Sewaktu kecil, orang-orang dewasa selalu melarang untuk jangan pernah coba-coba minum kopi. Memangnya kopi itu sebegitu pahitnya, ya? Apakah rasanya sepekat seperti warna hitam ataupun coklatnya itu? Kenapa orang-orang dewasa suka sekali minum kopi?
Namun, bagai ungkapan yang lahir dari masyarakat; larangan itu ada untuk dilanggar. Jadi, ketika baju ini sudah terlalu kecil di tubuh, bukanlah lagi suatu kesalahan untuk merasakan pahitnya biji kopi yang telah digiling ke dalam mulut, kan?
Awalnya semua itu terasa keren sekali, seperti sensasi saat menaiki anak tangga kejuaran. Dewasa, begitulah judulnya. Bisa melakukan berbagai hal sebebasnya. Bisa mencicipi berbagai jenis kopi dari yang paling mild sampai yang paling bold. Tapi, sejujurnya, tak ada kesenangan di balik sensasi tersebut. Cuma pahit, pahit, dan pahit. Anehnya, itu tidak mau berhenti.
Pahit sudah menjadi rasa pokok yang diperlukan dalam keseharian. Lagipula, si manis juga tidak akan pernah lagi berkunjung. Masanya sudah habis. Padahal, rindu selalu menunggu. Tapi, mau sebanyak apapun sendok gula yang dituang pun tidak akan lagi memberikan rasa manis, ia sudah larut begitu apik oleh pahit.
Lihat saja, sepasang kaki ini secara otomatis mengikuti aroma getir dari kios kopi di ujung kanan sana. Tempatnya serba putih, bahkan segala furniturnya juga berwarna putih, hanya papan namanya saja yang berkelip hijau. Semuanya terang berhiaskan lampu-lampu bergaya minimalis, menyelimuti pahit yang akan menyapa lidah nanti. Lucu bukan? Lucu karena pengibul. Tidak seperti yang ditampilkan.
Jadi dewasa, justru tidak ada lagi hal yang seru. Apa memang hidupku saja yang seperti ini? Atau usia dua puluh tahun memang rasanya seperti ini? Bertubi-tubi pahit dirasakan sampai tidak mengenali lagi seperti apa rasa manis? Memang, masih maukah rasa manis menyinggahi indra kembali?
“Emang kamu lebih suka rasa manis, ya?” sahut suara seseorang yang masih menemani langkahku. Lagi-lagi kalimatnya seakan tahu guratan-guratan yang tersembunyi di kepala.
“Enggak terlalu, sih.”
“Nah, kamu kan lebih suka gurih dibandingkan manis.” Wajah Jake terukir senyum, “Kamu justru malah jadi lebih hidup setiap nyicipin rasa yang gurih.”
Pernyataan tersebut menghentikan langkah kaki ini, mengalihkan fokus obsidian untuk menyelami lautan jernih miliknya. Jika dibandingkan dengan rasa-rasa lain yang langsung meledak, memang sih, gurih itu sangat kompleks. Dia datang seakan penuh dengan dimensi yang perlu ditelusuri lebih jauh.
Kesan pertamanya tidak bisa dideskripsikan dengan jelas. Namun, kian dia menetap, intensitas kelekatan rasanya akan kian terbangun, meninggalkan jejak kepuasan dan kenikmatan. Menyelimuti indra penuh kelembutan yang tidak akan pernah pergi.
Kira-kira apa saja sensasi gurih yang membuatku tertawa itu? Mmm.. sayur goreng asam khas jakarta di atas meja makan, risol mayo Kantin 90, soto depan SD 08, nasi kuning di pojok kantin, bakmie ayam sahadja, rendang dekat Batu, dan sekarang bertambah ramen seafood yang mana juga merupakan kegemarannya. Semua selalu tersaji secara hangat.
“Banyak rasa gurih di sekitar supaya kamu nggak terlalu fokus sama rasa kepahitan dunia saat ini. Mereka masih ada, nemenin di antara pahit itu,” ujar Jake lagi.
Batin yang terbiasa riuh ini berhasil diredam. Ada sesuatu yang perlahan menyentuh tepat pada satu titik di hati, mengubah cara memandang rasa; bahwa yang membuat hidup senang setelah kepahitan tidak selalu harus manis. Bisa saja itu asin, asam, atau bahkan pedas. Sesuai dengan preferensi kesukaannya itu apa.
“Kalaupun kamu udah lupa sama rasa manis, tapi manis nggak akan pernah segan untuk mengenalkan dirinya lagi. Bahkan, ia bisa datang bersama si gurih. Kayak Butterscotch Latte?”
Senyumku perlahan mengembang dibuatnya, “Iya, Butterscotch Latte yang bisa aku rasain pas ada uang lebih.”
“Kamu mampu beli dan selalu bisa ngerasainnya.”
—





