Malang, PERSPEKTIF – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) menginisiasi program dosen fasilitator untuk mendampingi kelompok mahasiswa baru selama pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Candradimuka 2026. Program yang direncanakan berlanjut hingga masa perkuliahan ini lahir dari kebutuhan mendesak akan pendampingan yang lebih dari sekadar simbolis, terutama terkait isu kesehatan mental yang belakangan dinilai kian menguat di kalangan mahasiswa.
Panitia Dosen PKKMB FISIP 2026, Verdy Firmantoro, mengatakan urgensi program ini tidak lepas dari tren nasional yang menunjukkan meningkatnya persoalan kesehatan mental di lingkungan kampus, tidak hanya di Universitas Brawijaya. Menurutnya, beban pendampingan semacam ini terlalu berat jika hanya dibebankan kepada fasilitator mahasiswa yang notabene masih menjadi mahasiswa baru itu sendiri.
“Ada banyak informasi, mungkin enggak hanya di Brawijaya, di kampus manapun, isu kesehatan mental lagi menguat. Kalau itu hanya ditanggungkan ke fasilitator mahasiswa, itu berat. Itu bisa ditanggungkan ke fasilitator dosen,” ujar Verdy (13/8).
Ia menjelaskan, dosen fasilitator memiliki dua fungsi utama, yakni pendampingan akses layanan kesehatan mental dan pendampingan pengembangan prestasi mahasiswa. Untuk kebutuhan kesehatan mental, dosen fasilitator berperan memastikan mahasiswa yang membutuhkan bantuan dapat dirujuk ke unit layanan yang tepat, baik ke Unit Layanan Terpadu Kesejahteraan Sosial dan Psikologi (ULTKSP) maupun Biro Konsultasi Mahasiswa (BKM).
Urgensi kehadiran dosen fasilitator turut didorong oleh persoalan praktik joki dalam pengerjaan tugas PKKMB yang selama ini berulang setiap tahun. Ketua Pelaksana Candradimuka 2026, Zuhal Dhiaul Haq menyebut dosen fasilitator dihadirkan sebagai tempat konsultasi mahasiswa baru dalam mengerjakan penugasan, sekaligus sebagai upaya memutus rantai joki yang menurutnya berakar dari ketidakpahaman mahasiswa akibat minimnya edukasi sebelum penugasan diberikan.
“Kalau cuma berhenti di tombol submit, semua orang pasti joki. Makanya ini untuk memutus rantai tersebut, kami memudahkan teman-teman mahasiswa baru untuk tidak joki,” jelasnya (13/8).
Sementara itu, Dekan FISIP UB, Imron Rozuli mengatakan pendampingan dosen fasilitator direncanakan berlangsung hingga rangkaian FISIP Bakti Desa (FBD), bahkan berpotensi berlanjut lebih jauh jika programnya berjalan baik.
“Nah itu pendamping yang akan mendampingi kelompok ini sampai nanti di FBD. Minimal gitu. Syukur-syukur bisa terus,” ujar Imron (13/8).
Meski demikian, Verdy mengingatkan bahwa keberlanjutan program hingga tahap tersebut belum dapat dipastikan sepenuhnya. Ia menyebut evaluasi menyeluruh terhadap program dosen fasilitator akan dilakukan setelah berjalan sekitar satu semester, dengan salah satu indikator penentunya adalah persebaran anggota kelompok mahasiswa baru yang sengaja dibuat heterogen berdasarkan asal wilayah. (pa,saz,nat)




