Muhammad Mahfud MD sedang menjawab pertanyaan dari beberapa mhasiswa yang bertanya pada sesi tanya - jawab dalam acara Festival Cinta Islam" pada Rabu (24/02).
Muhammad Mahfud MD sedang menjawab pertanyaan dari beberapa mhasiswa yang bertanya pada sesi tanya - jawab dalam acara Festival Cinta Islam" pada Rabu (24/02).
Muhammad Mahfud MD sedang menjawab pertanyaan dari beberapa mhasiswa yang bertanya pada sesi tanya – jawab dalam acara Festival Cinta Islam” pada Rabu (24/02).

Malang, PERSPEKTIF – Berkembangnya citra negatif terhadap Islam saat ini memang tidak dapat dipungkiri. Universitas Islam Negeri (UIN) Malang mengadakan sebuah kegiatan bertajuk “Festival Islam Cinta 2016 : Semesta Cinta” sebagai bentuk pengingat kembali bagaimana Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin. Kegiatan yang digelar pagi tadi (24/02) di Gedung Student Center UIN Malang ini kian semarak dengan hadirnya beberapa intelektual muslim terkemuka  seperti Mohammad Mahfud M.D. dan Syamsul Arifin sebagai pembicara.

“Islam itu adalah agama cinta. Itu adalah harapan, namun kenapa dalam dunia nyata itu tidak berjalan. Hal tersebut karena kita tidak memahami intinya,” ungkap Syamsul.

Lebih lanjut Syamsul menjelaskan bahwa telah terjadi persoalan yang terjadi di antara umat Islam yaitu soal adanya perbedan interpretasi dan manifestasi Islam itu sendiri. Hal tersebut yang menurutnya mengakibatkan muncul berbagai aliran Islam dan juga kegiatan-kegiatan terorisme serta kekerasan yang dilakukan oleh orang muslim sendiri.

“Untuk menyatukan itu semua adalah dengan adanya cinta,” ungkap syamsul Arifin mengenai persoalan tentang perbedan interpretasi mengenai Islam dan juga permasalahan perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Saat ini, kita kerap menjumpai adanya perilaku-perilaku seorang muslim yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Salah satunya ialah terkait dengan kekerasan yang dilakukan kelompok tertentu yang mengatasnamakan Islam. Sehingga muncul ketakutan terhadap Islam, terutama bagi orang-orang Barat.

“Seringkali kita melihat kekerasan yang dilakukan oleh kelompok radikal, bahkan mereka tak segan menyerang pemeluk Islam lain yang tak sepaham dengannya. Orang-orang yang didiskriminasi bisa jadi adalah orang-orang Islam sendiri,” tutur Mahfud M.D.

Mahfud menyatakan bahwa beberapa kelompok radikal Islam yang bermunculan bukan berasal dari kampus berbasis Islam maupun pesantren. “Banyak bermunculan kelompok radikal dan fundamentalis yang bukan muncul dari kampus berbasis Islam maupun pesantren, malah dari kampus-kampus umum yang massanya memang adalah orang awam. Sehingga ia marah terhadap situasi karena ia baru belajar mengenai Islam,” ujarnya.

Pria asal Madura tersebut berpendapat bahwa hal-hal tersebut muncul bukan hanya karena soal keagamaan, tapi karena soal ketidakadilan dan kebutuhan yang tidak terpenuhi. (lta/ank/rip)

(Visited 169 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here