Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Maba Masih Jadi Target Utama Pemilwa

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Malang, PERSPEKTIF – Pemilihan Mahasiswa 2014 (Pemilwa) FISIP kini telah memasuki tahap kampanye (11/12). Pemilwa menjadi agenda untuk menjadi salah satu perwakilan mahasiswa di tingkat fakultas. Dengan kehadiran momen Pemilwa, persepsi akan perpolitikan kampus ini-pun selalu hangat dan menarik untuk dibahas.

Kehadiran momen pemilwa erat dengan kehadiran Mahasiswa Baru (Maba). Dalam momen tersebut, kandidat dan tim sukses akan mempertimbangkan suara di tingkat mahasiswa baru. Menurut M. Fajar Shodiq Ramadlan, mahasiswa baru termasuk golongan massa mengambang. ”Kalau dilihat dari perspektif marketing politik, mahasiswa baru cenderung belum mempunyai identifikasi politik,” ujar Dosen Politik ini.

Jumlah mahasiswa baru yang cukup signifikan membuat mereka dipilih sebagai salah satu pasar. ”Ini bukan masalah mereka mudah diajak atau dipengaruhi, tetapi lebih ke pemahaman mereka yang belum cukup,” jelas pria kelahiran Nganjuk ini.

“Berbicara politik kampus, saya yakin tidak semua mahasiswa punya ketertarikan yang sama tentang ini, terlebih bagi mahasiswa baru yang belum memiliki pilihan,” tambah Fajar. Interpretasi terhadap politik kampus memang berbeda. Jika dimaknai positif, ajang semacam Pemilwa bisa menjadi sarana belajar. Turut serta dalam proses pemilihan merupakan pembelajaran dalam hal kontestasi politik. Tetapi jika dimaknai negatif, yang muncul adalah mengenai persepsi politik yang ambisius, atau gila jabatan.

Menurut Derry Septian Wijaya, tim sukses dari salah satu calon tahun lalu mengatakan hal serupa. “Maba memang menjadi pilihan, tetapi itu kan salah satu dari beberapa pilihan,” ujar mahasiswa Sosiologi angkatan 2012 ini. Derry menambahkan bahwa kejadian seperti peminjaman Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) dan ajakan memilih merupakan hal yang bisa menjadikan proses belajar memahami politik kampus. ”Meski awalnya cuma sekedar ikut, saya pikir hal ini bisa mengembangkan pola pikir mahasiswa dan tahu hasilnya seperti apa,” lanjut Mahasiswa asal Sumenep ini.

Nur Mufidatul Hanum, mahasiswa semester 5 yang berturut-turut menjadi tim sukses sejak masih berstatus maba membenarkan apabila maba memang sebagai target utama pemilih. “Karena maba biasanya masih antusisas dan belum terkontaminasi ‘golongan’ tertentu. Kalau Mala (Mahasiswa Lama) biasanya sudah malas dan cenderung ke salah satu ‘golongan’,” ungkapnya.

Diungkit mengenai strategi Tim Sukses yang hingga kini paling sukses diterapkan, Hanum mengungkapkan kampanye melalui media sosial-lah yang paling efektif. “Di sana (media sosial, ed.) kita menyebarkan informasi tentang profil, visi-misi, dan keunggulan capres yang kita usung agar lebih dikenal. Selain itu kampanye class to class juga saya rasa masih bisa diterapkan,” pungkas perempuan berkerudung ini (14/12).

Pesta demokrasi yang terus digelar setiap tahunnya ini memberikan penilaian yang berbeda-beda dan menjadi salah satu tolak ukur berhasil tidaknya strategi yang dilakukan oleh panitia dan Tim Sukses. Salah satu mahasiswa Hubungan Internasional 2012, Cyntia Riski mengungkapkan persiapan Pemilwa 2014 kurang terlihat. Hal ini membuat ia harus memikirkan berkali-kali apakah tahun ini akan kembali mencoblos atau tidak. Cyntia menambahkan, semakin menginjak semester tua, mahasiswa cenderung sibuk dengan urusan kelulusandan sudah mengabaikan urusan lain dalam kampus. “Tidak adanya kampanye untuk mahasiswa lama dan posisi maba yang masih semangat-semangatnya merayakan pesta demokrasi ala kampus membuat semakin minimnya pemilih dari mahasiswa lama,” ujar Cyntia mengakhiri. (mrs/idp/lis/aks)
(Visited 80 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts