Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Simposium Ecsotic : Mengkaji Elemen Pembangun Kekuatan Maritim Indonesia

Para Pemateri sedang melakukan kegiatan tanya jawab dengan para peserta Simposium Ecsotic (10/10)
(Atni/Perspektif)
Malang, PERSPEKTIF – Membangun  kembali Negara Indonesia sebagai poros maritim dunia dewasa ini telah menjadi perhatian berbagai kalangan. Salah satu wacana yang diusung Presiden Joko Widodo tersebut kini dikaji oleh entitas dari berbagai disiplin ilmu. Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi  dan Bisnis Universitas Brawijaya  (BEM FEB UB) salah satunya.
Bekerja sama dengan Forum Mahasiswa Ekonomi Indonesia (FMEI), BEM FEB UB menyelenggarakan Simposium Nasional dan Lomba Esai bertajuk Pengembangan Potensi Kemaritiman dalam Mewujudkan Visi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia”, Sabtu (10/10) yang bertempat di Aula Gedung F Lantai 7 FEB. Acara yang dinamakan Ecsotic (Ekonomi dan Politik) tersebut mengkaji potensi maritim Indonesia dari segi ekonomi dan politik. Sejatinya, potensi maritim dapat dilihat dari berbagai macam aspek.  Dengan memiliki wilayah  laut yang luas, dapat menjadi peluang maupun tantangan tersendiri bagi Indonesia.
Staf Ahli Kementrian Perikanan dan Kelautan, Saut Hutagalung  menjelaskan hal tersebut di dalam simposium. “ Selama ini banyak orang yang menilai maritim dari perikanan saja, sementara banyak hal lain yang belum dieksplor seperti kosmetik, farmakologi, ataupun industri lain. Inovasi SDM adalah hal yang penting dalam meningkatkan indeks daya saing global di bidang maritim khususnya aspek ekonomi ,” ujar Saut.

Dalam acara tersebut, konsep pembangunan tol laut juga menjadi salah satu bahasan penting. Joko Noerhuda salah satu pemateri dari PT Pelabuhan Indonesia III menegaskan hal tersebut. “Pembangunan tol laut akan mempermudah koneksi jalur perdagangan melalui laut, akan ada 24 pelabuhan tol laut,” jelas Kepala Biro Perencanaan Startegis dan Kinerja Perusahaan PT. PELINDO III ini .
Ia juga menambahkan, salah satu bentuk implementasinya adalah pembuatan jalur terminal Teluk Lamong. Proyek yang sedang digarap Pelindo III tersebut diharapkan dapat mempermudah perdagangan internasional dan menekan biaya logistik.
Simposium tersebut juga dihadiri oleh Chairul Djaelani selaku Wakil Ketua Bidang Peternakan, Perikanan, dan Hasil Laut Kadin Jawa Timur, Dosen FEB UB, Iswan Noor sebagai pembicara. Selain itu, turut hadir beberapa delegasi mahasiswa Fakultas Ekonomi dari berbagai universitas yang tergabung dalam FMEI seperti  UB ,UI, UGM, Unpad,Undip dan beberapa universitas lain.

Pada akhir simposium, terdapat rekomendasi perumusan kebijakan yang dilakukan oleh para delegasi FMEI diantaranya  peningkatan industri galangan kapal, peningkatan kualitas SDM, serta eksplorasi sektor migas dan Perikanan. (asd)

(Visited 88 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts