Judul: Perempuan Berkalung Sorban
Sutradara: Hanung Bramantyo
Produser: Chand Parwez Servia
Genre: Drama, religi, isu gender
Pemain: Revalina S. Temat, Oka Antara, Reza Rahardian
Tahun rilis: 2009
Durasi: 2 jam 11 menit (131 menit)
Film Perempuan Berkalung Sorban (2009) merupakan garapan sutradara Hanung Bramantyo. Dengan judul yang kontroversial, seorang “perempuan mengenakan sorban” yang biasanya dikenakan di kepala seorang laki-laki Muslim sebagai kalung di lehernya secara metaforis menggambarkan konstruksi posisi laki-laki dan perempuan dalam masyarakat Islam (Anakotta, 2020).
Anisa (Revalina S. Temat) digambarkan sebagai seorang perempuan yang lebih dulu kritis terhadap ketimpangan haknya sebagai seorang perempuan.
Dirinya diceritakan sebagai anak perempuan terakhir dari tiga bersaudara. Kedua kakaknya adalah laki-laki. Dirinya lahir dan besar di dalam pesantren karena ayahnya merupakan seorang kiai dan pemilik pesantren tersebut. Tokoh utama, Anisa, menjadi representasi perempuan yang mengalami tekanan psikologis akibat budaya patriarki yang kental dalam lingkungan pesantren dan keluarga (Meilani & Ahmadi, 2025).
Budaya pesantren yang melekat di masyarakatnya berkembang menjadi ajaran atau keyakinan agama, tidak hanya karena ingin mempertahankan dan melanggengkan kekuasaan (Fabriar, 2013). Dalam film Perempuan Berkalung Sorban (2009), budaya inilah yang ingin dilawan oleh Anisa. Film Perempuan Berkalung Sorban berusaha menunjukkan penolakan dan perlawanan terhadap praktik diskriminasi terhadap perempuan di pesantren.
Dalam film Perempuan Berkalung Sorban (2009), laki-laki dianggap sebagai superior dan perempuan dianggap sebagai inferior. Berbagai macam bentuk budaya patriarki dan diskriminasi terhadap perempuan disajikan dan direpresentasikan melalui film ini (Fabriar, 2013). Hal ini dibuktikan dengan adegan saat Anisa kecil menunggangi kuda dan ibunya berkata, “Anak perempuan nggak boleh pecicilan,” lalu dibalas Anisa dengan, “Aku hanya pengen naik kuda, kenapa nggak boleh? Itu buktinya Mas-Mas boleh?” Lalu, Nyai (ibu Anisa) mengatakan bahwa, “Mereka anak laki-laki, tidak apa-apa.”
Dari potongan dialog Anisa dengan ibunya di atas, tercermin bias gender yang tidak adil. Anak perempuan dibatasi karena dianggap “tidak pantas”, sementara anak laki-laki diperbolehkan karena norma sosial yang menganggap laki-laki bebas berekspresi. Ini adalah bentuk kesenjangan gender dalam keluarga yang harus disadari dan diubah.
Belum lagi tentang Anisa yang harus menikahi laki-laki pilihan ayahnya karena dianggap akan membawa keberuntungan bagi Anisa dan pesantren yang didirikan oleh ayahnya. Laki-laki tersebut bernama Samsudin (Reza Rahardian). Namun, pernikahan itu tidak berjalan dengan mulus karena ternyata Samsudin memiliki kepribadian pemalas, kasar, dan pemaksa. Adanya pernikahan tersebut membuat Anisa mengubur mimpinya untuk berkuliah.
Sometimes, dreams don’t die, they just get quiet.
Dari hasil pernikahan tersebut, Anisa menghadapi trauma hebat karena mengalami kekerasan dan poligami. Karena terlalu putus asa dengan kehidupan pernikahannya, Anisa kemudian datang kepada Khudori (Oka Antara) untuk menceritakan keluh kesahnya. Pada akhirnya, pernikahan Anisa dengan Samsudin berakhir karena sebuah kesalahpahaman yang dibesar-besarkan oleh Samsudin.
Khudori merupakan senior yang sangat Anisa hormati. Diam-diam, dirinya menyimpan rasa kepada Khudori. Dari Khudori, Anisa belajar tentang kebebasan dan tentang kebenaran bahwa perempuan sejatinya juga memiliki hak yang sama dengan laki-laki, terutama dalam pendidikan. Khudori memberikan Anisa buku-buku, mendorongnya untuk belajar dan melihat dunia luar selain tembok pesantren, serta mengakui kecerdasan Anisa ketika tidak ada orang lain yang mengatakan hal tersebut. Jadi, tokoh Khudori tidak hanya berperan sebagai pendamping emosional Anisa.
Setelah Anisa berpisah dengan Samsudin, Anisa lebih dulu meninggalkan dunia pesantrennya. Dirinya pergi merantau tanpa bantuan siapa pun. Dia memulainya dari nol. Berkuliah dan bertahan di perantauan.
Momen saat Anisa menolak pembenaran keagamaan mengenai budaya patriarkal yang selama ini ia terima untuk membungkamnya menunjukkan bahwa ia terus membaca, berpikir di tengah tekanan, bertanya, dan melawan. Ia bukan hanya menunjukkan diri sebagai seorang perempuan yang menderita dan menerima nasib sebagai takdir Tuhan.
Ada satu kutipan dari tokoh Anisa yang membuka pikiran:
“Orang tahu mana yang benar dan mana yang salah itu lewat buku. Orang tahu dunia luar yang belum mereka datangi itu juga lewat buku.”
Bagi Anisa, seorang perempuan yang memperjuangkan kesetaraan dan kebebasan berpikir dalam budaya pesantren yang konservatif, buku menjadi senjata pembebasan yang paling ampuh. Melalui buku, ia mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, sehingga dirinya dapat membedakan antara nilai universal kesetaraan gender dengan stereotip budaya yang menganggap bahwa “perempuan tidak boleh pecicilan”. Melalui buku juga, ia dapat mengenal dunia luar yang belum pernah ia datangi.
Fakta yang membantunya menyadari bahwa batasan yang dialaminya bukan kodrat, tetapi konstruksi sosial yang dapat diubah, sehingga buku memberinya argumen logis, dasar moral, dan inspirasi untuk berani berpikir kritis, menolak ketidakadilan, dan memperjuangkan haknya sebagai manusia yang setara.
Bukan agamanya yang dilawan, perlawanan Anisa adalah perlawanan terhadap sistem. Dirinya tidak melawan Allah. Sebaliknya, dirinya melawan cara laki-laki berbicara atas nama Allah untuk mengekang perempuan di tempat yang mereka tentukan. Itu merupakan perbedaan yang sangat penting.
Pada akhirnya, kisah Anisa adalah tentang seorang perempuan yang menolak untuk menyerah, bukan dengan cara yang dramatis atau heroik, tetapi dengan cara yang sederhana dan berat sekaligus. Dirinya terus menjadi diri sendiri dalam dunia yang terus memintanya untuk menjadi sesuatu yang lain. Dan dalam keteguhan yang tenang itu, sejatinya menyimpan perlawanan yang paling dalam. “Surga menurut janji Allah, ada di bawah telapak kaki kita. Perempuan. Tapi jangan lupa satu hal, bahwa Allah juga memberikan manusia kebebasan. Mau jadi apapun kalian nanti, pilihlah jalan Allah dengan rasa bebas dan dengan hati yang ikhlas. Dengan begitu InsyaAllah, kita akan hidup dengan tenang tanpa rasa benci.” – Anisa, Perempuan Berkalung Sorban.



