Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Let The Earth Breath

Ilustrator: Gratio
Oleh: Dinda Maria Kristiana*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Sejak tanggal 14 April 2022, tagar let the earth breath memuncaki trending topik twitter hampir di semua negara. Tagar tersebut melonjak menjadi trending karena protes besar-besaran yang dilakukan oleh para ilmuwan. Ilmuwan-ilmuwan di seluruh dunia melakukan protes karena sudah berkali-kali mereka mengingatkan soal perubahan iklim yang sangat ekstrim, namun minim respon yang diberikan oleh masyarakat dunia maupun pemerintahnya. Karena hal itulah, kali ini para ilmuwan kembali melakukan protes dengan menggunakan twitter sebagai media untuk menyebarkan apa yang mereka inginkan sebab para ilmuwan ini menyadari jika twitter dan sosial media lainnya merupakan salah satu cara yang bisa digunakan untuk memperingatkan dunia mengenai krisis yang sedang terjadi.

Dalam protesnya, para ilmuwan mengatakan jika warga bumi hanya memiliki waktu sekitar 3-5 tahun lagi untuk menjaga dan melestarikan bumi kembali, karena perubahan di dalam bumi sangatlah parah. Sebenarnya, para ilmuwan sudah mengatakan dan memperingatkan warga dunia mengenai perubahan iklim ekstrim yang dialami bumi sejak dekade-dekade yang lalu namun tidak ada gerakan dari warga dunia karena warga dunia cenderung mengabaikan apa yang dikatakan oleh para ilmuwan. Saat ini, mereka mengatakan jika sisa waktu yang dimiliki bumi untuk bisa kembali lagi seperti awal adalah 3-5 tahun saja yang mana waktu itu sangat sedikit jika mengingat bagaimana tingkat keparahan dan kerusakan yang dialami oleh bumi. Para pengguna media sosial yang melihat ancaman itu akhirnya tergugah hatinya dan mulai bergerak untuk menyelamatkan bumi mereka kembali. Akun-akun besar yang memiliki pengaruh di media-media sosial pun turut membagikan soal ancaman yang dihadapi bumi supaya hal itu bisa tersebar semakin luas dan makin banyak orang yang aware terhadap parahnya kerusakan bumi.

Berangkat dari aksi protes tadi, hal-hal yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan bumi kembali adalah dengan menghemat listrik, tidak boros air, menanam pohon sebanyak-banyaknya, mengurangi penggunaan plastik, menggunakan barang tidak sekali pakai, serta menghapus email-email yang tidak lagi diperlukan. Satu hal yang menjadi perbincangan di sosial media adalah mengenai penghapusan email-email yang tidak berguna atau tidak dibutuhkan. Banyak pro dan kontra mengenai penghapusan email yang dicanangkan oleh para ilmuwan. Pasalnya, orang-orang awam masih belum bisa sepenuhnya memahami mengapa mereka perlu menghapus email-email tersebut. Belum lagi email setiap orang berbeda-beda dan rata-rata orang memiliki email yang sangat banyak. 

Banyaknya email tersebut menjadikan mereka malas untuk menghapusnya dan memilih untuk membiarkan saja. Namun bagi orang-orang yang sudah memahami betul pengaruh dari penghapusan email, tentu tidak setuju dengan pola pikir orang awam yang demikian. Memang pengaruh penghapusan email kurang terlihat jika dibandingkan dengan menanam pohon atau mengurangi penggunaan kendaraan-kendaraan bermotor. Ditambah saat menghapus email, orang-orang masih menggunakan data seluler atau internet dan menurut data yang telah dipaparkan oleh media, tiktok menjadi aplikasi yang paling mempengaruhi karbon di seluruh dunia dibandingkan dengan email. Meskipun demikian, bagi orang-orang biasa seperti kita, tidak ada salahnya berkontribusi untuk membantu bumi menjadi lebih baik lagi.

Selain penghapusan email-email yang tidak berguna, munculnya aplikasi-aplikasi ramah lingkungan seperti ecosia membuat masyarakat semakin bisa berkontribusi untuk menyelamatkan bumi. Ecosia sama dengan google atau chrome sebagai mesin pencari di internet, namun bedanya jika di google atau chrome tidak akan memberikan dampak apapun ketika kita mencari sesuatu, tapi ecosia memberikan dampak dan dampak tersebut adalah dampak yang baik untuk bumi. Mengapa ecosia bisa dikatakan memberikan dampak baik bagi bumi? Hal itu dikarenakan dalam setiap 45 pencarian yang kita lakukan di ecosia maka sama dengan kita menanam satu pohon dan hal itu juga bisa dikatakan sebagai kontribusi kita dalam melestarikan bumi kita kembali.

Bumi sedang ada dalam keadaan yang tidak baik-baik saja — dan bisa dibilang, bumi sedang sekarat saat ini. Sebagai warga bumi, sudah seharusnya kita melakukan hal-hal yang bisa membantu menjaga dan melestarikan bumi yang kita tempati ini. Hal itu kita lakukan karena jika bukan kita, siapa lagi yang merawat bumi ini. Dengan adanya gebrakan yang telah dilakukan oleh para ilmuwan ini dapat membuat masyarakat bumi menjadi sadar akan apa yang terjadi dan segera mengambil tindakan untuk bisa menyelamatkan bumi mereka yang sedang sekarat itu. 

Tidak ada salahnya bagi kita untuk berkontribusi dalam menyelamatkan bumi. Jika bingung mengenai apa saja yang harus dilakukan, bisa dimulai dengan melakukan hal-hal kecil yang ada di sekitar kita. Jika kita sudah bisa melakukannya, maka berangsur-angsur kita bisa menapak selangkah demi selangkah untuk melakukan perubahan yang berarti – yang memiliki kontribusi lebih besar untuk menyelamatkan bumi yang kita tinggali ini. Jika bumi rusak, maka generasi kita sendirilah yang akan merasakan dampak dan akibatnya. Bahkan anak-cucu kita yang belum ada di dunia ini pun juga akan merasakan akibat kerusakan bumi dan jika dibiarkan. Bumi akan menjadi tempat yang tidak layak untuk ditinggali dan secara perlahan jika kerusakan bumi terus terjadi dan tak kunjung diselamatkan, maka semua jenis kehidupan yang ada di dalam bumi akan lenyap. 

Mungkin hal-hal untuk memperbaiki bumi memang akan susah dilakukan karena tidak semua masyarakat dunia memiliki pikiran yang terbuka dan paham akan kondisi alam. Namun sekali lagi, tidak ada salahnya mencoba dengan mulai dari diri kita lalu menyebar ke keluarga, tetangga, teman, hingga semua orang di sekitar kita paham akan apa yang terjadi. Hingga pada akhirnya, orang-orang tersebut bisa bahu-membahu untuk menyelamatkan bumi.

(Visited 69 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswa Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Tahun 2021. Sekarang sedang aktif sebagai anggota Divisi Redaksi LPM Perspektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts