Malang, PERSPEKTIF – Oase Institute mengusung tema “Suara-Suara yang Merawat Republik: Menguji Kedaulatan Rakyat Di Atas Kuasa Modal” dalam seminar dan bincang buku pada Rabu sore (19/08). Acara ini mengulik hasil reportase Project Multatuli dalam buku Tersungkur dan Tetap Melawan serta bentuk aktivisme di masa kontemporer.
Cara berpikir pemerintah hari ini menghadirkan tantangan berat bagi nalar kritis warga. Hal tersebut disinyalir oleh Latif Fianto, akademisi Ilmu Komunikasi, sebagai keadaan yang timbul karena pola komunikasi pemerintah hari ini digerakkan oleh sindrom absolutisme atau ketakutan akan hilangnya kekuasaan.
Menurut Latif, siklus ketidakadilan yang kerap dilakukan sebagaimana terekam dalam buku Tersungkur dan Tetap Melawan adalah dengan menghabisi sumber-sumber penghidupan rakyat. Sehingga “negara datang sebagai penyelamat” menjadi narasi yang makin subur.
Anisa Rizki Sabrina, pengajar di rumpun serupa, menegaskan bahwa kehidupan demokrasi tidak berlangsung dalam ruang setara karena rakyat berhadapan dengan negara, korporasi, pemilik modal, elit politik, media, dan aktor lain.
Bagi Anisa, situasi demokrasi dapat dilihat sudut pandang Pierre Bourdieu sebagai arena pertarungan modal. Sehingga dalam hal ini, kehadiran media alternatif memegang peranan penting dalam memfasilitasi akses rakyat terhadap agenda publik.
“Kehadiran reportase ini sungguh menjadi penting karena mampu memberikan visibilitas kepada persoalan yang sebelumnya berada di luar agenda dominan,” ujar Anisa (19/08).
Pada masa kini, masyarakat memiliki banyak opsi yang menjadi simbol aktivisme. Anisa menyebut salah satunya melalui pictivism atau picture-activism seperti hero green dan brave pink maupun peringatan darurat dengan berlogo Garuda yang sempat ramai di bulan Agustus hingga September 2025.
Terkait merawat suara, Latif menyoroti produksi tulisan sebagai upaya mengembangkan nalar kritis. Menurutnya, perdebatan atas produksi pemikiran merupakan manifestasi dari suara-suara yang merawat republik. (zn)





