Pada 24 November 2025, BMKG mengeluarkan peringatan dini: curah hujan ekstrem akan melanda hampir seluruh Pulau Sumatera akibat Siklon Tropis KOTO dan Bibit Siklon 95B. Enam hari kemudian, 30 November 2025 pukul 20.00 WIB, BNPB mencatat angka yang membuat kita semua terdiam: 147 orang meninggal, 52 hilang, 28.427 mengungsi, 488 kejadian banjir dan longsor dalam waktu singkat.
Sains berbicara dengan angka yang dingin tapi jujur. Curah hujan mencapai 460 mm dalam 24 jam di Tapanuli, setara hujan dua bulan dalam sehari. Citra satelit BRIN menunjukkan 62% titik longsor terjadi tepat di bekas konsesi sawit dan tambang. Global Forest Watch mencatat Sumatera kehilangan 260.000 hektare hutan primer pada 2024 saja, bagian dari 5,87 juta hektare yang hilang sejak 2001. Lantas, tanpa adanya akar pohon yang menahan, air hujan langsung menggerus lereng gunung. Fenomena ini membuktikan mekanisme fisika sederhana: tanah jenuh air, sudut lereng kritis, lalu longsor.
Kitab Suci Al-Qur’an berbicara 14 abad lebih awal dengan kalimat yang kini terasa sangat dekat.
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Rum: 41)
Ayat itu bukan sekadar teks suci. Ia menjadi cermin yang sangat akurat bagi data satelit yang kita lihat hari ini. Sains menjelaskan bagaimana longsor terjadi. Al-Qur’an menjelaskan mengapa ia terjadi: karena kita melanggar amanah khalifah fil ardh, amanah yang Allah titipkan kepada manusia sebagai penjaga bumi (Al-Baqarah: 30). Konsep “mīzān” yang berarti keseimbangan alam telah disebut dalam Surah Ar-Rahman ayat 7–9, persis sama dengan konsep “ecological balance” yang digunakan para ilmuwan ketika mengukur daya dukung ekosistem. Fatwa MUI Nomor 04 Tahun 2014 sudah tegas menyatakan: “Kerusakan lingkungan hidup yang mengakibatkan bencana ekologis adalah haram hukumnya.”
Dua bahasa berbeda, namun dengan satu pesan yang sama. Kita tidak perlu memilih antara mendengarkan BMKG atau mendengarkan Al-Qur’an. Keduanya sedang berbicara tentang hal yang sama, hanya dengan cara yang berbeda. BMKG memberi peta zona merah dan peringatan dini. Al-Qur’an memberi peta zona dosa dan peringatan akhirat. Solusi yang ditawarkan pun tidak bertentangan: sains menawarkan reboisasi, moratorium izin di kawasan rawan, dan teknologi geospasial; sedangkan agama menawarkan taubat kolektif, zakat untuk penanaman pohon, dan khutbah Jumat tentang tanggung jawab khalifah. Semua itu sudah ada dalam fatwa dan ajaran yang jelas.
Sumatera sedang tidak marah. Ia hanya menunjukkan kepada kita tanda tangan kita sendiri yang tertulis di lereng-lereng gundul, di lahan-lahan sawit yang menggantikan hutan, di izin-izin tambang yang diberikan tanpa perhitungan risiko. Banjir dan longsor ini bukan takdir buta. Ini buah dari pilihan kita yang lupa bahwa kita pernah berjanji di hadapan Tuhan untuk menjadi penjaga bumi, bukan perusaknya.
Masih ada waktu untuk kembali. Masih ada waktu untuk menanam pohon, mencabut izin yang salah, dan memperbaiki hati. Sebelum tanda tangan berikutnya harus kita tulis lagi dengan nyawa saudara-saudara kita.





