Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Tak Kunjung Wisuda Tatap Muka, Mahasiswa Berharap UB Lebih Informatif

Bundaran Universitas Brawijaya yang biasa menjadi tempat berkumpul wisudawan. (PERSPEKTIF/Salma Nihru)
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Malang, PERSPEKTIF – Melalui Surat Edaran (SE) No. 13 Tahun 2021, Wali Kota Malang telah memberikan izin pelaksanaan wisuda tatap muka bagi perguruan tinggi dan swasta di area Kota Malang. Wisuda tatap muka dapat dilaksanakan setelah aturan dan syarat dapat dipenuhi. Namun, belum ada kejelasan pelaksanaan di Universitas Brawijaya (UB).

Heri Prawoto, Kepala Bagian Perencanaan, Akademik, dan Kerjasama UB, menerangkan bahwa ketentuan dalam surat edaran tersebut hanya cocok diterapkan di kampus kecil.

“Hanya 200 wisudawan dengan 400 wali yang diperbolehkan (mengikuti wisuda, red). Jika terlalu sering wisuda, akan banyak risiko yang harus dihadapi pimpinan dan peserta wisuda. Ini juga jadi pertimbangan sebelum diterapkan di UB,” ujar Heri kepada awak Perspektif (3/4).

Heri memaparkan bahwasanya Universitas Brawijaya tidak melaksanakan wisuda tatap muka pada April. Kendati demikian, ia belum mengetahui teknis wisuda pada periode selanjutnya.

“Periode April masih wisuda daring. Untuk periode setelah lebaran, belum ada keputusan dari pimpinan. Kita akan melihat perkembangan yang ada,” ungkapnya.

Sementara itu, M. Nurulloh Bestami, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan 2017, mengatakan bahwa belum ada kejelasan informasi wisuda tatap muka dari pihak universitas. 

“Sejauh ini belum ada titik terang mengenai wisuda. Sebagian besar mahasiswa mengharapkan wisuda luring, meskipun sejauh ini masih daring,” ujarnya.

Menurutnya, kurangnya penyebaran informasi pada masa pandemi ini juga membuat para mahasiswa bingung kapan akan diwisuda. 

“Sebagian besar (menunggu) kira-kira 6 bulan. Ada juga mahasiswa yang menyampaikan, dari pertengahan tahun 2020 sampai dengan bulan Februari 2021 belum diwisuda. Hal ini yang menjadi rancu,” ungkapnya. 

Bestami berharap agar pihak universitas dapat lebih informatif mengenai pelaksanaan wisuda.

“Jangan sampai miskomunikasi sama mahasiswa. Kalau bisa, wisudawan disediakan sendiri call centernya begitu, jadi arus informasi ini bisa jalan. Teman-teman yang ada keperluan wisuda bisa langsung kontak ke pihak yang bersangkutan,” katanya.

Lain halnya dengan yang disampaikan Febri Nuansa Siallagan, mahasiswa Ilmu Pemerintahan 2013. Ia berharap ada perbaikan dalam sistem wisuda online.“Harapannya proses dan perangkat wisuda semakin bagus, kalau memang dibikin online. Karena kemarin kejadian, yang jadi host (meeting room wisuda, red) malah wisudawan sendiri,” tutupnya. (bel/anp/rff)

(Visited 41 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts