Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Melihat Kesehatan Mental Mahasiswa Satu Tahun Pandemi

Ilustrasi: Annisa Dzata
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Malang, PERSPEKTIFCoronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah lebih dari satu tahun menyerang Indonesia. Selama itu pula, masyarakat telah menerapkan physical distancing dan mulai berkegiatan dari rumah. Kondisi ini juga mengharuskan mahasiswa menjalankan aktivitas perkuliahan dari rumah. Tidak adanya kesempatan untuk sering mengunjungi tempat umum—bahkan untuk sekedar refreshing— menjadikan mahasiswa sering mengalami penat yang berakibat kecemasan.

Tekanan selama masa perkuliahan daring ini disiasati beragam oleh mahasiswa. Berbagai aktivitas dilakukan untuk –setidaknya— sedikit mengurangi beban pikiran selama periode sulit ini. 

Tamariskha Natalie, Mahasiswi Psikologi Universitas Brawijaya (UB) angkatan 2018, menghabiskan waktunya selama masa lockdown dengan melakukan kegiatan bersama keluarga, seperti memasak atau berkebun. Mahasiswi yang biasa dipanggil Tama tersebut tidak banyak beraktifitas di luar rumah, sebab takut akan paparan virus. Terlalu lama di rumah membuat Tama menjadi tertekan, terlebih karena tugas kuliah dan perkuliahan daring.

“Mungkin lebih merasa tertekan karena adanya kuliah daring di antara tugas,” kata Tama (8/4).  

Sedikit berbeda dari Tama, Wildhan Farica, Mahasiswa Ekonomi Pembangunan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Jawa Timur angkatan 2019, lebih memilih mencari kesibukan di media sosial. 

“Aku nonton Netflix untuk refresh otak. Akhir-akhir ini, aku juga main Clubhouse yang di sana ketemu strangers, jadi bisa sharing. Jadi selain mendapat pengetahuan dari kampus, aku juga mendapat pengalaman dari orang-orang di Clubhouse,” ungkap Wildhan (24/3). 

Media sosial juga ia jadikan sarana untuk mengembangkan diri selama self-isolation. Wildhan mengatakan, “Aku juga suka nyanyi, jadi sering bikin konten untuk sosmed.”

Lain halnya dengan Regis Reni Lestari, Mahasiswa Ilmu Politik 2019, yang merasa bahwa tekanan yang ia alami selama pandemi telah membawanya pada titik terendah dalam hidup. 

“Di satu titik, aku stres dengan kuliah dan organisasi yang membuat aku ingin menjauh dari dunia, dunia virtual maupun dunia sebenarnya,” ungkap Regis (21/6).

“Aku merasa itu titik terendahku. Pada akhirnya aku berdoa sama Tuhan dan perlahan, meskipun butuh nangis, akhirnya aku membaik,” tambahnya.

Ika Herani selaku Dosen Psikologi UB mengatakan, fenomena social media fatigue dan overload information sering ditemui dari mahasiswa selama pandemi. Ika mengatakan, “Mahasiswa bingung karena banyaknya informasi yang masuk, sementara biasanya media sosial dipakai untuk coping stress, tetapi saat ini justru digunakan juga sebagai sarana aplikasi belajar.” (9/4)

Beberapa tanda psikologis yang sering dialami mahasiswa selama pandemi, menurut Ika, antara lain sulit tidur, cemas, merasa mudah lelah, hingga adanya kecenderungan suicide behavior.

“Hal ini terjadi terutama jika ada di antara mahasiswa yang mengalami kehilangan atau timbul permasalahan ekonomi akibat Covid, atau berakhirnya relasi sosial karena Covid,” jelas Ika. 

Ika menambahkan, ada banyak cara dalam mengendalikan stres atau tertekan, di antaranya membuat strategi time management, membuat skala prioritas dalam mengerjakan tugas, menonton film secukupnya, dan berolahraga rutin. Selain itu, komunikasi intensif dengan teman-teman dekat sangat diperlukan untuk dapat bersosialisasi dengan lingkungan luar. 

Ulifa Rahma selaku konselor di Badan Konseling Mahasiswa (BKM) UB mengatakan, begadang yang biasa dilakukan mahasiswa untuk mengerjakan tugas atau menonton drama juga menjadi salah satu faktor terganggunya kesehatan mental. Selain itu, social distancing, self isolation, perubahan dalam pola interaksi, perkuliahan daring, permasalahan keluarga di rumah, hingga terlalu sering mengakses informasi seputar Covid-19 termasuk beberapa faktor penyebab gangguan kesehatan mental pada mahasiswa. 

“Bagi teman-teman yang sudah merasa stres, berarti harus punya strategi coping, misal dengan mengatasi masalahnya. Sudah membuat perencanaan, tapi tidak berhasil. Minta dukungan juga tidak berhasil. Ya, berarti bisa ke konselor. Bisa mengakses layanan konseling universitas,” jelas Ulifa (30/3). 

BKM UB sendiri tetap menerima konsultasi dari mahasiswa, meski lewat daring. Banyak dari mahasiswa yang mengalami masalah pribadi seperti kecemasan dan juga masalah dengan teman atau keluarga. Biasanya, bagi mahasiswa yang mengalami masalah kesehatan mental akan cenderung menghindari masalah yang ada. 

“Terkadang cirinya menghindari masalah, entah menghindari temannya, keluarganya, bahkan menghindari perkuliahan,” kata Ulifa. 

BKM telah melakukan survei yang melibatkan sekitar 2.185 mahasiswa UB dari berbagai fakultas dan angkatan untuk melihat strategi mahasiswa dalam menjaga kesehatan mental saat pandemi. Beberapa dari mereka sudah mendapatkan strategi yang efektif untuk dirinya sendiri, dan sebagian masih mencari-cari. 

“Beberapa dari mereka (mahasiswa yang mengisi survei, red) melakukan self regulation, membuat jadwal belajar, manajemen waktu, manajemen diri, atau melakukan hobi yang disukai,” jelas Ulifa.

Jika sudah merasakan kecemasan, baik ringan maupun berat, sangat disarankan untuk melakukan konseling ke psikolog. Untuk mahasiswa UB, sudah ada layanan konseling oleh BKM UB yang dapat diakses kapan saja melalui laman konseling.ub.ac.id. Setelah melakukan pendaftaran, nantinya pihak BKM akan menghubungi mahasiswa yang bersangkutan untuk membuat jadwal konsultasi. (dhs/ais)

(Visited 77 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts