Lompat ke konten

Di Tanah Lada

Ilustrasi: Gramedia.com
Oleh: Najswa Dwi Pramesti*

Judul : Di Tanah Lada

Penulis : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Penerbit : Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama

Tempat diterbitkan : Jakarta

Edisi : Cetakan pertama Agustus 2015

  Cetakan kedua (sampul baru) Maret  2021

  Cetakan ketiga Oktober 2021

  Cetakan keempat Januari 2022

Jumlah halaman : 245 halaman

Ukuran buku : 20 x 13.5 cmISBN : 978 – 602 – 03 – 1896 – 7

Di Tanah  Lada  menyajikan cerita dengan tokoh anak perempuan berusia enam tahun bernama Salva atau kerap dipanggil Ava, yang suka membaca Kamus Besar Bahasa Indonesia pemberian kakeknya yang bernama Kakek Kia. Kisah ini diceritakan dari sudut pandang Ava dan mengambil latar di sebuah kota kecil di Indonesia. Ava merupakan seorang anak perempuan yang tinggal di sebuah keluarga yang tidak harmonis. Dirinya selalu membawa Kamus Besar Bahasa Indonesia, dimanapun dan kapanpun. Setiap kali ada kata-kata yang tidak diketahuinya, dia akan mencari maknanya di kamus tersebut. Walaupun tidak semua kosa kata dapat ia pahami, namun Ava tumbuh menjadi anak yang pintar berbahasa Indonesia. Ia sering dibuli oleh teman-teman sekelasnya karena kegemarannya membaca dan perilakunya yang tidak biasa. 

Setelah Kakek Kia meninggal dan mewariskan banyak uang kepada Papa (Ayah Ava), kehidupan Ava si anak perempuan berusia enam tahun itu mulai mengalami banyak perubahan. Sayangnya perubahan yang dialami Ava bukanlah perubahan yang baik, papa justru memaksa mama (Ibu Ava) dan Ava untuk pindah ke rumah susun yang kotor, kumuh, dan bau. Papa juga berniat menjual rumah mereka. Kenapa papa melakukan ini? Supaya papa tetap bisa berjudi yang letaknya di dekat rumah susun tersebut. Mama pun mengetahui perbuatan buruk papa dan datang ke tempat judi tersebut hingga ia marah besar. Bukannya menerima kesalahannya, papa justru melakukan tindak kekerasan. Ketika papa dan mama sedang bertengkar, Ava sering mendengarkan percakapan pertengkaran mereka dari balik pintu yang dibuka sedikit. Akan tetapi, usaha yang dilakukan oleh Ava untuk menguping selalu ketahuan oleh papanya dan harus menerima kekerasan.

Di rumah susun Nero tidak ada kamar untuk tidur, tidak ada kasur yang empuk, dan tidak ada selimut untuk Ava. Saat orang tuanya melakukan pertengkaran kembali, Ava diberi uang jajan oleh mama agar ia keluar rumah dan tidak mendapatkan perlakukan kekerasan ataupun mendengarkan perkataan kotor dari papanya. Ava bertemu dengan seorang laki-laki yang merupakan seorang pengamen.  Mereka berdua bertemu di sebuah warteg dekat rumah susunnya. Laki-laki ini membantu Ava memotong ayam. Nama laki-laki tersebut ialah P, iya benar hanya P. Menurut P, Ava aneh karena menggunakan kata yang yang terkesan sangat formal ketika berbicara. Menurut Ava, P aneh karena namanya hanya terdiri dari satu huruf. Karena itulah keduanya ingin mengenal lebih dekat satu sama lain hingga main bersama-sama karena P juga tinggal di rumah susun Nero. Selain tempat tinggal, ternyata mereka memiliki sifat ayah yang sama, kasar dan suka menyiksa anak mereka. 

P pun mengenalkan Ava pada Mas Arli dan Kak Suri. Mas Arli dan Kak Suri ialah teman yang sudah sangat dekat dengan P. Akhirnya mereka berteman sangat dekat. Ava merasa bahwa P sebagai panutannya dan P menganggap Ava sebagai gadis kecil menggemaskan. Mas Arli sendiri merupakan seseorang yang memberikan gitar kecil pada P sehingga P bisa mencari nafkah dan Kak Suri merupakan orang yang mengajarkan P Bahasa Inggris. Kedua orang ini sangat berguna dalam kehidupan P. P juga sering kali mengalami kekerasan yang dilakukan oleh papanya, pasalnya Papa P tidak suka melihatnya. Sehingga P membuat tempat tinggal sendiri di dalam rumah dengan beberapa tumpukan kardus dan membentuk rumah dan sering mengganti bentuknya agar tidak ketahuan kalau P bersembunyi di dalamnya. Tidak ingin mendapatkan perlakuan kekerasan terus menerus, Ava dan P pun memutuskan untuk pergi ke rumah Nenek Isma (Nenek Ava) di Tanah Lada. Tidak ada kata-kata umpatan dilayangkan dan tidak ada siksaan yang dapatkan di sana. Hanya ketenangan dan rasa kasih sayang yang mereka rasakan. 

“Di Tanah Lada” adalah sebuah kisah mengharukan yang mengajarkan pembaca tentang pentingnya keluarga, persahabatan, dan rasa syukur. Novel ini mudah dibaca dan memiliki alur cerita yang mudah ditebak, namun penuh dengan pelajaran hidup yang berharga. Karakter-karakternya dikembangkan dengan baik dan mudah dipahami, serta latarnya yang digambarkan dengan jelas membuat pembaca merasa menjadi bagian dari cerita. Novel dengan sudut pandang anak kecil mengenai dunia ini menjadi suatu penyajian novel yang Ziggy sampaikan dengan warna yang berbeda dengan novel-novel lainnya. Di dalam novel ini juga terdapat banyak istilah yang diartikan melalui KBBI sehingga dalam penulisannya tidak hanya sebagai pelengkap atau menjadi ciri khas dari tokoh anak yang ingin mengetahui banyak hal, tetapi juga menambah wawasan bagi para pembacanya. 

Selain itu, terdapat banyak pelajaran hidup yang dapat diambil dalam cerita ini seperti mengajarkan untuk banyak bersyukur atas apa yang telah kita miliki saat ini, salah satunya ialah yang jarang kita sadari yaitu arti dari keluarga. Novel ini dapat membuka mata orang tua mengenai hal-hal yang diharapkan oleh seorang anak. Novel ini juga menggambarkan betapa pentingnya kasih sayang dalam setiap keluarga. Secara keseluruhan, “Di Tanah Lada” adalah novel yang bagus untuk pembaca yang mencari bacaan ringan dan menyenangkan yang penuh dengan pesan-pesan yang bermakna.

Tetapi, terdapat beberapa bagian alur cerita dan penggunaan bahasa yang agak sulit untuk dimengerti karena cerita disajikan dengan sudut pandang dan pemikiran dari anak kecil yang masih polos dan tidak berpikir panjang dalam menentukan suatu keputusan. Cukup banyak pembaca yang merasa bingung bahkan kecewa dengan akhir dari novel ini karena merasa sedikit tidak terduga dan cenderung memaksakan. Novel ini juga menceritakan beberapa kekerasan tanpa adanya sensor sehingga tidak cocok untuk anak-anak. Selain itu, karakter pada setiap tokoh yang ada dalam novel tidak dijelaskan secara detail yang membuat pembaca kesusahan untuk bisa terhubung dengan tokoh di dalam novel.

Buku ini sangat unik dan menarik karena dalam penulisannya yang menggunakan pemikiran anak kecil, namun dengan gaya bahasa yang baku dan tidak seperti anak kecil pada umumnya. Alur yang diberikan dan pemikiran dari tokoh yang tidak dapat ditebak membuat buku ini semakin sayang untuk dilewatkan.

Akhir cerita dari Ava dan P bisa ditemukan sendiri pada buku Di Tanah Lada, walaupun merupakan buku fiksi mungkin di luar sana ada kehidupan seperti ini dan mengingatkan kepada pembaca bahwa jika  manusia yang sudah bisa berpikir mengenai baik buruknya kehidupan dapat memilih jalan hidupnya, dia dapat memilih untuk memiliki pasangan, menjadi orang tua, dan ketika setiap manusia menyadari bahwa mereka memiliki kebebasan untuk memilih, rasa berani bertanggung jawab atas segala keputusan akan lebih mengurangi merugikan dan menyusahkan orang lain. Untuk menjadi orang tua, tentunya perlu kesiapan yang matang. Mulai dari finansial, mental, dan parenting dunia anak juga perlu diperhatikan. Hal itu berpengaruh pada keharmonisan keluarga kecil yang hendak kita bangun.

(Visited 585 times, 3 visits today)
*) Najswa Dwi Pramesti, lahir di desa Banyumas, daerah Sokaraja Kulon yang terkenal akan Gethuk Gorengnya, pada 24 Oktober 2005. Saat ini, saya tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Islam Prof. K. H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Saya senang sekali membaca buku dan mendengarkan musik. Temukan saya di Instagram @najswaaaa dan Twitter @20541w

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?