Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

 Heroisme

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Tiap tahun, melalui orientasi pengenalan ke­hidupan kampus di tataran Universitas maupun fakul­tas, mahasiswa baru diberi materi terkait bagaimana menjadi mahasiswa sesung­guhnya. Caranya pun be­ragam. Dengan mengikuti organisasi, misalnya.

Pertanyaan yang mun­cul kemudian adalah: apa­kah dengan berorganisasi status mahasiswa menjadi paripurna? Mestinya tidak. Paradigma demikian jus­tru mereduksi esensi dari berorganisasi itu sendiri, dan membuat berorganisa­si tercerabut dari konteks sosialnya. Ia hanya sekedar menjadi proses prosedural yang populer.

Bagaimanakah kemu­dian berorganisasi didefi­nisikan? Jangan-jangan, sedari awal definisi “beror­ganisasi” itu pun sudah lay­ak diperdebatkan.

Kita tentu berharap den­gan mengikuti organisasi, mahasiswa juga belajar un­tuk rendah hati. Dengan de­mikian, narasi yang dibuat tidak malah mendompleng status mahasiswa, memu­nculkan heroisme dari ti­ap-tiap individu kemudian menular ke kelembagaan organisasi.

Dengan berorganisasi, mestinya mahasiswa insaf bahwa apa yang dia laku­kan adalah hal-hal yang benar-benar diperjuang­kan, tanpa pamrih. Bekerja dalam senyap. Tanpa hi-ngar-bingar remeh soal apa yang mereka telah kerjakan.

(Visited 139 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Beda

Iklan

E-Paper

Popular Posts