Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Gelar Aksi, Kamisan Malang Soroti Komersialisasi Pendidikan

Hitam — Dalam balutan pakaian hitam, massa aksi serukan tolak Komersialisasi Pendidikan. (Perspektif/Patricia)
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Malang, PERSPEKTIF — Kamis (21/2) sore Aksi Kamisan Malang kembali menggelar Aksi. Dalam aksi yang digelar di depan Balai Kota Malang ini, mengusung tema “Hilangkan Komersialisasi dan Korupsi Pendidikan”.

Wahyu Agung Prasetyo selaku Koordinator Lapangan (Korlap) menyatakan bahwa aksi ini merupakan sikap perlawanan atas adanya komersialisasi serta korupsi yang terjadi di ranah pendidikan. “Gerakan ini sebagai simbol kita bersuara. Ya, sebenarnya kita menuntut. Kita di lingkungan pendidikan, harusnya sadar akan permasalahan di kampus kita sendiri,” jelasnya.

Lebih lanjut, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Malang ini menjelaskan bahwa permasalahan yang terjadi di ranah pendidikan terutama perguruan tinggi meliputi mahalnya uang perkuliahan, pungutan liar, serta kebebasan pendidikan. Selain melalui pergerakan dalam kampus, menurutnya Aksi Kamisan bisa menjadi media dalam menyuarakan perlawanan.

“Jadi, kita melakukan perlawanan dalam bentuk eksistensi dan simbol. Kenapa baju kami hitam-hitam? Itu menunjukkan perlawanan. Payung menunjukkan kita dibawah naungan negara dan harus dilindungi. Tapi, itu secara aksi. Kalau dikomunikasikan lagi, kita ingin bersolidaritas,” papar Wahyu. “Kalau kita ada permasalahan pendidikan, kita bisa saling sharing untuk membuat suatu gerakan,” tambahnya.

Sementara itu, Ahmad Gatra, salah satu peserta Aksi Kamisan  berharap agar Aksi Kamisan bisa diikuti oleh lebih banyak massa. “Kalau bisa lebih banyak lagi yang ikut. Soalnya aksi yang dulu pernah dibubarin oleh pihak berwajib,” terang mahasiswa Universitas Negeri Malang ini. Gatra juga berharap agar siapa pun yang ingin berpartisipasi dalam Aksi Kamisan bisa ikut bergabung sebagai peserta aksi. “Kalau bisa siapapun ya, tidak terbatas pada satu golongan saja,” tutupnya. (rff/mim/wnd)

(Visited 193 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts