Malang, PERSPEKTIF — Sepuluh tahun berlalu, masyarakat Malang masih setia berbaris di depan gedung Balai Kota Malang menolak lupa dan merawat ingat pada (10/09). Aksi kali ini bertajuk “Memperjuangkan Keadilan, Melawan Impunitas” dihadiri kurang lebih 100 orang. Dalam rangka memperingati satu dekade perjalanannya, Aksi Kamisan Malang menghadirkan sejumlah perubahan dalam pelaksanaannya.
Komite aksi mencoba menginovasi bentuk aksi dengan mengubah posisi, menambah rangkaian, dan penyesuain posisi perokok. Kegiatan dimulai dengan aksi diam, dilanjut mimbar bebas seperti biasa, lalu penampilan musikalisasi puisi dari massa aksi, disusul kuliah jalanan dari akademisi UB dan UM, dan ditutup dengan doa sebelum bubarnya massa aksi.
Taufiq, selaku fasilitator memberi respon mengenai perubahan yang terasa selama 10 tahun aksi kamisan berjalan.
“Sebenarnya Aksi kamisan itu selalu fluktuatif, kadang sepi kadang ramai. Tapi syukur kali ini ramai dihadiri banyak teman-teman, mungkin sekitar 100 orang,” ujarnya (10/09).
Ia juga menambahkan perubahan sistem komite aksi yang dulunya sukarela menjadi lebih terstruktur dan dapat diregenerasi supaya aksi kamisan dapat konsisten selalu.
“Bahwa masih ada yang terus melawan, bahwa masih ada yang terus bersuara, dan ini adalah ruang bagi kita semua untuk terus bersuara,” ujar Taufiq.
Daud, salah satu massa aksi turut menyambut baik perubahan aksi.
“Ini adalah suatu angin segar ya. Merubah format, mencari gaya baru dalam membungkus aksi damai Kamisan,” ucapnya (10/09).
Daud merasa perubahan ini dapat menyebarluaskan dan menarik massa untuk ikut hadir di Aksi Kamisan Malang. Ia menutup dengan pesan “takutlah dan melawan”.
Aksi Kamisan Malang tidak sedikitpun menunjukan akan berhenti dalam waktu dekat. Aksi ini akan terus berjalan dan semakin menyebar di berbagai kota sebagai ruang suara masyarakat yang menolak rupa dan merawat ingat. (yzn)





