Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Walhi Jatim Soroti Wacana Pengembangan Kawasan Wisata TNBTS

Diskusi - Pupung Walhi Jatim memantik diskusi wacana pengembangan kawasan wisata TNBTS. (PERSPEKTIF/Ayu Isma)
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Malang, PERSPEKTIF – Aliansi Selamatkan Malang Raya mengadakan diskusi dan nonton bareng film dokumenter Surga Kentang Ranu Pani dan Turis Pendaki atau Kentang pada Jumat (15/10) malam. Acara ini merupakan awal seri diskusi yang mengangkat topik “Ruang dan Wisata”, sebagai respon atas berbagai permasalahan sosial-ekologis yang terjadi di Malang Raya. Bertempat di Boo Coffee House, diskusi ini mendatangkan Purnawan D. Negara selaku Dewan Daerah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Timur (Jatim), sebagai pemantik.

Purnawan menyoroti wacana pengembangan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Ia mengatakan proyek tersebut bertentangan dengan nilai-nilai budaya masyarakat Tengger.

“Indonesia itu negara mega biodiversity, punya kekayaan alam yang luar biasa. Selain keragaman hayati, kita juga kaya keragaman budaya. Salah satunya orang Tengger. Orang Tengger sudah ada sebelum Indonesia ini ada, dan hukum negara soal konservasi ini tidak mengakui hukumnya orang Tengger, yaitu hukum adat,” ujar Pupung, sapaan akrabnya.

Proyek KSPN di kawasan Bromo akan dijalankan di Zona Pemanfaatan. Merujuk pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Zona Pemanfaatan dapat dikembangkan menjadi kawasan wisata buatan. Namun, aturan ini bertentangan dengan nilai-nilai luhur Suku Tengger, sebab terdapat wilayah-wilayah yang dianggap sakral bagi masyarakat.

“Zona pemanfaatan ini menurut hukum negara cocok, tetapi bagi hukum masyarakat Tengger tidak,” jelas Pupung.

Sementara itu, salah satu pendaki senior yang hadir turut membagikan kisahnya. Ia menyampaikan pentingnya nilai-nilai budaya lokal yang harus tetap dilestarikan di tengah arus pembangunan yang semakin masif.

“Kalau kita berbicara soal masyarakat Tengger, jangan dimaknai sebagai persoalan syirik, melainkan budaya,” tuturnya.

Cuplikan salah satu film juga menampilkan kondisi masyarakat sekitar Ranu Pani yang mata pencaharian utamanya terancam pembangunan pariwisata yang mulai dijalankan.

“Ranu Pani ini kan sebagian besar area pertanian, seharusnya masyarakat yang diberdayakan dulu. Tetapi, sekarang kebanyakan justru pemain-pemain dari luar,” tutur salah satu warga dalam film Surga Kentang Ranu Pani. (ais/rff)

(Visited 67 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts