Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Parade Warna Warna di Depan Gerbang

Ilustrasi: Gratio
Oleh: Gratio Ignatius Sani Beribe*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Siang telah jatuh dan sore mulai memancarkan jingganya ke seluruh tempat. Begitu pula Jingga-Jingga Muda yang akan bergegas keluar menuju gerbang pembebasan akan segala drama yang terjadi di dalam rumah para intelektual. Namun tak semudah itu, para Jingga Muda harus berhadapan dengan warna-warna lain seperti hijau, kuning, merah, hitam, yang sudah berparade menunggu mereka tepat di depan mulut gerbang. Parade Warna Warna kian giat menunjukan eksistensi mereka dengan berjargon, berteriak, mengibar-ngibar, merobek-robek, memprovokasi, senggol-senggolan – mungkin biar terlihat keren – demi memikat para Jingga Muda untuk mengubah warnanya seperti warna mereka.

Alhasil situasi di depan gerbang menjadi kacau, karut-marut, hingar-bingar, macet, dan tak terkendali. Tapi Parade Warna Warna tak peduli itu. Eksistensi lebih penting, pendaftar banyak lebih penting, doktrinasi lebih penting, anti-antian lebih penting, dan semua kepentingan lain mereka. Parade Warna Warna tak peduli dengan bapak-bapak ojol yang waktunya tertunda untuk menjemput rejeki, tak peduli dengan orang-orang yang ingin segera beristirahat di rumah setelah letih bekerja seharian, tak peduli dengan warga sekitar yang terganggu oleh parade mereka, tak peduli dengan kebersihan lingkungan warga yang malah dikotori oleh sobek-sobekan kertas, dan tak peduli akan para Jingga Muda yang kelelahan serta ketakutan oleh tindakan mereka. 

Sebenarnya, jika Parade Warna Warna ingin menunjukan eksistensi boleh saja, berekspresi sesuka hati boleh saja, tapi jangan hilang akan esensi, jangan minim akan simpati, dan jangan nihil akan empati. Parade Warna Warna sering melabel diri sebagai penyambung lidah rakyat, lumbung aspirasi masyarakat, tapi yang dilakukan kali ini malah tidak menunjukan hal tersebut. Seharusnya hal-hal seperti ini dilakukan dengan diskusi, tukar pikiran, dan segala bentuk lain yang membuka ruang bagi kebebasan individu dalam menentukan pilihannya – apakah ingin berwarna atau tidak. Bukan dengan promosi secara riuh dan ricuh yang malah membuat pihak lain terganggu. 

Kembali lagi, menunjukan eksistensi boleh saja, berekspresi sesuka hati boleh saja, tapi jangan hilang akan esensi, jangan minim akan simpati, dan jangan nihil akan empati.

(Visited 115 times, 2 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Tahun 2020. Saat ini aktif sebagai Pemimpin Redaksi LPM Perspektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts