Lompat ke konten

Bagian 1: Yang Dicari

Ilustrator - Ida Ayu Ofel
Oleh: Dhara Yuliannisa*

Malam itu seharusnya sama saja seperti malam-malam sebelumnya, sunyi, dingin, dan membosankan. Tidak ada yang benar-benar berubah di pemakaman kecilku ini. Pohon beringin masih berdiri angkuh dengan penghuni lamanya yang sangat galak, semak-semak melati tetap tumbuh liar tanpa arah, dan aku masih terjebak di tempat yang sama, dengan kain kafan yang terus membatasi gerakku.

“Cong, lu beneran gak mau keliling?” suara Genderuwo itu kembali mengganggu. Wowok, seperti biasa, muncul tanpa diundang dengan bau singkong bakar yang menyengat entah berasal dari mana.

Aku menggeleng pelan, meski gerakan itu terasa kaku. “Buat apa?”

“Ya cari hiburan lah! Nakut-nakutin orang kek. Lu ini pocong ye, bukan patung,” dia terkekeh, jelas menikmati guyonannya sendiri.

Menakut-nakuti manusia, ya? Aku terdiam sebentar. Ide itu sangat sederhana. Bahkan mungkin memang itu yang seharusnya kulakukan sejak awal. Bukankah makhluk sepertiku memang ada untuk itu? Mengganggu, menakuti, dan mengusik mereka yang masih hidup.

Mungkin… itu bisa mengisi waktu. Tanpa banyak pikir, aku akhirnya bergerak. Melompat pelan meninggalkan tanah yang selama ini kutempati. Wowok tertawa kecil di belakangku, mungkin puas karena akhirnya aku melakukan sesuatu yang “normal” bagi makhluk sepertiku.

Aku tidak tahu harus ke mana. Tapi kakiku yang terikat bersama ini seperti menyelusuri sisa kebiasaan ketika aku masih manusia, membawaku menyusuri jalan setapak, keluar dari area pemakaman. Aku pun merasa udara di luar terasa berbeda, entah mengapa terasa hangat dan menenangkan.

Dan di sanalah aku melihat targetku, sebuah rumah kecil dengan lampu teras redup yang berkedip pelan. Tidak ada yang istimewa, justru terlihat sepi dan sunyi, tempat yang sempurna untuk aku menakuti para manusia tersebut.

Aku mendekat perlahan. Dalam pikiranku yang kosong, hanya ada satu tujuan yang muncul tiba-tiba, berdiri diam, lalu melihat reaksi manusia yang ketakutan, hanya sesederhana itu.

Namun langkahku terhenti saat melihat sosok di teras. Seorang perempuan duduk sendirian di kursi kayu. Tubuhnya sedikit membungkuk, kedua tangannya memeluk sebuah bingkai foto erat-erat di dadanya. Rambutnya terurai berantakan, bawah matanya sangat dalam, dan bahunya naik turun menahan sesuatu yang tidak ingin dia lepaskan.

Dia menangis, membuatku terdiam sejenak. Terbesit di pikiranku, apakah dia sudah bisa merasakan kehadiranku? Tapi entah kenapa, ada sesuatu dari perempuan itu yang membuat langkahku terasa sangat berat.

“Aku kangen…,” bisiknya.

Aku mendekat dengan pelan dan tanpa suara, seperti yang seharusnya kulakukan sebagai sesuatu yang bukan lagi manusia. Dalam hitungan detik, aku sudah berdiri tepat di belakangnya, jarak yang seharusnya cukup untuk membuat siapa pun menjerit ketakutan jika mereka bisa melihatku. Tapi dia tidak. Matanya hanya tertuju pada foto yang dia peluk erat di dadanya, seolah itu satu-satunya hal yang masih bisa dia genggam.

Dan saat aku ikut mengintip untuk melihat foto tersebut, aku merasa jantungku seperti diremas dan sesak. Padahal aku bahkan tidak yakin apakah aku masih punya jantung.

Foto itu menampilkan dua orang. Dia… dan aku, dalam balutan kebaya dan beskap yang dipenuhi dengan aksesoris melati, foto pernikahan kami yang terlihat sangat bahagia.

Potongan-potongan ingatan datang tanpa izin, kasar dan menyakitkan, seperti sesuatu yang dipaksa masuk ke dalam kepalaku. Tawa di sore hari, suara panggilan yang hangat, aroma melati yang pernah begitu akrab, dan satu kata yang terus berulang tanpa henti, “Mas.”

Perasaanku bergejolak semakin keras, tidak wajar, seolah mencoba merasakan bagaimana rasanya hidup dan mencintai. Aku mengenalnya, bukan sekadar tahu. Aku pernah hidup dan mencinta bersamanya.

“Katanya cuma sebentar….” Perempuan itu tersenyum pahit sambil memeluk foto itu lebih erat. “Katanya habis ini pulang….” Napasnya tersendat, suaranya retak di ujung kalimat. “Tapi yang pulang… cuma jasad kamu….”

Aku ingin mundur. Atau mendekat. Atau melakukan apa pun, maksudku apa saja untuk menghentikan rasa ini. Tapi aku tidak bisa. Tanganku terikat rapat oleh kain kafan, kaku dan tidak berguna, bahkan untuk sekadar menggapai seseorang yang seharusnya paling dekat denganku.

“Ih dingin….” Dia menggigil tiba-tiba, merapatkan tubuhnya sendiri.

Aku tersentak. Tanpa sadar, aku sudah terlalu dekat. Jadi ini yang terjadi jika aku mendekat? Aku tidak menakutinya. Aku menyakitinya.

Perlahan aku mencoba menjauh. Gerakanku canggung, lompatan kecil yang terasa lebih berat dari sebelumnya, tapi mataku tidak bisa lepas darinya, dari kesayanganku. Dia masih memeluk foto itu, menyandarkan kepalanya pada bingkai, seolah itu satu-satunya pengganti pelukan yang tidak lagi bisa dia miliki.

“Aku masih nunggu kamu, Mas…,” suaranya hampir hilang.

Kalimat itu sederhana, tapi menghancurkan segalanya.

Aku datang ke sini untuk mencari mangsa, untuk menakut-nakuti manusia seperti yang seharusnya dilakukan oleh makhluk sepertiku. Tapi yang kutemukan justru alasan kenapa aku tidak pernah benar-benar pergi dari tempat itu. Aku tidak tersesat. Aku hanya… belum siap meninggalkannya.

Di ujung jalan, suara berat terdengar lagi.

“Cong!” Wowok berdiri di sana, menatapku dengan ekspresi yang tidak biasa. Tidak ada tawa, tidak ada ejekan, hanya diam yang terasa aneh baginya. “Lu nemu ya?”

Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap perempuan itu, yang perlahan tertidur di kursi kayu, masih memeluk foto kami berdua seolah takut kehilangannya lagi.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku menjadi makhluk ini, aku benar-benar tahu bahwa aku bukan bertahan karena tidak punya tujuan. Aku hanya bertahan karena seseorang masih menungguku. Padahal aku bahkan tidak bisa mendekat, tidak bisa menyentuh, tidak bisa menenangkan, Aku hanya bisa… melihatnya berduka.

(Visited 25 times, 1 visits today)
*) Penulis adalah mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi angkatan 2024. Sekarang sebagai staf tetap Divisi Redaksi LPM Perspektif 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?