Setiap tahun, tema RAJA Brawijaya berganti wajah. Tahun ini, tema “Gelora Brawijaya: Membentuk Generasi Transformatif yang Inklusif, Inovatif, Berwawasan Global, dan Berkelanjutan untuk Indonesia Emas 2045” diusung. Tetapi, praktik lapangan tidak beranjak dari pola lama. Evaluasi tahunan yang digembar-gemborkan tidak pernah benar-benar menyentuh akar masalah, melainkan berhenti sebagai ritual administratif semata.
Klaim inklusivitas mengalami nasib yang sama, bahkan lebih ironis karena menyangkut kelompok rentan di masa transisi ke kampus. Mahasiswa baru penyandang disabilitas beberapa kali mengeluh soal interaksi sosial yang kurang dengan mahasiswa lain, termasuk hambatan bantuan akibat komunikasi yang terhambat, dan keluhan mengenai penugasan yang diberikan di luar kemampuan mereka. Artinya, label “inklusif” yang dipasang di setiap tema PKKMB berhenti sebagai jargon seremonial, sementara mahasiswa disabilitas masih berjibaku menghadapi sistem yang belum dirancang untuk mereka.
Slogan berganti setiap tahun, tetapi mekanisme informasi yang mendadak dan janji evaluasi yang mandek diwariskan seperti tradisi yang kebal kritik.Selama evaluasi hanya jadi basa-basi penutup acara dan mahasiswa baru, termasuk mahasiswa disabilitas, tidak pernah dilibatkan sebagai penentu arah perbaikan, RAJA Brawijaya akan terus mengulang kesalahan yang sama di balik tema yang tampak baru.
Buletin PKKMU Edisi 1 Tahun 2026 dapat diakses di link berikut ini:
https://bit.ly/BuletinPKKMUEdisi12026





