Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Seberkas Harapan di Tanah Lada

Sumber gambar: Christanti Yosefa (dok. pribadi)
Oleh: Christanti Yosefa*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Judul Buku      : Di Tanah Lada

Penulis             : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Tahun Terbit   : 2015

Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama

Membaca karya Ziggy selalu mampu membawa saya tenggelam dalam imajinasinya yang unik dan mengejutkan. Buku “Di Tanah Lada” membawa saya merasakan perasaan yang campur aduk dan tak terbendung. Kisah Ava dan P—dua tokoh utamanya—menyajikan sudut cerita yang sering luput dari pandangan orang dewasa. Namun, jangan berpikir Ava dan P adalah tokoh anak kecil biasa. Mereka justru memiliki pola pikir yang justru kadang lebih dewasa daripada barangkali—separuh umat berumur delapan belas tahun ke atas di seluruh dunia.

Semua bermula dari meninggalnya Kakek Kia, kakek dari Ava, yang kemudian meninggalkan warisan bagi keluarganya. Sepeninggal Kakek Kia, Ava sekeluarga pindah ke Rusun Nero karena Papa Ava ingin lebih dekat ke tempat judi. Ava, yang adalah seorang anak kecil berusia enam tahun, sebenarnya bernama Salva. Namun, Papanya membenci dia, sehingga memanggilnya saliva atau ludah karena dianggap tidak berguna. Ava adalah anak yang pintar berbahasa Indonesia. Ketika berumur tiga tahun, ia dihadiahi kamus oleh Kakek Kia, dan sejak itu ia rajin membacanya.

Semenjak pindah ke Rusun Nero, Ava bertemu dengan anak laki-laki bernama P yang dengan segera menjadi temannya. Hari-hari di Rusun Nero membawa mereka berdua ke sebuah petualangan yang berakhir dengan mengejutkan.

Saya sebenarnya agak sangsi dengan kata “petualangan” yang tersemat di sinopsis belakang buku itu, tapi saya tidak punya kata lain yang tepat menggambarkan kisah mereka berdua. Dalam bayangan saya, petualangan kental dengan fantasi, macam menemukan pintu ajaib atau kabur dari penyihir jahat, lalu berakhir dengan bahagia bagi semua orang. Saya tidak membayangkan petualangan yang dialami mereka berdua, justru terasa kelam, bertolak belakang dari bayangan saya tentang buku ini pada awalnya.Membaca buku ini membuat saya membayangkan Ava dan P seperti dua ekor semut yang sedang berjalan menuju batang pohon tempat mereka tinggal. Perjalanan ke sana, dari jauh, tampaknya baik-baik saja. Namun, jika melihatnya lebih dekat, kita baru sadar bahwa perjalanan itu layaknya neraka, sebuah pertarungan hidup dan mati. Matahari yang terik, jalan yang terjal, bulir-bulir raksasa hujan, dan ancaman yang selalu ada dari kaki orang yang berlalu-lalang. Batang pohon, atau rumah mereka, adalah tempat yang aman dan tentram, sebagaimana seharusnya sifat rumah. Di buku ini, Tanah Lada adalah tanah tempat segala impian mereka bermuara: sebuah tempat dimana ada banyak bintang, menawarkan kehangatan, keamanan, kasih sayang, dan yang paling penting, harapan.

Ava dan P bertemu bukan hanya karena kebetulan. Mereka punya persamaan. Papa mereka jahat, mereka adalah anak-anak yang tidak diinginkan. Tapi, dunia yang ditinggali mereka bukanlah dunia yang menganggap anak kecil sebagai orang yang harus didengarkan. Mereka dianggap tidak punya rasa sakit, harus selalu mengerti keadaan orang tua, suka meracau tidak jelas, tidak bisa berpikir, dan lain-lain. Dunia yang mereka tinggali tidak mengerti bahwa anak-anak memiliki hak, memiliki keinginan. Karena itu, mereka pergi. Mereka memulai perjalanan panjang ke Tanah Lada, tempat tinggal Nenek Isma, nenek Ava.

Sepanjang cerita, saya berkali disadarkan bahwa tidak semua orang dewasa atau orang tua mengerti bahwa anak-anak juga ingin dimengerti. Mereka sibuk dengan asumsi-asumsi tersendiri, menyeret anak-anak ke dalam masalah pribadi, memberikan apa yang mereka pikir bakal dibutuhkan oleh anak-anak, tapi tidak pernah berusaha memahami. Ava dan P, bagi saya, telah dituntut untuk memahami hal-hal tak masuk akal yang terjadi pada orang-orang dewasa di sekeliling mereka. Yang lebih parah, seluruh tindakan itu berujung pada sakit yang terus menerus dialami mereka berdua. Ava, yang disiksa baik secara fisik atau verbal oleh ayahnya. Serta P, yang mendapat kekerasan dari ayahnya dan tidak diakui sebagai anak oleh orang tuanya. Semua yang mereka inginkan adalah dunia yang normal: tempat anak-anak bisa tidur di kasur yang layak, bangun pagi dengan sarapan dan kecupan orang tua, makan malam bersama yang penuh tawa, diangggap dan diberi kasih sayang. Tampaknya, Tanah Lada memberikan seberkas harapan yang mereka impikan, dan karena itu mereka pergi ke sana.

Gaya penulisan Ziggy sungguh memikat. Dalam beberapa bagian, ia mampu menggambarkan bagaimana seorang anak menunjukkan perasaan mereka. Saya paling trenyuh ketika P mengatakan bahwa ia ingin membelikan Ava semua kue cubit di dunia. P tidak punya uang, tidak punya apapun. Ia sangat berbahagia, dan untuk menunjukkan kebahagiaan itu, ia ingin membelikan Ava apa yang diinginkannya sebanyak yang ada di dunia.

Ketika tiba di akhir cerita, saya berkali-kali memaksa diri saya untuk mengerti keputusan mereka berdua. Namun, kalau boleh dibilang, saya barangkali termasuk anak yang beruntung di dunia. Saya tidak punya secuil pun hak untuk memaksakan apa yang saya yakini seharusnya menjadi akhir dari kisah tersebut. Saya pasti nggak akan mengerti.

Di halaman 244, Ziggy bilang, bahwa harapan utamanya menggagas kelahiran buku ini adalah agar semoga semua anak hidup bahagia. Saya terus berdoa untuk itu, karena saya nggak sanggup untuk baca kisah yang sama seperti Ava dan P lagi.

(Visited 29 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Tahun 2018. Saat ini aktif sebagai pimpinan divisi Sastra LPM Perspektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts