Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Pulang Tanpa Alamat: Ketika Manusia Dihadapkan dengan Agama dan Kematian

Sumber: YouTube/Eko Bantoel
Oleh: Febryana Rizka Damayanti *
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Judul: Pulang Tanpa Alamat 

Durasi: 23 menit 18 detik 

Distributor: YouTube/Eko Bantoel 

Tahun Rilis: 2015 

Rumah Produksi: Lookout Pictures Indonesia

Sutradara: Riyanto Tan Ageraha 

Produser: Eko Budi Antara 

Penulis Skenario: Riyanto Tan Ageraha 

Pemeran: Rukman Rosadi, Ibrahim Yulianto, Hamdi Salad, Watik Wibowo, Sukamto, Nurul Hadi, Brisman H.S, Ibnu Widodo  

Setahuku orang itu hanya baik dan buruk, hitam sama putih. Nggak ada urusan sama masalah kafir. Sudah seharusnya kan kalau orang mati itu dikubur. Kucing mati aja dikubur – Bondet 

Film pendek yang diadaptasi dari cerpen karya Abidah El Khalieqy pada tahun 2010 sedang  menjadi sorotan publik di Twitter baru-baru ini. Bagaimana tidak, pesan yang disampaikan  dalam film ini sangat mendalam hingga mampu membuat penonton merenungkan kembali  pesan tersebut dalam kehidupan. Di bawah tangan Riyanto Tan Ageraha, film ini mampu  mendapat pembiayaan dari Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada program pendanaan film tahun 2015 dan sukses ditonton oleh 33 ribu orang.

Perjalanan Pulang Berujung Tragedi 

Cerita diawali dengan perjalanan Remo dan Bondet sebagai preman yang baru saja pulang  setelah mengeksekusi korbannya. Namun, di tengah perjalanan mendadak Remo meninggal  dunia. Melihat hal tersebut, Bondet sebagai tangan kanannya bingung dan memutuskan untuk  turun di tempat sepi sambil membawa mayat Remo. Ia sangat kebingungan karena tidak tahu  ke mana tujuan Remo, di mana asal kota Remo, bahkan siapa keluarganya. Bondet juga tidak  mungkin membawa mayat Remo ke tempatnya bekerja sebab nanti ia bisa dituduh membunuh  rekannya sendiri.  

Kebuntuan berpikir itu akhirnya membawa Bondet untuk menelpon rekannya satu lagi bernama  Durrahman. Namun, di dalam mobil keduanya malah bertikai. Durrahman ingin mayat Remo  dibuang saja di hutan dengan alasan bahwa Remo hanyalah seorang preman tanpa identitas. Selain itu, ia juga ingin namanya bersih dari urusan ini karena Durrahman sedang mencalonkan  diri sebagai anggota legislatif.  

Hingga pada akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke rumah Tohir, mantan preman yang  kini menjadi ustad. Bukannya mendapat solusi, justru Tohir mempertanyakan apa agama  Remo. Suasana jadi semakin membingungkan ketika ditemukan 4 Kartu Tanda Penduduk milik Remo dengan  agama berbeda. Langsung saja Tohir menolak untuk memakamkan sebab agamanya tidak jelas.  

Beralih ke orang selanjutnya yaitu seorang pejabat. Ia mau menguburkan Remo secara rahasia  dengan syarat harus ada uang muka. Namun, untuk kesekian kalinya mereka harus pulang  dengan tangan kosong karena uang sogokan masih kurang sepuluh juta. Melihat keadaan yang  semakin genting ini, akhirnya membuat Bondet memutuskan untuk membuang mayat Remo di sungai. Dibalut dengan rasa bersalah dan suara azan subuh, film berakhir dengan keadaan yang mengiris hati penonton. 

Manusia Harus Kembali dengan Cara yang Layak 

Tentunya kita semua pernah bertanya-tanya soal agama dan kematian setidaknya sekali seumur  hidup. Film ini dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan rapi tanpa menyinggung salah satu pihak. Riyanto tampaknya ingin mengajak penonton untuk tidak melihat manusia berdasarkan apa agamanya dan apa status sosialnya. Ketika manusia meninggal, sudah bukan jadi urusan tentang bagaimana cara ia dikubur dan sebagainya. Namun, kita sebagai manusia yang beradab harus berusaha mengembalikan mereka ke pencipta-Nya dengan cara yang layak. Walaupun  ending yang disuguhkan dalam film ini menyuguhkan adegan yang berbeda. 

Selain itu, kita perlu mengapresiasi soal pengembangan karakter Bondet yang sangat baik.  Bagaimana ia menjiwai peran sebagai seorang preman yang status sosialnya dicap buruk oleh masyarakat, namun ia tetap memiliki sisi manusiawi yang mungkin kita tidak pernah melihat  hal tersebut. Terlihat dari bagaimana ia memperlakukan Remo layaknya kakak, hingga rasa  tidak tega yang muncul dalam dirinya ketika rekannya ingin dibuang begitu saja.  

Lalu, rasa penyesalan yang ditampakkan Bondet di akhir film benar-benar merenyuhkan hati  penonton. Seakan kita dibawa untuk memahami bagaimana kondisi Bondet saat itu yang  ketakutan, kebingungan, menyesal, dan berbagai perasaan yang bercampur aduk di dalam  dadanya hingga ia terpaksa untuk membuang mayat Remo. Di akhir, Bondet pun juga mendoakan Remo supaya ia diberikan surga karena ia yakin bahwa Remo adalah orang yang  baik. 

Kesuksesan film ini juga tak lepas dari pemilihan set cerita yang sesuai. Latar malam hari  membuat kita sebagai penonton ikut merasakan bagaimana tegangnya situasi pada saat itu  ketika Remo mendadak meninggal dan pertikaian di dalam mobil yang berujung pada saling  menyalahkan. Kemudian, latar hutan yang gelap membuat kita ikut merasakan betapa sunyinya  malam itu dan rasanya semakin mistis karena Bondet dan Durrahman membawa mayat  manusia di dalam mobilnya. 

Secara keseluruhan, film ini sangat cocok ditonton sebagai renungan. Pesan moral yang sangat  dalam menjadi kunci andalan yang menjadikan film ini sukses ditonton oleh beribu orang.  Seperti yang kita tahu, jarang sekali ada film yang berani mengangkat masalah soal agama dan  kematian, sehingga menjadikan film ini unik. Sekali lagi, tanpa berpikir panjang, film Pulang  Tanpa Alamat memang pantas untuk mendapat apresiasi yang tinggi dari para penontonnya.

(Visited 57 times, 3 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswa Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya tahun 2021. Sekarang aktif sebagai anggota Divisi Redaksi LPM Perspektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts