Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Kisah di Balik Hazmat: Dari Fitnah Hingga Upah yang Tak Kunjung Turun

Ilustrasi: Annisa Dzata
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Malang, PERSPEKTIF – Sejak masuk ke Indonesia pada 2 Maret 2020 silam, Covid-19 (Coronavirus Disease 2019) telah menginfeksi masyarakat Indonesia secara masif. Hingga 16 Juni 2021, kasus infeksi positif Covid-19 di Indonesia mencapai 1,93 juta kasus dengan jumlah kesembuhan 1,76 juta jiwa dan total kematian sebanyak 53.280 jiwa. Jumlah tersebut diperkirakan masih terus meningkat, jika arus migrasi tidak dapat dikendalikan dan masyarakat masih abai dengan protokol kesehatan (prokes).

Tenaga medis menjadi aktor terdepan yang berjuang dalam menghadapi pandemi Covid-19. Mulai dari menjalankan prosedur penanganan pasien hingga sosialisasi prokes pun dilakukan. Meski memiliki peran penting dalam menghadapi Covid-19, berbagai tantangan dan cerita sedih menghiasi perjuangan para tenaga medis.

Tries Anggraini, selaku tenaga kesehatan sekaligus Direktur Rumah Sakit Karsa Husada, Kota Batu, melihat bahwa hal yang menjadi tantangan bagi tenaga kesehatan adalah menghadapi stigma dari masyarakat. Covid-19 adalah penyakit baru yang belum banyak dipahami masyarakat. Bahkan, ia pernah mendapat laporan tentang masyarakat yang takut ketika ada tenaga medis yang datang ke kampung dengan menggunakan hazmat (alat pelindung diri, red).

“Ya, itu mungkin masyarakat perlu diedukasi. Ini penyakit bukan penyakit yang memalukan. Bahkan saat pandemi ini kalau ada petugas full hazmat yang masuk kampung, masyarakat takut,” tuturnya (20/2).

Stigma juga menjadi hal yang ditakutkan oleh masyarakat. Ia menganggap bahwa sekalipun tenaga medis telah melakukan sosialisasi dan pemeriksaan Covid-19, masyarakat masih enggan untuk lapor. Walaupun hanya bergejala ringan dan menjadi pasien dengan status Orang Tanpa Gejala atau OTG, masyarakat tidak ingin melaporkan kondisinya kepada pihak rumah sakit. 

“Mungkin dia merasa takut akan stigma terhadap pasien covid yang akhirnya berusaha ‘gak tahu’ kalau dia covid. Pasien baru datang saat sudah gejala berat. Sehingga penanganan lebih sulit dan potensi meninggal lebih besar,” tuturnya.

Masalah honor juga menjadi permasalahan bagi tenaga medis dalam menangani pasien Covid-19. Tries mengungkapkan bahwa gaji maupun tunjangan tenaga medis sering terlambat dibayarkan oleh pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Di sisi lain, tenaga medis juga bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga masing-masing. 

“Sampai sekarang, kita terima gaji itu tidak menentu dari pemerintah pusat dan provinsi. Terlebih dengan kondisi perekonomian yang gak tentu seperti ini,” ucapnya resah.

Berbagai dugaan –bahkan serangan mental terhadap tenaga medis— juga dirasakan Tries dan rekan-rekannya di RS Karsa Husada. Sebelumnya, rumah sakit tersebut dikritik oleh masyarakat Batu karena harga tes PCR (Polymerase Chain Reaction, red) yang menembus Rp 400 ribu; padahal harga eceran tertinggi yang ditetapkan oleh pemerintah adalah Rp 150 ribu. Bahkan, masyarakat menduga bahwa rumah sakit lainnya juga mencari keuntungan dari penanganan Covid-19. Tries membantah adanya praktik kapitalisme yang dilakukan oleh para koleganya di RS Karsa Husada.

Astaghfirullah, itu tidak benar. Penanganan Covid-19 itu sangat mahal. Satu pakaian hazmat harga perorangnya mencapai Rp 600-700 ribu untuk sekali pakai. Satu pasien perawatannya ada yang bisa sampai Rp 100 juta. Kalau harga PCR, kita hanya mengikuti harga dari pusat dan itu pun seharga Rp 150 ribu,” tegas Tries.

Beberapa tudingan dan tuduhan ‘memvonis Covid-19 terhadap jenazah’ dilayangkan masyarakat Batu kepada RS Karsa Husada. Dari beberapa unggahan media sosial masyarakat Kota Batu, terdapat isu bahwa rumah sakit memvonis pasien yang meninggal bukan karena Covid-19 dengan tuduhan yang sebaliknya. Masyarakat pun mulai enggan berobat ke rumah sakit.

Namun, Tries menepis kabar burung tersebut dan menganggapnya sebagai fitnah. Ia dan jajarannya di RS Karsa Husada tidak pernah ‘meng-covidkan’ pasien, baik yang hidup maupun yang sudah meninggal. 

“Tidak benar, karena ada pemeriksaan dulu. Jadi misal pasien datang belum swab, tapi dari gejala sudah menunjukkan, ya, mungkin kena. Jadi harus kita periksa dulu dan dites,” ungkap Tries.

“Saya dan semua tenaga medis terus terang kalau ada yang bilang ‘wah RS dapat uang’, rasanya sakit hati. Kita sudah kerja setengah mati malah dituduh yang tidak-tidak,” imbuhnya.

Senada dengan Tries, Vito Hermanto juga mengaku mendapat berbagai tantangan sebagai tenaga medis yang berjuang menghadapi pandemi ini. Tenaga medis yang ditempatkan di RS Hermina Tangkuban Perahu, Kota Malang, tersebut menceritakan pengalamannya ketika menangani pasien Covid-19, terutama ketika menghadapi rasa lelah karena tidak tidur seharian demi mengobati pasien.

“Pernah sekali dua kali tidak tidur seharian penuh. Apalagi saat Kota Malang menjadi zona merah. Itu pun terus bekerja menggunakan hazmat seharian penuh. Bisa dibayangkan kerja 24 jam penuh dengan menggunakan hazmat yang tebal dan menggerahkan,” ujar Vito ketika ditemui oleh awak Perspektif (26/3). 

Vito juga mengaku sempat diprotes oleh salah satu pasien positif Covid-19 yang menolak dirawat di rumah sakit. 

“Pernah dulu dapat komplain dari pasien. Dia punya gejala sedang, mulai tidak bisa merasakan makanan. Pas dirawat protes karena merasa hanya gejala ringan, tapi dia juga punya asma,” jelas Vito.

Sama seperti Tries dan tenaga medis lainnya, Vito juga mengungkapkan masalah upah yang terlambat dibayarkan oleh pihak rumah sakit. Di sisi lain, jam kerja sering membengkak, dari yang biasanya delapan jam menjadi 12 jam, bahkan seharian penuh ketika pasien membeludak. Bagi Vito, tidak ada pilihan lain untuk bertahan dan melakukan tugas mulia untuk menyembuhkan masyarakat.

“Gaji dulu terlambat dibayar. Tapi, ya, mau bagaimana lagi. Kita harus menyembuhkan pasien Covid-19 dan memperlambat laju infeksi virus itu,” ujar Vito.

Berbagai tekanan yang dialami oleh para tenaga medis berpengaruh terhadap kondisi mental mereka. Nita Christinasari, salah satu psikolog asal Surabaya, menyampaikan bahwa tugas untuk mengobati pasien Covid-19 yang terus membeludak dapat  mempengaruhi kondisi psikis mereka. 

“Mereka (tenaga medis, red) mengalami tekanan dalam menangani pasien yang terus membeludak. Mereka lelah, dan itu akan menurunkan kondisi mental, bahkan tingkat imunitas mereka,” ungkap Nita (10/4).

Masyarakat yang abai terhadap prokes juga menjadi hal yang dapat menurunkan kondisi psikologis tenaga medis yang bertugas. Menurut Nita, abainya masyarakat terhadap prokes justru dapat menggugurkan berbagai usaha tenaga medis dalam melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan pengobatan terhadap pasien Covid-19. Apalagi, tenaga medis sebagai aktor terdepan dalam menghadapi Covid-19 juga memiliki tanggung jawab yang berat.

Nita setuju ketika masalah upah yang terlambat dibayar juga berpengaruh terhadap motivasi kerja dan stabilitas mental tenaga medis. Menurutnya, upah menjadi hal penting untuk menghidupi keluarga mereka. Selain itu, tenaga medis yang harus selalu siap siaga bertugas sering kali harus mengorbankan waktu mereka bersama keluarga. 

“Tenaga medis juga punya keluarga. Ketika pandemi ini, jam kerja mereka cenderung berlebihan, namun upah terlambat dibayarkan. Dari semua tenaga medis yang pernah saya temui, mereka mengaku sering kepikiran keluarga mereka di rumah. Ketika mereka senggang bekerja, terkadang mereka menyempatkan untuk menelpon atau video call dengan keluarga atau orang terkasih,” tutur Nita.

Nita menyampaikan agar semua tenaga medis tetap semangat dan menjaga kesehatan mereka. Ia juga mengingatkan tenaga medis untuk memastikan stabilitas kondisi mental mereka dan tetap berbahagia. Hal tersebut dapat diperoleh dari refreshing sesuai keinginan serta menyempatkan menghubungi keluarga ketika lelah bertugas.

“Harapannya kepada semua pihak terkait untuk memperhatikan jam kerja serta pembayaran upah tenaga medis. Kiranya juga tenaga medis tetap menjaga stabilitas emosi, minimal menghubungi keluarga atau refreshing. Dan untuk masyarakat, tetap patuhi prokes untuk mengapresiasi perjuangan tenaga medis kita,” pungkas Nita. (mim/ais)

(Visited 40 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts