Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Budaya Literasi Mahasiswa Rendah

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp
CCI15062016_0001

Ilustrasi Ade/Perspektif

Malang, PERSPEKTIF – “Selama saya mengajar, mahasiswa ini sangat kurang sekali memang minat bacanya. Saya sampai bertanya buku apa yang mereka punya, rata-rata buku pun tidak punya,” ujar salah satu dosen FISIP, Ahmad Zaki. Ia mengakui bahwa minat mahasiswa untuk membaca masih rendah.

Kondisi ini disiasatinya dengan memberikan kewajiban membaca literatur seperti jurnal dan buku yang harus dibaca dan dibikin resume. Dosen Ilmu Pemerintahan itu mengaku mewajibkan mahasiswanya untuk membaca sebelum masuk kelas, karena dia menganggap hal tersebut efektif. “Seharusnya semua orang yang masuk kelas itu masuk dengan membawa bacaan, argumentasi, data dan gagasan. Kemudian disana menjadi ruang-ruang untuk berdiskusi,” tambahnya.

Ditanya terkait imbas minimnya budaya literasi, membaca dan menulis, mahasiswa FISIP, ia menganggap mahasiswa masih kesulitan secara kualitatif. “Secara kualitatif ini yang menjadi persoalan karena penulisan ada frame-nya sendiri ada logikanya sendiri. Nah, logika penulisan akademik itu yang saya pikir temen-temen masih kesulitan,” jelas Ahmad Zaki saat ditemui di ruang dosen Ilmu Pemerintahan.

Hal senada juga diutarakan oleh dosen Ilmu Komunikasi Fitri Hariana. Menurutnya, antusiasme mahasiswa FISIP, khususnya mahasiswa Ilmu Komunikasi, untuk membaca masih kurang. “Kalau tidak ada tugas khusus membaca, saya tidak yakin mahasiswa akan membaca terutama kalau hanya sebatas tugas atau kelas biasa saya yakin sebagian besar tidak membaca,” ujarnya.

Untuk merangsang minat membaca mahasiswa, Fitri Hariana mengunggah jurnal yang wajib dibaca mahasiswa, kemudian memberikan pertanyaan terkait bacaan dan didiskusikan dikelas. Bahkan, ia juga sering mengadakan kuis yang diberi iming-iming nilai tambahan atau poin khusus. Fitri juga menyarankan dari pihak fakultas dan jurusan menyediakan bahan bacaan yang berkualitas dan sesuai.

Lebih lanjut, Ia kerap memberikan studi kasus atau jurnal yang memang itu opsional untuk membacanya karena itu untuk pengayaan materi. Menurutnya, tujuan dari pemberian tugas bisa diukur berdasarkan learning outcomes. “Tujuannya, berdasarkan learning outcomes artinya apasih yang kita harapkan dari mahasiswa setelah dia lulus dari matkul apa, skill dan pengetahuan apa yang mereka dapat,” ungkap Fitri saat ditemui di ruang dosen Ilmu Komunikasi.

Di sisi lain, minimnya budaya literasi mahasiswa ini juga berimbas pada kegiatan-kegiatan lomba kepenulisan. Hal ini diakui ketua Badan Riset Ilmu Sosial (BARIS) FISIP, Alan Dwi Pranata. Ia menyatakan kalau minat mahasiswa FISIP di bidang penulisan khususnya masih kurang. “Kalau minat baca tulis masih kurang ya diifisip, terbukti dari event-event  sudah ada misalnya di Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) mahasiswa baru FISIP, Olimpiade Fisip dan Dies Natalis masih sangat kurang ya ikut kaya lomba seperti  itu,” ujar Alan.

Ia menambahkan, kalau dibandingkan dengan fakultas lain FISIP selalu jadi fakultas yang tergolong rendah dalam bidang kepenulisan. Menurutnya, saat ini BARIS telah membuat grup informal yang diberi nama ‘klinik kreatifitas’. Grup ini digunakan untuk berdiskusi, brainstorming dan juga sharing terkait penulisan dan penalaran.

Menurutnya, pemberian tugas itu idealnya efektif meningkatkan minat baca tulis mahasiswa. Ia menambahkan membaca berfungsi meningkatkan keterampilan akademis, baik materi maupun sistematika penulisan. “Mahasiswa diminta buat paper sampai laporan. Mau tidak mau kita juga harus membaca yang itu bisa meningkatkan keterampilan akademis,” terang mahasiswa Ilmu Komunikasi tersebut.

Salah satu mahasiswa Hubungan Internasional, Krishna Wasudewa menganggap pemberian tugas dan mewajibkan mahasiswa membaca sebelum kelas itu efektif, “Cukup efektif, cukup meningkatkan minat baca mahasiswa terutama terhadap materi,” tegas mahasiswa angkatan 2013 tersebut. (hen/lod)

(Visited 256 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts