Belial tak pernah benar-benar bisa tidur tenang sejak hari itu. Bukan hanya dirinya dijadikan target lelucon orang asing yang baru saja ia temui, pun orang asing itu turut mempermainkan ketertarikannya secara seksual sebagai perantara aksi pembodohan tersebut. Namun, anehnya bukannya merasa tersinggung dan tersulut emosi yang membabi buta, Belial justru merasakan ketertarikan yang tak terkira.
Ia ingin sekali lagi bertemu dengan pemuda berambut hitam arang itu. Kali ini sebagai pihak yang memegang kendali, melucuti semua kepongahan dan merobek bibir yang tersenyum begitu manis sekaligus licik kepadanya malam itu. Belial ingin melihat bajingan itu merangkak dan mencium setiap jari-jemari kakinya sambil mentasbihkan permohonan ampun dari bibir yang akan ia bungkam dengan moncong Glock 17 yang saat ini masih tersimpan rapi di celah-celah pakaian di dalam lemari kayu reyot kamar penginapannya.
Lamunan Belial terpecah seketika saat Bilal tergopoh-gopoh menghampirinya di balkon lantai dua yang berada tak jauh dari kamar penginapannya. Rokok yang baru saja ia sulut dengan korek api seketika terasa begitu masam, tak lagi meninggalkan jejak rasa yang selama ini Belial suka. Ia menolehkan kepala dengan malas, tatapannya dan Bilal saling bertemu. Bilal tampak kepayahan bernapas setelah berlari menaiki tangga menuju balkon di lantai dua tersebut.
“Ada surat yang datang untukmu, Belial,” ucapnya sambil mengulurkan sebuah surat yang terbungkus rapi dalam amplopnya. Tidak ada nama pengirim. Tapi Belial sudah tahu kira-kira siapa yang mengirimkan surat itu kepadanya.
“Kenapa wadah suratnya tampak begitu mencurigakan? Tanpa nama, tanpa alamat pengirim. Kau tidak sedang terlibat dengan sindikat pengedar narkoba, kan?”
Pertanyaan tersebut membuat Belial menundukkan kepala untuk menatap Bilal yang hampir 15 cm lebih pendek darinya itu. Hampir saja Belial menerbitkan senyuman bangga karena setelah hampir dua bulan lamanya tinggal di sana, Bilal akhirnya peka juga dengan sosok setan seperti apa pria yang telah dibawanya ke penginapan milik ibunya itu. Haruskah Belial memberikan tepukan tangan yang meriah juga untuk merayakan itu? Sepertinya tikaman pisau ke leher Bilal juga bisa dilakukannya untuk dengan segera menutup mulut pria itu agar tak membicarakan barang sepatah kata pun tentang keberadaannya pada orang-orang di luar sana.
Namun, tiba-tiba suara tawa Bilal yang tampak jelek di mata Belial terdengar begitu memekakkan telinga. Ingin rasanya ia sumpal bibir itu agar tak lagi mengeluarkan tawa yang lebih terdengar seperti ringkikan kuda itu.
“HAHAHAHAHAHA, maaf, maaf. Tak kusangka guyonan garing yang aku ucapkan membuatmu terdiam, Belial. HAHAHAHAHAHA. Mana mungkin kau terlibat sindikat pengedar narkoba,” ujarnya di sela-sela derai tawa yang mulai berhenti. Raut wajah Belial menampilkan raut bosan. Memang, tak mungkin pria berotak sekecil udang itu mampu mengira-ngira identitas asli di balik sosok turis Eropa yang melekat dalam diri Belial.
Memang benar ia bukan seorang pengedar narkoba, tapi dia si iblis bertangan besi yang siap menembakkan peluru hingga membuat kepala seseorang mengucurkan darah. Ia si pembunuh yang tak segan-segan memotong nadi manusia yang masih bernapas demi melihat mereka meraung dan berteriak kesakitan. Ingin sekali Belial menggorok leher Bilal saat itu juga seandainya panggilan Ibu Bilal tiba-tiba tak masuk ke gendang telinga mereka berdua. Bilal pun beranjak dari balkon untuk memenuhi panggilan ibundanya.
Sementara itu, Belial bergegas masuk ke kamarnya, memastikan pintu kayu reyot dengan cat coklat yang memudar itu telah terkunci, tak membiarkan Bilal berkesempatan menerobos masuk barang seinci saja. Amplop surat itu lantas dibukanya dengan cekatan. Udin. Udin memintanya untuk mengawasi Pramono Ariyan Wiranto dan membunuhnya di waktu yang tepat. Pramono Ariyan Wiranto hendak menarik semua suntikan dana bagi perputaran bisnis narkoba mereka.
“Menarik. Udin rupanya tidak mau sumber keuangan utamanya berhenti di tengah jalan,” ujar Belial disertai dengusan samar.
“Bagaimana jika aku habisi saja keduanya, hmm? Bukankah menarik melihat gembong pengedar narkoba itu kalang kabut saat dua pimpinan atas mereka mati dengan perut bolong oleh peluru?”
Pada saat itu, Belial sudah memutuskan bahwa ia tak mau lagi bergerak di bawah perintah siapapun. Ia akan bergerak sesuai keinginannya sendiri, membunuh siapa saja yang ia rasa akan membawa kepuasan dan hegemoni tak berkesudahan dalam aliran darahnya. Kali ini, ia menargetkan Pramono dan Udin. Apa ia sikat saja sekalian presiden beserta wakilnya yang dongo itu? Bukankah masyarakat Indonesia akan rela menyembah dirinya apabila sosok-sosok pemimpin rakyat seperti Udin, Pramono, Prajowo, dan Gisbian itu musnah? Ah, memikirkannya saja sudah membuat bulu kuduk Belial berdiri karena bersemangat.
***
Tiga hari kemudian, tak hanya berniat memantau targetnya dari dekat yakni dalam acara peresmian Gedung Kesenian Kusuma Bangsa yang baru saja selesai dibangun atas donasi penuh dari perusahaan pimpinan Pramono, Belial juga berniat menghabisi langsung Pramono di tempat. Ketika hal itu sudah ia lakukan, rencananya Belial akan langsung menyusup masuk ke rumah Udin untuk berganti menghabisinya di hari yang sama. Ia suka keributan yang akan ditimbulkannya apabila dua rencana tersebut berhasil ia lakukan.
Ketika jam menunjukkan pukul 11 siang tepat, Belial membaur bersama pengunjung gedung lainnya. Kali ini, ia memakai kemeja berwarna putih, lengkap dengan jeans hitam yang dipadukan dengan sepatu boots-nya. Satu-satunya alasan di balik pemilihan kemeja warna putih itu hanyalah satu, Belial ingin cipratan darah korban-korbannya hari itu memercik dan menodai kemeja putihnya. Ia membayangkan kemeja itu tak lebihnya sebuah kanvas yang akan ia lukis dengan cat semerah darah, darah manusia.
Gerombolan orang bergerak memenuhi aula utama Gedung Kesenian Kusuma Bangsa, kamera wartawan dan microphone tampak terlihat di segala penjuru gedung, situasi yang cocok untuk melancarkan aksinya siang hari itu. Ia ingin kegaduhan itu disaksikan langsung oleh publik, diliput oleh banyak kamera, dan ditayangkan di seantero negeri.
Belial mengambil posisi di bagian samping tangga menuju lantai dua aula, berdiri di balik tirai pemisah yang menjuntai memisahkan tangga dan aula lantai pertama, bersiap memegang Glock 17 di dalam tas selempangnya yang berwarna cokelat. Menatap dengan penuh minat ke arah panggung saat rombongan pria berjas hitam perlahan naik ke atas panggung.
Satu, dua, lima, delapan, ada sekitar sepuluh orang yang ada di atas panggung itu. Seorang pembawa acara, Menteri Kebudayaan, Pramono Ariyan Wiranto, pembawa baki gunting sebagai alat pemotongan pita yang terbentang dari pojok kanan hingga kiri panggung gedung tersebut, serta beberapa ajudan mereka di belakang. Tak ada satu pun yang tampak cakap untuk terlibat dalam perkelahian secara langsung.
“Baik, dalam hitungan ketiga, pita ini akan dipotong oleh Bapak Pramono. Mari kita hitung bersama-sama.”
Ucapan sang pembawa acara membuat Belial semakin memfokuskan indera pendengaran dan penglihatannya ke atas panggung. Tangannya sudah bersiap untuk menarik pelatuk pistol yang masih tersembunyi dengan baik di dalam tasnya. Dalam hati, pria berambut pirang itu turut menghitung mundur bersama kerumunan manusia di dalam aula itu. Tak ada yang akan menyangka bahwa pada hitungan ketiga, suara letupan senjata api akan terdengar memenuhi aula tersebut, memekakkan telinga semua orang, dan menembus jantung salah satu orang yang tengah berada di atas panggung itu.
Belial dapat melihat dengan kedua matanya bahwa Pramono yang mengenakan setelan jas berwarna hitam membalut kemeja putih lengkap dengan dasi berwarna kuning itu tengah tersenyum sumringah. Jari-jemari tangan kanannya memegang gunting, siap memotong garis pita yang membentang di hadapannya itu.
“Satu.”
“Satu.”
Secara tiba-tiba, ekor mata Belial menangkap pergerakan baru dari sisi kiri panggung. Seorang pemuda dengan kemeja putih yang bagian lengannya digulung hingga menyentuh siku tiba-tiba berjalan perlahan menghampiri Pramono di atas panggung. Fitur wajah yang tampak persis, rambut sehitam malam yang sama, dan senyuman penuh kepalsuan yang tak ada bedanya dengan milik seorang pemuda yang terlibat malam penuh gelora bersamanya beberapa waktu yang lalu terlintas. Belial menyipitkan matanya mengikuti pergerakan pemuda di atas panggung tersebut.
Otaknya dengan segera memproses informasi tersebut. Pemuda itu, yang mengaku bernama Rafael merupakan orang dekat Pramono. Ajudan, kah? Sekretaris? Hingga suatu hantaman pada bagian terdalam pikirannya membuatnya memikirkan suatu koneksi yang tak terbantahkan. Fitur wajah yang mirip dengan Pramono, tentu saja, Rafael bajingan itu sudah pasti merupakan anak pebisnis terkenal asal Indonesia tersebut. Belial mendengus samar, kilatan ketertarikan memenuhi kedua bola matanya.
“Dua.”
“Dua.”
Secara perlahan, ia mulai menampakkan dirinya, setengah badannya keluar dari balik layar tempat persembunyiannya tadi. Dengan terang-terangan, tangan kanannya merogoh pistol dalam tas selempang yang ia kenakan. Jari jemari itu sudah bersarang dengan sempurna pada pelatuk pistol itu.
Tiba-tiba, kedua bola mata berbeda warna milik Belial dan Rafael palsu itu bersitatap. Secara refleks, Rafael menghentikan langkahnya. Tatapannya terpaku pada sosok yang separuh badannya masih tersembunyi di balik tirai. Senyuman Rafael dengan cepat sirna dari bibirnya. Ia mengernyitkan dahi sambil tak memotong adu pandang itu sedetik saja.
Saat bola matanya yang sama-sama berwarna sehitam rambutnya itu menangkap senyuman miring yang baru saja terbit di bibir Belial, ia sedikit membelalakkan mata. Dengan segera, ia memutuskan tatapan di antara keduanya, berlari ke tempat sang ayah berdiri. Melihat pergerakan itu, Belial memutar bola matanya malas. Bodoh, rapalnya dalam hati. Ia maju sejengkal dari tempat awalnya berdiri, terlepas sepenuhnya dari lindungan tirai.
“Tiga.”
“BODOH! PENGAWAL! AYAH, MINGGIR!”
Suara seruan Rafael bergema di seluruh aula, semua mata lantas berbalik memandangnya. Pramono berdiri dengan bola mata penuh penasaran menatap anaknya. Namun, terlambat.
“Tiga.”
Bunyi letupan pistol terdengar tiga kali berturut-turut. Tiga peluru dengan segera menembus udara, bersarang dengan sempurna di bagian dada sebelah kiri Pramono. Pria berusia 58 tahun itu terjatuh dengan bunyi gedebuk keras ke atas lantai panggung. Jeritan teriakan penuh ketakutan terdengar di mana-mana. Darah mengalir dari dada Pramono, membuat jeritan semakin keras terdengar. Para pengawal yang ada di tempat tersebut bergegas mengerubungi Pramono dan berlari ke segala penjuru arah, berusaha mencari pelaku penembakan tersebut.
Kemeja putih yang Rafael kenakan penuh oleh darah. Telapak tangannya pun tak selamat dari cairan berwarna merah itu. Ia merengkuh sang ayah dalam pangkuan, mencoba memberikan pertolongan pertama. Namun, naas. Pria paruh baya tersebut sudah tak lagi bersamanya di dunia. Tim medis berbondong-bondong menghampiri, menyerukan berbagai macam kalimat yang tak lagi terdengar jelas dalam telinga Rafael.
Ketika matanya yang merah akibat tangisan mengalihkan pandangan dari tubuh sang ayah yang telah terbujur kaku di atas pangkuannya, ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru aula itu. Orang-orang berhamburan berlari keluar, tim medis silih ganti berdatangan, suara ambulan, teriakan orang-orang, dan langkah kaki yang tiada henti bergerak memenuhi indera pendengarannya. Namun, satu-satunya hal yang dapat ia tangkap dengan indera penglihatannya hanya satu.
Belial. Pria itu telah berpindah tempat, berdiri tepat di sisi tengah bawah panggung. Tangan kanannya masih memegang pistol yang ia gunakan untuk membunuh sang ayah. Belial tak menampilkan raut apapun di wajahnya itu, ia memandang lurus ke arah Rafael yang nampak terpaku. Tak nampak terganggu sama sekali saat puluhan orang pengawal dan polisi berlarian menghampirinya, mengepungnya. Lalu, Rafael melihat senyuman itu. Senyuman iblis yang terbit dari bibir pria itu. Belial membuka bibirnya, mengucapkan sebuah kalimat tanpa suara.
“Memento mori.”





