Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Tak Kunjung Selesai, Mahasiswa Pertanyakan Mangkraknya Pembangunan RSGM UB

Mangkrak -- Tampak depan Rumah Sakit Universitas Brawijaya (PERSPEKTIF/Vani)
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Malang, PERSPEKTIF – Pembangunan Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Brawijaya (RSGM UB) mengalami keterlambatan dari target. Pembangunan rumah sakit yang ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan kurikulum kompetensi di bidang kedokteran gigi ini dilaksanakan pada tanggal 30 Oktober 2017 dan direncanakan selesai pada tahun 2020. Namun sejak pandemi Covid-19, pembangunan RSGM mangkrak dan tak kunjung selesai sampai saat ini.

Mohammad Sasmito Djati selaku Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan, Kerjasama, dan Internasionalisasi menyatakan bahwa pandemi Covid-19 menjadi faktor utama penghambat pembangunan RSGM karena konsentrasi anggaran-anggaran banyak dipindah untuk penanganan Covid-19 dan terdapat aturan di awal pandemi bahwa tidak boleh ada kegiatan pembangunan sampai akhir 2021. Ia juga menambahkan mangkraknya pembangunan RSGM berpengaruh kepada mahasiswa FKG. 

“Mempengaruhi memang, terutama untuk mahasiswa FKG. Sehingga agak terlambat (mahasiswa FKG, red) untuk lulus. Tapi ya karena aturan dan seterusnya mereka agak terlambat. Sehingga sekarang setelah redesign itu, Insya Allah pada tahun ini kita melanjutkan kembali (pembangunannya, red)”, ujarnya (31/5)

Sementara itu, Muhammad Rizky Andrian selaku Staf Ahli Kajian Strategis BEM FKG UB  mengaku sudah beberapa kali mengadakan diskusi publik dengan pihak dekanat dan pihak pengelola atau direktur RSGM-nya sendiri bahwa dana dari pembangunan RSGM UB sepenuhnya dikelola oleh rektorat. 

“Ketika kami menanyakan atau mengkonfirmasi mengenai pembangunan RSGM ini kepada dekanat, tentu jawaban dari dekanat ‘Ya kita mengerjakan sesuai dana yang tersedia oleh pihak rektorat’ seperti itu. Kemudian kami juga mengkonfirmasi dari pihak rektorat, dari pihak rektorat ini tidak, artinya apa ya kurang transparansi serta keterbukaan data karena dari pihak dekanat itu membatasi data pembangunan RSGM,” jelas Rizky (21/5).

Ia lalu melanjutkan ketika mahasiswa FKG meminta data untuk mengkaji pembangunan RSGM UB, dari pihak dekanat tidak berani memberikan data dengan alasan urusan pembangunan sepenuhnya dari rektorat.

“Mungkin hal yang paling lumrah yang disampaikan oleh pihak dekanat itu pasti ‘sabar, sabar, dan tunggulah’ itu selalu jawaban yang diberikan oleh pihak dekanat,” ucap Rizky.

Menanggapi mangkraknya RSGM, Ervina Maria Chrisanti, mahasiswi FKG UB 2021 mengaku sedikit kecewa karena merasa diberi harapan semata terkait pembangunan gedung ini.  

“Walaupun saya angkatan 2021, namun wacana pembangunan RSGM tentu membawa kabar menggembirakan bagi seluruh KM FKG UB. Bahkan mungkin hal ini menjadi salah satu daya tarik calon mahasiswa FKG UB karena menunjang infrastruktur pembelajaran kuliah,” jelasnya (21/5).  

Firdausi Farah Ramadhania, mahasiswi FKG UB 2020 juga berharap semoga RSGM UB dapat segera beroperasi sehingga dapat bermanfaat bagi mahasiswa FKG UB dan juga warga sekitar. (wbw/kz/uaep)

(Visited 209 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts