Lompat ke konten

Resensi Film Pangku: Potret Buram Perempuan Pesisir Indramayu di Tengah Budaya Kopi Pangku dan Kemiskinan Struktural

Gambar: Instagram Film Pangku
Oleh: Dhara Yuliannisa Rahmani*

Film Pangku garapan Reza Rahadian membuka ruang bagi penonton untuk melihat Indramayu dari sudut yang jarang tersorot media arus utama. Bukan tentang sawah-sawah hijau, bukan pula tentang panen mangga, melainkan tentang perempuan pesisir yang hidup dalam tekanan ekonomi, budaya, dan relasi kuasa yang tidak seimbang. Melalui kisah Sartika, film ini menampilkan problem sosial Indramayu dengan cara yang halus namun tegas.

Tokoh utama, Sartika (Claresta Taufan), digambarkan sebagai perempuan muda yang sedang hamil dan meninggalkan kampung halamannya untuk mencari awal baru. Perjalanannya membawanya ke Eretan Kulon, kawasan pesisir yang dikenal keras, khususnya bagi perempuan dengan keterbatasan pendidikan dan dukungan keluarga. Pertemuan dengan Bu Maya (Christine Hakim) menjadi titik balik perjalanan Sartika. Maya
memberikan tempat tinggal, makanan, dan merawat Sartika hingga persalinan. Namun kebaikan itu berubah menjadi jerat. Usai melahirkan, Sartika diminta “membalas budi” dengan bekerja di warung kopi pangku, salah satu praktik yang memang nyata dan cukup umum dijumpai di titik-titik sepanjang jalur Pantura Indramayu. Di warung jenis ini, pekerja perempuan harus melayani pelanggan umumnya sopir truk, dengan cara duduk di pangkuan, menggelendot, dan memberikan pelayanan yang lebih intim selain menyajikan kopi. Film menggambarkan praktik tersebut tanpa sensasi, justru dengan pendekatan yang realistis dan akurat terhadap kondisi lapangan.

Pangku memberi sorotan pada realitas sosial Pantura sebagai jalur transportasi yang dikelilingi warung remang, karaoke kecil, hingga tempat hiburan yang mempekerjakan perempuan muda. Fenomena ini bukan sekadar “budaya,” melainkan efek langsung dari kemiskinan, minimnya akses pendidikan, dan terbatasnya lapangan kerja di daerah pesisir Indramayu. Reza menghadirkan pemandangan Pantura bukan sebagai latar dekoratif, tetapi sebagai bukti bahwa perempuan berada di titik paling rentan dalam ekosistem ekonomi informal.

Munculnya karakter Hadi (Fedi Nuril), sopir truk yang memperlakukan Sartika dengan hormat, menjadi harapan baru bagi Sartika. Namun konflik memuncak ketika diketahui bahwa Hadi sudah menikah dengan perempuan yang bekerja sebagai TKW di Arab Saudi. Indramayu sendiri memang dikenal sebagai salah satu daerah dengan angka pekerja migran perempuan tertinggi di Indonesia. Banyak keluarga bertahan hidup dari remitansi, tetapi angka perceraian, perselingkuhan, dan keretakan relasi rumah tangga juga tinggi. Film ini menunjukkan bagaimana kepergian perempuan membuka ruang kesenjangan emosional yang kompleks, baik bagi suami maupun anak-anak yang ditinggalkan.

Salah satu penguatan kritik sosial dalam film datang melalui tokoh Gilang, remaja laki-laki yang putus sekolah karena tidak mampu membayar biaya. Gilang bekerja sebagai buruh di pasar ikan, diperlakukan kasar, hingga akhirnya menjadi tukang parkir. Tokoh ini merepresentasikan fakta di lapangan bahwa banyak anak-anak di Indramayu berhenti sekolah karena keterbatasan ekonomi dan lingkungan yang tidak mendukung pendidikan.
Pangku menyoroti bahwa ketidaksetaraan akses pendidikan adalah akar dari banyak persoalan sosial, pekerja anak, pernikahan dini, dan reproduksi kemiskinan lintas generasi Pangku bukan menghakimi budaya lokal maupun individu. Film ini justru memotret bagaimana struktur sosial seperti kemiskinan, budaya patriarki, ketimpangan pendidikan, hingga ekonomi jalur Pantura, membentuk realitas yang membuat pilihan perempuan menjadi sempit.

Beberapa isu nyata yang berhasil diangkat antara lain tingginya angka pernikahan dan kehamilan usia muda, khususnya di wilayah pesisir Indramayu. Selain itu, muncul pula fenomena “kopi pangku” yang berkaitan dengan ketergantungan ekonomi terhadap pelanggan, terutama sopir truk, sebagai salah satu strategi bertahan hidup. Permasalahan putus sekolah juga terlihat bukan sekadar akibat keputusan individu, melainkan sebagai persoalan struktural yang dipengaruhi oleh kondisi sosial dan ekonomi. Di sisi lain, migrasi perempuan sebagai tenaga kerja wanita (TKW) kerap menjadi pilihan terakhir di tengah terbatasnya lapangan pekerjaan di daerah asal. Lebih jauh lagi, terdapat praktik eksploitasi yang kerap dibungkus dalam narasi “balas budi”, yang menjadi fenomena sosial cukup umum dan mengakar di komunitas pesisir. Semua ini dihadirkan tanpa dramatisasi berlebihan, tetapi dengan pengamatan sosial yang kuat.

(Visited 6 times, 6 visits today)
*) Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP dan Anggota LPM Perspektif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?