecewaan yang aku rasakan setiap kali berdekatan ataupun mendengar Kak Arlan berbicara kepadaku.

“Aku nggak suka kamu dekat-dekat sama Ryan,” ujar Kak Arlan suatu ketika.

Aku tidak tahu apa yang membuatnya begitu tidak senang malam itu. Aku dan Ryan tidak sedekat itu, pun seharusnya dia tahu kalau aku tidak mungkin berpaling darinya dengan semudah itu. Wajahnya yang selama ini tidak pernah sedetik pun kehilangan senyuman, saat itu berubah menjadi begitu dingin. Dahinya mengerut samar dan dia enggan menatap mataku, mata yang selama ini selalu dipandangnya dengan penuh cinta.

“Kita satu kelompok buat tugas, kak.” Itu satu-satunya pembelaan yang keluar dari bibirku malam itu, karena memang benar begitu kenyataannya. Namun, hanya kilat ketidakpercayaan yang muncul di matanya setelah aku mengucapkan itu.

Dia memegang pundakku dan berbisik tepat di telingaku, “Kamu punya mulut untuk menolak satu kelompok sama dia atau kamu tiba-tiba jadi bisu sehingga nggak bisa menolak?”

Iya, aku tiba-tiba menjadi bisu. Aku hanya mampu diam terpaku setelah itu. Rasanya ada suatu benda tak kasat mata yang menusuk jantungku saat itu, melukainya hingga dapat kurasakan sakit yang begitu pedih dalam jiwaku. Rasanya seperti dihujam berkali-kali dengan sebuah pisau. Andaikan perasaan tersebut dapat divisualisasikan dalam gambar, maka jantungku pasti telah mengucurkan banyak darah.

Luka itu sendiri tidak pernah berkesempatan untuk sembuh. Tiba-tiba saja semua hal menjadi begitu menyakitkan. Aku tidak tahu di mana letak kesalahan itu berada, aku tidak tahu di mana letak kamera yang mungkin sengaja dipasang Kak Arlan untuk membuat konten tipuan itu diletakkan. Aku tidak tahu kenapa mulai saat itu dia berubah begitu dingin dan kasar kepadaku, aku tidak tahu kapan dan di mana aku membuat kesalahan yang tega membuatnya memanggilku dengan sebutan ‘jalang’ untuk pertama kalinya. Aku tidak tahu….

“Kenapa kamu gak paham kalau aku nggak suka kamu pakai rok dan makeup ke kampus? Kamu tuli apa gimana? Bukannya aku udah sering bilang begitu ke kamu?”

Sore pada bulan kedua tahun itu begitu mencekam. Suara bentakan yang sudah seminggu terakhir sering memenuhi gendang telingaku itu kembali terdengar lagi kala itu.

Aku hanya mampu mendongak menatap kekasihku dari kursi taman tempat kami singgah. Menatapnya dengan pandangan bertanya, aku benar-benar tidak paham dengan apa yang ia katakan. Seketika, aku pandangi lagi rok berwarna putih dengan blazer hitam yang aku kenakan ke kampus sebelumnya, lalu kembali menatap ke arah Kak Arlan masih dengan pandangan bertanya.

“Gak ada yang salah sama pakaian aku. Ini pakaian normal yang dipakai mahasiswa ke kampus,” ucapku dengan lugas.

Benar, aku tidak merasa melakukan kesalahan, aku berhak protes dan bertanya di mana letak kesalahanku.

Dengusan samar terdengar di indera pendengaranku. Kak Arlan mengusap wajahnya dengan kasar, ia memegang pundakku dan memaksaku berdiri dengan kasar. Ia mengelus puncak kepalaku dengan lembut, membuatku mendongak menatap wajahnya dengan raut kebingungan. Tiba-tiba saja rasa sakit menyeruak dari kepalaku, rambutku ditariknya dengan kasar hingga membuatku meringis dan berkaca-kaca.

“Aku nggak suka punya cewek kaya jalang. Kamu mau ganjen ke siapa? Ryan?” bisiknya pelan tepat di telingaku.

Air mataku tanpa bisa dicegah jatuh dengan begitu cepat, pandanganku memburam tapi aku ingat betul senyuman culas muncul di wajahnya kala itu. Senyuman yang berbeda dari apa yang selalu ia tunjukkan padaku, senyuman tanpa adanya sentuhan rasa hangat sedikitpun di dalamnya.

“Jangan panggil aku jalang, aku punya nama. AKU BUKAN JALANG!” Tanpa bisa kucegah, saat itu aku berteriak marah tepat ke wajahnya, membuat senyumannya luntur seketika.

Ia melirik ke sekitar sebelum menarikku masuk ke dalam kursi penumpang mobilnya dan mendorongku dengan kasar. Bisa kurasakan kepalaku membentur pinggiran dashboard dengan cukup kencang, pening segera melandaku. Air mataku masih terus mengalir di tengah deraan rasa sakit yang berasal dari dahiku. Mungkin benturan itu menimbulkan darah di sana, karena setelah itu kurasakan ada sesuatu mengalir dari dahiku.

Kak Arlan menarik wajahku mendekat ke arahnya setelah ia berhasil masuk ke kursi kemudi, melihat wajahku dengan saksama sebelum terkekeh pelan sambil berucap singkat, “Kamu jual muka dan badan kaya jalang ke Ryan. Kenapa kamu nggak jual juga muka dan badanmu ke aku?”

Belum sempat aku bereaksi atas ucapannya itu, dia tiba-tiba menarik wajahku semakin dekat ke arahnya dan mencium bibirku dengan paksa. Aku memberontak dengan cepat setelah menyadari apa yang terjadi, tanganku berusaha mendorongnya menjauh. Namun, tangannya kembali menarik rambutku sehingga aku semakin mendekat ke arahnya. Dapat aku rasakan asin air mataku pada lidahku, bercampur menjadi satu dengan rasa amis darah dari bibir bawahku yang dapat kurasakan telah sedikit robek akibat ciuman kasar itu.

Aku tidak bisa mengingat dengan jelas kejadian setelahnya. Rasanya tubuhku menjadi lumpuh begitu saja, aku sudah tak punya kuasa untuk memberontak lagi ketika tiba-tiba saja Kak Arlan sudah membawaku masuk ke dalam sebuah kamar sepulang dari taman sore itu. Bukan, itu bukan kamar kost-ku. Itu bukan kamarku yang berada di rumah. Itu bukan kamar Riani, teman satu kost yang sering aku kunjungi. Ingatan itu agak samar, tapi detik demi detik yang kulalui saat itu seolah memberikan kesan dan kenangan tersendiri setiap aku berusaha mengingatnya.

Masih terdengar jelas dalam ingatanku akan teriakan-teriakan yang keluar dari bibirku saat bagaimana dia mendorongku ke atas kasur, bagaimana bunyi putaran kunci di pintu memenuhi indera pendengaranku, bagaimana aku berusaha lari mencapai gagang pintu itu sambil berteriak dan bercucuran air mata sebelum akhirnya ia menendang tubuh ringkihku ke samping hingga membentur sandaran kasur.

Dapat aku dengar lagi dan lagi bagaimana tangisanku memenuhi kamar yang penuh dengan corak warna abu-abu itu saat ia menyeretku kembali ke arah kasur, saat aku berusaha menendang tubuhnya yang mengangkat tubuhku lalu membaringkanku di atas kasur. Bagaimana tangannya membuka dengan kasar blazer yang membalut tubuhku, dan tamparan. Iya, tamparan. Tamparan pertama saat aku meludahi wajahnya kala itu, disusul tamparan kedua saat aku menggigit pergelangan tangannya, dan tamparan ketiga saat aku memberontak ketika ia berusaha membuka resleting dari rok putih yang tengah aku kenakan.

Kemudian, kemudian hanya ada teriakan dan tangisan yang memenuhi ingatanku. Rasanya seperti aku telah mati, anehnya bukan tubuhku yang merasakan sakit. Dadaku begitu sesak, aku tidak bisa bernapas dengan baik, aku tidak bisa menghentikan isakan tangis setiap kali berusaha mengingat kejadian itu. Aku telah mati.

Aku mati hari itu. Aku mati setelah hari itu, pada hari-hari berikutnya, bulan-bulan di belakangnya, dan tahun-tahun yang mengikutinya. Kukira tidak akan ada hari yang lebih menyakitkan dan mampu membunuh diriku selain hari itu.

Hingga suatu ketika sebuah pertanyaan mendatangiku, “Kenapa kamu mau-mau saja disentuh sama dia? Sebenarnya itu tindakan suka sama suka, bukan? Kamu hanya malu untuk mengakuinya. Perempuan suka sekali berbohong akan perasaannya padahal mereka turut menikmati hal itu.”

Jika aku memang layak disebut jalang seperti yang diucapkan lelaki itu, maka setidaknya aku tidak akan menjadi bajingan yang hanya dapat menghakimi dan mencela manusia. Setidaknya, aku tidak akan menjadi bajingan yang menyalahkan wanita akan ketidakberdayaan mereka. Setidaknya aku tidak akan menjadi bajingan yang membunuh seseorang dengan kalimat gunjingan dan makian.

Aku mati tiga hari setelahnya.

Tiga hari setelah keadilan dibeli dan perlawanan wanita dianggap sebagai sikap jual mahal.

(Visited 38 times, 1 visits today)
*) Penulis adalah mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya angkatan 2023. Saat ini aktif sebagai staf magang divisi Litbang LPM Perspektif. Penggemar garis berat Permen Kaki Hot Hot.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?