Malang, PERSPEKTIF– Di sebuah sudut Kelurahan Penanggungan, aroma tanah basah masih berpadu samar dengan ingatan akan bara pembakaran yang pernah menyala di masa lalu. Deretan kos-kosan dan warung kuliner kini berdiri di atas tanah yang dulunya menjadi nadi perekonomian warga, yaitu sentra gerabah Kota Malang. Pada tahun 70 hingga 90-an, kawasan yang saat itu lebih dikenal sebagai Desa Jenggrik telah lama tersohor namanya sebagai pusat kerajinan tembikar. Hampir setiap rumah kala itu memproduksi alat-alat rumah tangga dari tanah liat. Suara hentakan alat cetak dan percikan air yang membasahi tanah menjadi irama kehidupan sehari-hari.
Di sepanjang Jalan Mayjend Panjaitan, tangan-tangan para pengrajin warisan keterampilan dari nenek moyang itu membentuk tembikar sederhana yang masih sangat dibutuhkan masyarakat. Dari sinilah kawasan tersebut meraih identitasnya sebagai sentra tembikar, tempat di mana sejarah dan perekonomian warga pernah berdetak sangat kuat.
Namun, kisah kejayaan itu perlahan meredup sejak dekade 1990–2000, Kota Malang berubah. Ribuan mahasiswa datang setiap tahun, mendorong warga melihat peluang baru dari keberadaan kos-kosan dan industri kuliner. Rumah produksi gerabah disulap menjadi tempat tinggal mahasiswa, lahan tempat masyarakat mengais bahan utama tanah liat berubah menjadi bangunan kampus. Jumlah pengrajin pun menyusut drastis, anak-anak muda tak lagi melihat masa depan dalam putaran tanah liat. Dari sekitar 150 orang pengrajin gerabah yang dulunya mendiami tempat tersebut, kini hanya lima hingga enam yang masih bertahan, itu pun mereka tidak melakukan proses produksi setiap harinya.
Di antara perubahan yang tak terelakkan itu, masih ada sedikit nyala yang mencoba bertahan. Hariyono, seorang pengrajin yang sejak kecil tumbuh di tengah putaran roda meja gerabah, menyaksikan sendiri bagaimana kampungnya bermetamorfosis. Ia bukan hanya pewaris tradisi, tetapi juga Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Edukasi Gerabah yang berupaya menjaga warisan nenek moyang agar tak benar-benar terkubur, tergantikan oleh bangunan bertingkat.
Sisa-sisa Denyut Nadi Terakhir
Perbincangan dengan Hariyono di ruang tamu rumahnya (PERSPEKTIF/Akmal)
Sepanjang langkah kaki menyusuri gang di balik gapura bertuliskan ‘Kampung Wisata Edukasi Gerabah Penanggungan’ dinding-dinding kosong di sepanjang jalan gang itu disulap sedemikian rupa seolah menjadi galeri mini yang berhiaskan hasil-hasil kerajinan gerabah seperti piring yang digantungkan di tembok-tembok berbeda warna tersebut. Pada sisi kiri jalan, setelah menempuh setidaknya 300 meter dari gang masuk kampung tersebut, berdiri kokoh sebuah galeri seni milik Hariyono, salah satu dari segelintir pengrajin gerabah yang tersisa di daerah Penanggungan.
“Galeri itu didirikan tanpa bantuan pemerintah karena saya punya inisiatif tempat itu bisa menarik anak-anak untuk main ke sini dan mengenal (kerajinan gerabah, red),” tutur Hariyono saat ditemui di rumahnya yang penuh dengan sentuhan kerajinan gerabah pada hari Minggu pagi (09/11/2025). Hampir di setiap jengkal tangga menuju pintu masuk rumahnya terdapat patung-patung beragam bentuk terpajang, seolah menyambut siapa saja tamu yang datang bertandang ke rumah tersebut.
Ibarat denyut nadi, kondisi pengrajin gerabah di daerah tersebut kian mendekati denyut nadinya yang terakhir. Hidup segan, mati pun tak mau. Denyut-denyut nadi terakhir itu telah lama berusaha dihidupkan kembali oleh Hariyono dan pengrajin gerabah Penanggungan lain yang tersisa. Namun, seakan menghadapi jalan buntu, upaya-upaya itu hingga saat ini rupanya tak memberikan perubahan yang berarti. Minat generasi muda kampung tersebut untuk menekuni kerajinan gerabah rupanya tetap rendah, seolah daya untuk bangkit dari keterpurukan tak lagi dapat ditemui napasnya.
“Semakin berkurangnya pengrajin, semakin berkurangnya minat anak muda tentang gerabah di sini,” ujarnya dengan nada getir.
Kilat kegelisahan tak dapat terelakkan sempat hadir di wajahnya yang kini mulai termakan usia. Namun, Hariyono turut menjelaskan bahwa regenerasi yang berhenti di generasinya bukan merupakan satu-satunya faktor yang membuat jumlah pengrajin gerabah di daerah Penanggungan yang dulu mencapai angka 40 orang kini kian menyusut, sehingga hanya tersisa menjadi tiga pegiat seni kerajinan gerabah saja.
Alih fungsi lahan besar-besaran terjadi di Kota Malang pada awal tahun 2000-an yang ditandai dengan adanya pembangunan gedung-gedung perkuliahan di bawah naungan institusi Universitas Brawijaya. Identitas Malang sebagai kota pendidikan, pun, semakin melambung tinggi di mata para pendatang. Tak heran, banyak bangunan yang mendiami gang-gang di sekitar aliran Sungai Brantas yang dulunya dipenuhi oleh para pengrajin gerabah hingga menjadi suatu sentra industri yang besar pun lama kelamaan beralih fungsi menjadi bangunan kos-kosan serta lapak penjual makanan dan minuman.

Jalan di depan gang rumah serta galeri seni milik Hariyono (PERSPEKTIF/ Akmal)
“Dibanding gerabah, kalau ngomong finansial kan, kita berproses. Prosesnya tidak satu hari. Bisa tiga minggu, dua minggu, satu bulan baru kita mendapatkan (keuntungan, red) finansial dari itu,” tutur Hariyono.
Alih fungsi lahan yang terjadi mau tak mau juga membatasi dan mempersempit luas lahan di mana bahan baku utama pembuatan tembikar atau gerabah diambil. Kini, Hariyono dan pengrajin gerabah yang tersisa harus mengambil bahan dari wilayah kabupaten, sebab lahan utama di mana bahan pembuatan gerabah yang dulunya begitu mudah ditemui di wilayah kota kini telah sepenuhnya berganti menjadi pondasi sebuah bangunan.
“Di UB (Universitas Brawijaya) itu sangat luar biasa bahan bakunya, karena tanahnya subur untuk gerabah. Sebelum kampus kalian seperti sekarang, masih kebun, di situ kita mengambil tanah. Kemudian dari pihak kampus melarang karena bahaya penggalian (dikhawatirkan akan, red) mempengaruhi kontur dari bangunan, akhirnya kita dilarang (mengambil tanah, red),” lanjut Hariyono sembari menyesap teh yang pagi hari itu dihidangkan di ruang tamu rumahnya, tempat wawancara ini dilakukan.
Sementara itu, fenomena semakin berkurangnya jumlah pengrajin gerabah rupanya juga turut disadari oleh banyak pihak, terutama pemerintah serta generasi muda pegiat seni kriya itu sendiri. Salah satunya adalah Levanno, mahasiswa program studi Seni Rupa Murni Universitas Surabaya. Ia menjelaskan bahwa problematika menurunnya minat generasi muda untuk menekuni seni keramik maupun gerabah rupanya terjadi di banyak daerah sekaligus.
Sebagai mahasiswa seni rupa murni yang menekuni penjurusan khusus seni kriya keramik, Levanno menyayangkan fenomena tersebut. Menurutnya, seni keramik dan gerabah memiliki potensi ekonomi yang tinggi apabila terus digeluti di era sekarang. Apalagi pada era di mana produksi mereka telah lebih mengarah pada unsur dekoratif.
“Sebenarnya berkurang drastis itu kan faktor ketelatenan sama konsisten. Kalau aku sendiri, justru lebih kasihan sekaligus senang karena peluang bisnis di situ kan minim saingan. Tapi kalau emang dibilang sayang sekali, ya, sayang sekali,” ucap Levanno pada wawancara pada hari Jumat (14/11/2025).
Ia turut menjelaskan bahwasanya dirinya dan juga teman-temannya lain yang sesama penggelut seni kriya juga dihadapkan oleh menurunnya minat masyarakat umum untuk mencari tahu mengenai seni keramik dan gerabah itu sendiri. Untuk menanggulangi hal tersebut, telah banyak mahasiswa seni rupa dengan peminatan kriya keramik maupun gerabah yang mengadakan showcase atau pameran untuk memperkenalkan kerajinan keramik dan gerabah itu sendiri pada khalayak umum. Mengingat rupanya masih banyak masyarakat umum yang belum mengetahui perbedaan di antara keramik dan gerabah itu sendiri maupun beranggapan bahwa hasil kerajinan kriya selalu bernilai tinggi dan tidak fungsional.

Kerajinan topeng yang ada di galeri seni Hariyono (PERSPEKTIF/Ryenk)
“Kalau untuk dilirik atau enggaknya kita pameran bukan hanya sekedar karya, namanya showcase yang merupakan pameran memang khusus kriya. Karya-karya kita yang fungsional seperti gelas, guci, vas bunga, yang dari keramik kita pasarkan sesuai pasarnya sendiri. Kebanyakan orang kan mikirnya oh gelas dari keramik kan mahal, (showcase, red) untuk menanggulangi biar tahu kalau piring yang kalian gunakan itu sebagian ada yang dari keramik,” jelas Levanno.
Dampak perkembangan zaman memang tak dapat dihindari. Menurut Hariyono, mewujudkan kembali industrialisasi gerabah di daerah Penanggungan maupun daerah industri gerabah yang menghadapi masalah serupa kini bukan lagi menjadi tujuan utamanya. Kisah lain hari, lain masa, dan lain manusia. Kenyataan akan kisah lama kejayaan yang telah lama sirna itu kini tak lagi menghantui dirinya. Melestarikan kebudayaan dan kampung budaya menurutnya menjadi satu-satunya hal yang kini bisa ia perjuangkan. Menjadikan Penanggungan sebagai kampung edukasi wisata, pun, menjadi jalan pintas yang menurut Hariyono layak untuk dilakukannya.
Tumbuh dalam Jiwa, Redam oleh Waktu
Bukan baru setahun, dua tahun saja Hariyono menggeluti dunia tembikar atau yang lebih familiar di telinga kita sebagai gerabah. Ia dibesarkan oleh dan bersama tungku pembakaran gerabah. Kecintaannya pada gerabah terbentuk dari pengaruh keluarga besarnya yang telah turun temurun menghuni wilayah Penanggungan dan menjadi pengrajin dari generasi ke generasi. Gerabah seolah telah mengakar dan tumbuh dalam jiwa Hariyono, menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidupnya.

Bapak Hariyono saat ditemui di rumahnya (PERSPEKTIF/Akmal)
“Saya menggeluti gerabah kriya ini karena kebetulan kakek, buyut, bapak saya pengrajin juga. Saya sejak kecil, mungkin dari SD sudah menggeluti sampai sekarang,” ungkap Hariyono diselingi tawa (09/11/2025). Ia turut menjelaskan bahwa jauh sebelum porselen hadir dan dikenal oleh masyarakat Indonesia, gerabah telah lama jauh dikenal dan dikembangkan oleh nenek moyang kita.
Sentra industri gerabah Penanggungan tidak tiba-tiba sirna begitu saja, penurunan daya produksi, minimnya lahan pengambilan bahan baku, hingga alih fungsi lahan yang terjadi secara berkala rupanya turut diperparah oleh krisis ekonomi melanda Indonesia di tahun 1998. Cerobong-cerobong di pabrik gerabah yang dulunya aktif mengeluarkan asap tanda telah dilaluinya proses pembakaran pada gerabah makin lama tidak lagi dilihat oleh panca indera. 150 pengrajin gerabah yang pernah mendiami area sekitar pabrik, pun, satu persatu menghilang. Krisis ekonomi yang mencekik leher hampir seluruh masyarakat penghuni negeri ini, pun, juga tak mau lepas membunuh satu persatu pijar asa pengrajin gerabah Penanggungan.
“Ketika tahun itu mengalami krisis ekonomi, di situ harga terutama bahan baku bakar sangat tinggi. Jadi, untuk memproduksi biayanya tidak menutup, kita collapse di situ. Harga jual dengan harga minyak tidak sebanding, akhirnya para pelaku usaha keramik menutup usahanya karena tidak mampu membiayai operasionalnya,” sambung Hariyono, mata sekaligus jiwanya seolah tengah melanglang buana kembali ke masa lampau. Mengingat detail demi detail terkait peristiwa yang menandai berakhirnya kejayaan sentra industri gerabah Penanggungan yang pernah dirasakannya itu.
Tepatnya pada 2006, Hariyono menyebut bahwa tahun produksi terakhir gerabah terjadi. Itu pun dalam proses produksinya hanya menghabiskan bahan baku yang tersisa. Setelah seluruh bahan baku yang ada tak tersisa, pabrik tersebut tak lagi beroperasi hingga sekarang.
Sisa-sisa kejayaan yang masih ada itu berusaha diwariskan di era sekarang, namun memang lika-liku dalam prosesnya tidak dapat dihindari. Apalagi mengingat komunitas pengrajin gerabah Malang yang dulu begitu aktif mengudara kini juga kian terkikis oleh waktu. Usia para pengrajin yang tak lagi muda membuat komunitas mereka kini tak seaktif dahulu, pergerakan mereka pun semakin terbatas. Asa-asa itu kini coba mereka perjuangkan pada generasi yang lebih muda, meskipun dalam keterbatasan akan lahan dan minat yang seolah tak henti menghimpit.
Mendongkrak Batasan demi Batasan
Selain sentra industri gerabah di Penanggungan, Kota Malang juga sempat memiliki sentra industri keramik yang dahulu tak kalah tersohor namanya di daerah Dinoyo. Industri keramik dan gerabah yang berkembang pesat pada tahun 90-an tersebut sama-sama menemui masa depan yang cukup tragis, masalahnya sama, hilangnya lahan sekaligus minat generasi muda untuk menekuni seni kriya keramik maupun gerabah.
Hariyono menjelaskan bahwa kepopuleran keramik dan gerabah di nusantara pada awalnya dipicu oleh hasil produksi mereka yang mengedepan fungsi rumah tangga. Pada masa awal maraknya produksi, banyak pabrik-pabrik keramik dan gerabah yang mengudara di Kota Malang, memproduksi banyak barang rumah tangga pesanan masyarakat. Tak hanya warga Malang sendiri, bahkan pesanan yang masuk mencapai hingga daerah luar kota.
Namun, semakin berkembangnya zaman, muncul pertanyaan, apakah keramik dan gerabah hanya dapat diproduksi dalam bentuk peralatan rumah tangga? Dari sana, masyarakat kelurahan Penanggungan dan Dinoyo mulai mendongkrak batasan yang ada. Mereka menciptakan kerajinan souvenir dari keramik dan gerabah.

Produk dekoratif yang dihasilkan oleh Kampung Gerabah Penanggungan (PERSPEKTIF/Ryenk)
“Salah satu warga yang kerja di situ (pabrik, red) mengembangkan menjadi bentuk-bentuk dekorasi, termasuk bapak saya dulu, (dahulu dipertanyakan, red) keramik kok bentuknya gitu-gitu aja seperti kloset. Apa gak bisa dibentuk hiasan? Nah, dari situ produk yang mereka hasilkan tetap keramik, tapi bentuk dan ukurannya sudah berbeda,” ujar Hariyono.
Ruang tamu kediamannya yang dikunjungi oleh tim LPM Perspektif pagi hari itu memang menunjukkan seberapa besar rasa cinta Hariyono pada kerajinan keramik dan gerabah. Mulai dari vas bunga, asbak, hingga hasil dekorasi seperti patung dengan ragam ukuran, warna, dan corak dapat ditemui di sana. Hariyono turut menjelaskan bahwa terdapat perbedaan yang mencolok pada hasil kerajinan keramik maupun gerabah khas Malang dengan daerah lainnya. Perbedaan ini dapat diamati melalui warna dan bentuk.
“Dari finishing pewarnaan dan bentuk itu sangat berbeda. Saya pasti bisa bedakan mana Malang, mana yang dari luar Malang. Kalau bahan bakunya lebih bagus dibilang (daerah, red) Malang, karena syarat memenuhi kata porselen, sangat memenuhi syarat,” terang Hariyono sambil meletakkan dua bentuk patung keramik bersisian, satu merupakan produksi Malang, sementara satunya lagi ia dapatkan sebagai souvenir dari pengrajin daerah lain. Perbedaan dalam warna memang tampak cukup mencolok di sana.
Perkembangan sekaligus alih fungsi seni keramik dan gerabah dari terapan menjadi dekoratif rupanya mendukung eksistensi keduanya masih bertahan di era sekarang. Hariyono menuturkan bahwa kini pengrajin gerabah Penanggungan hanya akan mulai bekerja apabila pesanan barang telah masuk. Hasil kerajinan gerabah dalam bentuk dekoratif rupanya lebih diminati di era sekarang. Banyak pesanan yang mereka terima terutama pada hiasan berbentuk vas atau pot bunga dan juga souvenir lainnya.
“Kita hitung perbulan lah, ya. Tidak begitu bisa dipastikan, tapi sebetulnya ada beberapa walaupun dalam jumlah kecil, besar, tetap ada (pesanan yang masuk, red). Kalau harga bervariasi sesuai kesulitan yang dikerjakan, kalau bisa saya kasih gambaran (harganya, red) sekitar 5000 rupiah ke atas,” ungkap Hariyono. Ia turut menjelaskan bahwa penghasilannya serta warga lain yang masih menggeluti seni kriya gerabah sebenarnya dapat dikatakan mencukupi, namun memang dalam prosesnya bertahap.
Seni keramik dan gerabah memang banyak disalahpahami sebagai satu kesatuan seni kriya yang sama, namun sebenarnya terdapat perbedaan di antara keduanya. Sebagai dua industri kriya yang sempat berjaya di Kota Malang, seni keramik dan gerabah selalu berjalan beriringan dalam perkembangannya. Meskipun memiliki bentuk akhir yang terbilang menyerupai satu sama lain, namun dari segi bahan baku hingga proses pembuatan tidak sepenuhnya sama dan bahkan cenderung bertolak belakang.
Hariyono menjelaskan bahwa gerabah menggunakan tanah liat dengan unsur silika dan logam lebih sedikit di dalamnya sebagai bahan baku utama pembuatannya, sementara porselen atau keramik cenderung menggunakan tanah olahan yang bahannya lebih dikenal masyarakat sebagai tanah kapur. Hal tersebut turut dibenarkan oleh Levanno.

Produk dekoratif yang dihasilkan oleh Kampung Gerabah Penanggungan (PERSPEKTIF/Ryenk)
“Kan gerabah masih dasar, jadi diolah lagi terus ditambah tanah campuran yang memang ada unsur mineralnya. Nah, setelah dicampur itu kan jadi ulet tanahnya, ada elastisitasnya. Baru dibentuk jadi keramik dan bisa tahan sampai pembakaran suhu tinggi,” tambah Levanno (14/11/2025).
Perbedaan bahan baku yang terdapat pada gerabah dan keramik berkaitan erat dengan proses pembakarannya. Gerabah memiliki suhu pembakaran yang lebih rendah dibandingkan dengan keramik. Dari segi kesempurnaan penciptaan, Levanno menjelaskan bahwa keramik lebih sempurna atau utuh karena melalui proses pembakaran dengan suhu yang lebih tinggi dibanding gerabah.
“Kalau gerabah masuk dalam fase earthenware, mempunyai suhu bakar antara 700 sampai 500 derajat celcius. Kalau keramik kita itu menyebutnya stoneware, lebih keras dengan memiliki suhu bakar 1100 derajat celcius ke atas, begitu. Kalau di earthenware, gerabah, proses pembuatannya lebih sederhana,” tutur Hariyono (09/11/2025).
Levanno lebih lengkapnya menjelaskan bahwa keramik dan porselen sendiri, pun, memiliki suhu pembakaran yang berbeda. Jadi, mereka tidak sepenuhnya sama. Dikatakan sebagai keramik apabila memiliki suhu pembakaran di atas 1100 hingga menyentuh 1250 derajat celcius, sementara itu baru bisa dikatakan sebagai sebuah porselen apabila suhu pembakarannya mencapai 1300 hingga 1350 derajat celcius.
Perbedaan antara kriya gerabah dan keramik dari segi bahan dan suhu pembakaran itu membuat biaya operasional pembuatan keramik cenderung lebih mahal apabila dibandingkan dengan gerabah. Hal ini diperjelas oleh Hariyono bahwa gerabah dapat dibakar dengan metode pembakaran apapun, meskipun menggunakan pembakaran manual dengan kayu. Di sisi lain, keramik membutuhkan tungku pembakaran khusus. Tidak heran, dalam proses penjualannya, olahan keramik dihargai lebih tinggi dibanding gerabah. Hal tersebut dikonfirmasi langsung oleh Levanno yang beberapa kali telah berhasil menjual produk kriya keramiknya dari aktivitas pameran selama menjadi mahasiswa seni rupa murni.
Di tengah perbedaan sekaligus persaingan daya jual seni gerabah dan keramik Malang, rupanya keduanya dapat saling berdampingan berkembang di masyarakat. Oleh karena itu, melihat kemerosotan minat generasi muda akan seni gerabah dan keramik Malang harusnya menjadi sebuah api pemantik dalam diri untuk berusaha terus melestarikan keduanya di masa kini dan mendatang.
Manusia dan Esensi Penciptaan Gerabah
Nenek moyang kita yang telah berpuluh-puluh tahun lamanya hidup berdampingan dengan seni kriya gerabah rupanya memanfaatkan banyak bentuk olahan gerabah dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Hariyono, keberadaan gerabah tak dapat dipisahkan dari unsur-unsur kehidupan manusia, hal ini mempengaruhi nilai filosofis yang ada pada gerabah dan telah dituturkan turun temurun dari para pengrajin pendahulunya. Lebih jelasnya, gerabah terbuat dari empat unsur yang sangat penting dalam kehidupan yaitu air, api, tanah, dan udara. Keempat unsur tersebut rupanya juga hadir dalam tubuh manusia.
Hariyono mengibaratkan gerabah dan tubuh manusia sebagai sebuah wadah yang menjadi tempat bersemayamnya berbagai jenis energi di dunia, entah itu energi positif maupun negatif. Manusia memiliki akal dan jiwa yang dapat memilih sendiri bagaimana ia akan membawa tubuh dan hidupnya selama hidup di dunia ini. Apakah akan mengisi kehidupan mereka dengan segala unsur baik atau membiarkan diri mereka terbawa arus pada sisi yang buruk. Menurut Hariyono, empat unsur kehidupan yang ada pada gerabah dan tubuh manusia membuat keduanya memiliki keterkaitan satu sama lain.

Produk dekoratif yang dihasilkan oleh Kampung Gerabah Penanggungan (PERSPEKTIF/Ryenk)
“Maknanya adalah bahwa (seperti halnya, red) dengan gerabah, kita akan memahami pola hidup kita seperti apa. Tercermin di situ sesuai wadah tadi. Kita adalah wadah untuk mewadahi (energi, red) apapun (entah itu, red) positif, negatif, semua itu mempunyai konsekuensi yang harus diterima,” jelas Hariyono dengan mata yang penuh akan sorot kelembutan. Keterkaitan antara gerabah dan tubuh manusia ia jelaskan lebih lanjut dalam perwujudan gendok.
Gendok sendiri adalah wadah tempat plasenta atau ari-ari biasanya diletakkan oleh masyarakat Jawa sebagai bentuk kepercayaan bahwa plasenta merupakan saudara manusia yang sayangnya terlahir tanpa mempunyai tubuh. Masyarakat Jawa mempercayai bahwa plasenta memiliki tanggung jawab yang besar untuk mengantarkan kita, manusia, lahir ke dunia dengan selamat. Kepercayaan masyarakat Jawa akan hadirnya plasenta sebagai saudara yang menemani kita sejak dari dalam kandungan hingga lahir ke dunia membuat nenek moyang berusaha ‘memberikan’ atau ‘membuatkan wadah’ sebagai ganti ketiadaan tubuh tersebut.
Keunikan dari kepercayaan masyarakat ini membuat mereka berusaha mencarikan ‘wadah’ yang memiliki empat unsur kehidupan seperti tubuh manusia. Air, api, tanah, serta udara di mana selain berada pada tubuh manusia, keempat unsur tersebut juga hadir dalam bahan baku pembuatan gerabah. Hal ini menjadi salah satu latar belakang mengapa gendok atau tempat penyimpanan plasenta bayi selama ini berasal dari gerabah.
Hariyono turut menggarisbawahi bagaimana masyarakat Jawa memaknai gerabah sebagai suatu medium yang menyatu secara langsung dengan alam. Unsur-unsur pendukung yang ada pada bahan baku pembuatan gerabah membuatnya dekat dengan unsur-unsur yang ada di alam semesta dan tubuh manusia. Apabila mengacu pada empat unsur yang ia sebutkan sebelumnya, Hariyono menyebut api sebagai unsur yang paling kuat atau dominan dalam alam semesta dan kehidupan manusia. Ia lagi-lagi mengandaikan hubungan antara unsur atau sifat api dan manusia dengan gerabah.
“Dari empat unsur yang ada di tubuh kita, apa yang paling tua dan kuat? Api. Api cemburu, api cinta, api lainnya. Kenapa api (sering red) disalahkan, padahal kita yang mengendalikannya? Ini pelajaran di gerabah bahwa ketika api dibesarkan terus ya akan hancur gerabah ini, dia akan pecah,” ungkap Hariyono ketika menjelaskan lebih lanjut mengenai bagaimana empat unsur dalam diri manusia dapat diibaratkan dalam bentuk sebuah gerabah.
Berdasarkan apa yang telah ia pelajari sepanjang karirnya sebagai pengrajin gerabah berpuluh-puluh tahun lamanya, Hariyono menyimpulkan bahwa kepercayaan akan kesamaan sifat atau unsur yang ada pada gerabah dan manusia yang dipercaya leluhur kita sejak dahulu kala menjadi salah satu alasan mengapa gerabah bisa tetap lestari hingga saat ini. Keberadaan kepercayaan tersebut membuat generasi turun temurun tetap melestarikan seni gerabah karena telah menganggapnya sebagai bagian yang esensial dalam kehidupan manusia.
Tak jarang memang adat istiadat dan kepercayaan berperan penting dalam menjaga kelestarian lingkungan, kebudayaan, dan kesenian yang ada di nusantara. Bukan karena masyarakat masih terikat pada asumsi tradisional yang jauh dari kebenaran atau hal ilmiah, namun hadirnya kepercayaan itu membuat manusia lebih menghargai anugerah Tuhan berupa keragaman akan alam semesta dan makhluk yang menghuninya.
Gelora Asa Perjuangan yang Menolak Padam

Plakat Komunitas Gerabah Lempung Agung yang berada di Kampung Gerabah Penanggungan (PERSPEKTIF/Akmal)
Meskipun secara terang-terangan mengungkapkan bahwa peluang Kelurahan Penanggungan untuk kembali menjadi sentra industri gerabah sangat kecil, namun Hariyono dan pegiat kriya gerabah di Malang lainnya rupanya tak hanya diam berpangku tangan menunggu ajal saja. Dari tahun ke tahun, telah banyak upaya yang mereka lakukan untuk memastikan seni kriya gerabah mendapatkan perhatian dari pemerintah maupun masyarakat Kota Malang. Harapannya tentu saja adalah untuk setidaknya melestarikan seni kriya gerabah kepada generasi mendatang.
Upaya-upaya kerja sama yang dilakukan dengan pihak pemerintah Kota Malang maupun instansi-instansi pendidikan yang ada rupanya berbuah manis. Banyak pihak yang berminat mengunjungi Kampung Gerabah Penanggungan dan mencoba langsung proses pembuatan kerajinan gerabah. Hariyono menunjukkan banyak dokumentasi foto berisikan kunjungan pelajar-pelajar di Kota Malang mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga perguruan tinggi. Banyak mahasiswa dari berbagai program studi dan universitas berkunjung ke galeri seni milik Hariyono entah untuk membuat kesenian, pelatihan, hingga penelitian dengan topik seputar seni kriya gerabah.
“Antropologi UB sering ke sini, (mereka mencari tahu, red) cerita tentang antropologinya gerabah itu seperti apa. Nah, balik lagi (seperti, red) alasan kita membentuk kampung edukasi, agar anak muda mengenal,” ujar Hariyono dengan senyuman lebar sembari menunjukkan album foto berisi kumpulan dokumentasi berbagai khalayak yang tertarik dengan gerabah ke galeri seninya.

Piagam Penghargaan oleh Walikota Malang (PERSPEKTIF/Akmal)
Sementara itu, pemerintah Kota Malang, pun, telah banyak memberikan bantuan fasilitas seperti pengadaan festival dan acara kesenian yang mendorong publik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai seni kriya gerabah khas Malang. Sebut saja keberadaan Festival Kali Brantas hingga Festival Gerabah yang hampir selalu dilaksanakan setiap tahunnya di Bulan Juli. Hariyono menyebut bahwa banyak pegiat seni dan pengrajin gerabah yang turut serta dalam kegiatan tersebut.
Namun, Hariyono juga menjelaskan bahwa pemberian bantuan dari pemerintah juga tidak bisa didapatkan dengan mudah. Sebab, banyak persyaratan yang harus dipenuhi apabila para pengrajin gerabah di wilayah Kelurahan Penanggungan ingin mengajukan bantuan seperti misal bantuan keuangan. Hariyono memaklumi hal tersebut, apalagi bila mengingat kondisi para pengrajin gerabah di Penanggungan yang tersisa.
“Kalau bantuan berkelanjutan sebenarnya ada, tapi pemerintah akan memberikan bantuan ketika kegiatan kita memenuhi kriteria persyaratan penerima bantuan. Andai saja kita sekarang punya kurang lebih 20 orang (pengrajin, red) itu masih bisa, tapi sekarang kita cuma punya 6, jadi tidak memenuhi kriteria itu. Kita sering mengajukan (bantuan, red) tapi terbentur persyaratan yang menuntut pokja (kelompok kerja, red) beranggotakan lebih dari 20 orang dan mencapai itu ya sulit dengan keadaan seperti ini,” ujar Hariyono menjelaskan tantangan yang dihadapinya dalam proses pengajuan bantuan kepada pemerintah.
Sebelumnya, pada awal tahun 2000-an ketika total jumlah pengrajin gerabah Penanggungan masih mencapai angka yang sesuai dengan persyaratan, kelompok pokja mereka berhasil mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa gapura nama ‘Kampung Wisata Edukasi Gerabah Penanggungan’ yang kini masih dapat dilihat apabila hendak memasuki gang tempat galeri seni Hariyono berada. Namun, seiring berjalannya waktu, kesulitan pemenuhan persyaratan membuat laju aktivitas promosi kampung ini menjadi terhambat.
Ketika ditanya mengenai bagaimana kelanjutan upaya pelestarian gerabah terutama di wilayah Penanggungan, Hariyono menjelaskan bahwa adanya kampung wisata edukasi dan kegiatan-kegiatan seperti festival seni merupakan momentum yang dapat digunakan untuk menunjukkan eksistensi seni kriya gerabah Malang yang masih berpendar.
“Jawabannya saya kembalikan kepada kalian. Bagaimana kalian melihat gerabah, kepedulian kalian seperti apa, apakah kalian punya ide atau konsep pengembangan ini? Memang saya serahkan kepada anak muda sekarang. Dari anak muda ini mungkin memiliki pemikiran yang lebih bagus dibandingkan yang tua-tua ini,” ujar Hariyono disertai senyuman simpul.
Dirinya turut mengajak Tim LPM Perspektif untuk mengunjungi galeri seni yang berada tepat di depan rumahnya. Warna-warni hasil kerajinan tangan pengunjung menghiasi galeri yang berada tepat di atas aliran Sungai Brantas tersebut. Berkonsep terbuka dan dekat dengan alam, Hariyono menjelaskan bahwa galeri tersebut memang sengaja dibuat tanpa adanya jendela, karena Hariyono sendiri ingin menghadirkan kesan terbuka bagi siapa saja yang ingin masuk mengunjungi galerinya.
Beragam papan tanda penghargaan entah itu yang berasal dari pemerintah Kota Malang maupun dari instansi lainnya turut terpajang pada dinding galeri tersebut. Sementara itu, di sekelilingnya terdapat mangkok, piring, hingga asbak dengan berbagai warna dan motif buatan pengunjung yang sengaja dipajang Hariyono di sana. Suasana yang asri sekaligus kaya akan seni memenuhi galeri yang dimiliki Hariyono tersebut.
Hariyono menitipkan harapan sekaligus pesan bagi generasi muda untuk tetap turut berusaha mengenal serta melestarikan seni kriya gerabah, terutama khas Malang. Menurutnya, asa tersebut belum sepenuhnya padam dan hanya menunggu waktu untuk kembali dihidupkan oleh generasi-generasi muda yang kaya akan inovasi dan inspirasi. (red/jul/alr/nat/saz)






