Si Mbak memulai ritualnya dengan mengatakan
“semua yang hidup akan mati, dan malam ini adalah hari dimana kamu akan mencoba mengingat apa saja yang kamu telah lakukan selama kamu hidup, entah itu penyesalan ataupun rasa syukur,”
Pocong langsung terdiam, ia lupa apa saja yang telah dilakukan selama hidup, ia bahkan lupa bagaimana ia mati, berapa lama ia hidup, hingga siapa dia sebenarnya. Terasa seperti ditanya Malaikat Munkar Nakir, tetapi ia hanya bisa hening dalam rangkaian memori yang kosong. Bulunya di dalam kain kafan langsung berdiri merinding. Sudah lama pocong bingung dengan kehidupan setelah kematian, ia justru bingung dengan kehidupannya sebelum kematian.
“Cong, kok kamu bengong aje, sadar woy itu si mbok nanyain kamu, udah kaya orang minum golda di depan indomaret aja kamu,” Wowok kebingungan dengan pocong yang terdiam, sudah 5 menit sejak si mbok bertanya. Wowok terus menepuk pundak pocong, hingga akhirnya pocong pun tersadar dan langsung disuguhkan untuk menjawab pertanyaan si Mbak di tengah ritual dimana makhluk halus halus lain menjadi saksinya.
“Siapa namamu? Apakah kamu berbuat baik selama kamu hidup?”
“Wok, kok tegang banget ya, kayak ujian skripsi metode kualitatif, ini ga ada ice breaking-nya kah setelah ini,” ucap pocong sambil berbisik.
“Tadi kamu diem, sekarang malah bercanda, lagian mau kualitatif ataupun kuantitatif kalo dosen pengujinya killer tetep aja, sono jawab aja buruan biar cepet lulus”
Menarik nafas dalam dalam sambil meyakinkan untuk mengucap, pocong akhirnya berkata, bahwa ia tak ingat siapa sebenarnya, jati dirinya terasa hilang tanpa sebab. Si Mbak langsung bertanya-tanya akan jawaban tersebut. Sebab pocong seharusnya mati ketika ia dewasa, jika ia lupa akan suatu hal, ada kemungkinan ia adalah bayi yang meninggal dan akan berwujud tuyul, seperti salah satu pengikut ritual tersebut. Tangan pocong pun dipegang erat,
“kamu adalah orang yang mati ke-105.340.997.672, tapi aku tidak tahu bagaimana kehidupanmu wahai anak muda, sepertinya kamu belum berdamai atas kematianmu,”
“Lalu aku harus bagaimana?”
“Apakah tidak ada satu kata ataupun apapun yang kau ingat dari hidupmu? coba diingat-ingat, pergi ketempat yang kau sukai, kembalilah jika kau sudah mendapatkan sesuatu,”
“aneh, masa orang sesakti kamu tidak punya sesuatu yang bisa membuatku ingat akan suatu hal, doraemon yang kucing aja punya kantong ajaib, ayo keluarkan alatmu,”
“tidak kamu harus mencarinya sendiri anak muda, karena kebenaran tidak pernah salah”
Dengan nada berlagak papa Zola, Si Mbak tahu bahwa lebih baik pocong mencari kebenarannya sendiri. Meskipun ia punya alat kuno yang mungkin bisa mengungkapkan kabut dibalik ini semua, misteri lebih baik diungkapkan tanpa cara instan. Pocong akhirnya hanya bisa menegakkan kepala dan mengajak Wowok untuk pergi dari pohon setelah ritual di akhiri untuk sementara waktu.



