Illustrator: Naura Thabina

Oleh : Satrio Aji Pamungkas*

Dalam kepergian panjang

Tentang ribuan hasta ke nusa

Sampan ibu berlayar,

Membawa harapan yang suci dipangkunya

Kayunya yang terkoyak, menahan air mata

Dihempas ombak jernih berbuih

Dicabik-cabik kecipak ikan beringas

Kini tak lagi akan terasa seperti derup kisah bahadur

Mereka sirna di antara berjebahnya pemuda

Ibu..

Demi sampan yang kokoh membuntang

Darimana ombak badai masuk ke bawah tudung,

Pemuda ibu yang pembual,

Tak pernah tahu kisah para ksatria pendayung sampan

Pemuda ibu yang anarki,

Kemelut merentang bertubi-tubi

Mata angin ketika lepas

Dalam sampan ibu pemuda tak tahu arah

Hamparan harapan menjadi guyonan

Geladak penuh mawar, menjelma seliar eceng gondok

Untuk apa pahlawan menunggangi sampan

Darah penuh nanah yang mengalir deras di atas tepian lengan ,

Tak pernah meminta untuk ditukar dengan sumpah kebajikan

Demi sampan yang berkali-kali menjerit

Menghantam karang

Aku selalu ingin hidup dalam renjana

Mengharap yang tak muluk-muluk

Memperbaiki sampan ibu, memerankan menjadi kapal besi

Berlayar membawa tujuan

*)Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Politik angkatan 2019 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya. Saat ini aktif sebagai anggota Divisi Markom LPM Perspektif.

(Visited 44 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here