Lompat ke konten

Melodi Sumbang Kasus Pelecehan Seksual Kerto

Jalanan sepi Gang Kerto (PERSPEKTIF/Gratio)

Peringatan: Artikel ini memuat unsur sensitif yang dapat mengganggu kenyamanan pembaca.

Malang, PERSPEKTIF Pada bulan Januari sampai Maret 2023, publik dunia maya khususnya Twitter dan TikTok dihebohkan dengan kejadian pelecehan seksual yang marak terjadi di daerah sekitar Jalan Kerto, Sumbersari, dan Sigura-gura, Kota Malang. Bukan hanya satu korban, beberapa orang mengaku mengalami peristiwa nahas tersebut dari pelaku yang dicurigai mempunyai ciri-ciri yang sama. Jalanan sempit nan sepi di wilayah padat penduduk menjadi lokasi andalan pelaku melakukan perbuatan bejatnya tersebut.

Tim Perspektif berhasil menemui salah seorang korban pelecehan seksual di wilayah Jalan Kerto pada bulan Mei tahun ini. Ia mengaku mengalami peristiwa tersebut pada Februari 2023. Berikut cerita korban kepada Tim Perspektif selengkapnya. 

Melodi (bukan nama sebenarnya) bangun pagi dengan badan yang pegal-pegal akibat tidak tidur semalam. Baru dua hari ia kembali ke Kota Malang dari tempat asalnya. Menyiapkan perkuliahan semester genap menjadi alasan Melodi kembali ke kota ini. 

Dipandu rasa lapar di awal hari, ia bergegas untuk segera menyarap. Melodi kemudian melangkahkan kaki keluar dari kosnya di wilayah Jalan Kerto menuju Indomaret Sumbersari. Jalan raya cukup ramai. Mobil dan motor terus bergerak seakan tidak pernah berhenti. Hal itu membuatnya malas melewati jalan besar dan memutuskan untuk memotong jalur, melewati gang kecil dekat Kuburan Kerto. Selain menghemat waktu, menghemat energi juga. 

Tangan Melodi meraih malas barang-barang yang diperlukan di rak Indomaret dan segera membawanya ke kasir. Tanpa berpikir panjang, ia segera melenggang keluar dari waralaba itu dan melewati gang sempit dekat kuburan. Melodi mengambil jalan pulang dengan jalur yang sama persis saat berangkat. “Di sini cukup sepi, padahal sudah jam sembilan pagi,” ujarnya. 

Tweet pelecehan seksual di Daerah Kerto, Malang (twitter @ubsansfess)

Baru beberapa langkah masuk ke jalur tersebut, Melodi mendengar suara mesin motor dari belakang lalu melewatinya dan tiba-tiba berhenti di ujung jalan. “Dia itu di ujung gang yang dekat cermin cembung, dia berhenti di situ,” jelasnya. Ketika diperhatikan, pengendara motor itu adalah lelaki yang memakai celana pendek. Motornya model Aerox dengan warna hitam dan merah. Selaras dengan wajahnya yang tertutup helm full face berwarna hitam-merah juga. 

Karena motor tersebut berada di arah yang sama dengan jalan pulang menuju kos, Melodi melewati lelaki bermotor matic tersebut tanpa ada firasat apa-apa. Pemandangan kuburan di depan mengalihkan perhatiannya dan seketika pengendara motor di belakang itu menstarter mesin dengan kuat, mendahului Melodi sambil memegang bagian tubuhnya yang seharusnya tidak dipegang orang lain. Pengendara itu kabur dengan motornya, sedangkan Melodi hanya bisa terpaku seiring nyalinya juga ikut terkubur.

“Awalnya aku syok banget. Aku sampai lama mikir ‘tadi dia lagi ngapain ya?’ gitu. Terus pas dia mulai agak jauh, aku baru sadar ternyata tadi aku dilecehkan,” ungkap Melodi. 

Sepersekian detik yang terasa lama, ia sontak meneriakkan umpatan. Namun tak ada juga yang menggubris suaranya yang berteriak “anjing”. Jalan itu selain sempit, masih juga sepi. Tak ada warga sekitar yang terpanggil untuk menuju sumber teriakan tersebut. “Tapi pas aku keluar dari jalan kuburan itu, aku lihat kanan-kiri ada banyak orang. Jadi kayak mereka mikirnya juga aku teriak bukan karena minta pertolongan, gitu,” ujar Melodi. 

Gang sempit dekat kuburan (PERSPEKTIF/Gratio)

Berbekal tenaga dan kesadaran yang masih tersisa, ia tetap melanjutkan langkah menuju kos meskipun dirinya dipenuhi dengan perasaan yang campur-aduk. Sesampainya di kos, Melodi menumpahkan emosinya dalam tangis yang ditemani sepi. Ia berusaha mengabari teman-temannya, tapi tak ada juga yang merespon. “Aku juga mikir kayanya orang-orang masih pada tidur deh jam segini,” jelas Melodi. 

Ia lalu memutuskan untuk berhenti memikirkan apa yang baru saja terjadi dengan tidur untuk mengistirahatkan alam sadarnya. Sekitar lima jam kemudian, Melodi terbangun dan masih terengah-engah secara emosional karena berusaha memproses semuanya. Ia lalu mencari informasi apakah pernah terjadi kejadian pelecehan seksual di wilayah tersebut lewat aplikasi Twitter. Satu cuitan yang baru diunggah sehari sebelumnya menunjukan kejadian yang begitu serupa dengan yang dialami Melodi. 

“Aku DM (direct message, red) orangnya. Ternyata dia dapatnya (peristiwa pelecehan seksual, red) itu di belakang Universitas Islam Negeri (UIN) saat pagi hari juga. Terus aku tanya ciri-cirinya seperti apa, dan ternyata hampir mirip. Cuma bedanya yang dia alami, pelakunya pakai masker dan gak pakai helm. Cuma kalo aku pake helm, kan,” jelasnya. 

Akibat kejadian tersebut, Melodi sampai perlu bertemu psikolog karena gejala cemas dan was-was yang tidak biasa dan cukup mengganggu aktivitas sehari-hari. “Pokoknya sejak itu, aku ke mana-mana harus ada temen, dan yang aku sadar kalau ada motor entah dia parkir atau lewat, aku selalu perhatikan platnya. Aku juga kalau dengar suara motor dari belakang kayak ngebut gitu, aku langsung minggir. Itu yang kayak reflek cemas, kan,” ujarnya. 

Perumahan warga sekitar padat penduduk (PERSPEKTIF/Gratio)

Setelah melewati beberapa kali sesi konseling bersama psikolog, Melodi akhirnya dapat beraktivitas seperti biasa lagi. “Karena aku sudah berani ngomong, berarti itu nggak lagi jadi momok buat aku. Berarti aku sudah terima,” kata Melodi.

Mendapatkan informasi tersebut, Tim Perspektif menemui Ketua Rukun Tetangga (RT) setempat. Sayangnya, ia mengatakan tak tahu menahu terkait kejadian yang menimpa beberapa warga yang lewat. “Selalu aman karena adanya penjagaan Pos Kamling (keamanan lingkungan, red) yang dimulai sejak sore hari sampai malam,” tambah salah satu warga ketika diwawancarai. Alih-alih akan berjalan dengan baik, nyatanya pelaku melakukannya pada pagi hari tanpa adanya penjagaan dari lingkungan sekitar. 

Melodi membenarkan bahwa warga sekitar di malam hari memang sudah melakukan penjagaan, tetapi ia menyayangkan karena warga sekitar tidak sadar kejadian terjadi tidak di malam hari. “Mungkin malam lebih bahaya tapi ketika pagi atau siang justru malah banyak kasusnya. Kalau malam itu mereka nggak bisa gitu (pelaku melakukan pelecehan seksual, red) karena ada yang jaga. Mungkin kalau dari warga sekitar, sepertinya mereka seharusnya lebih aware jam berapapun begitu,” kata Melodi. 

Sejalan dengan hal tersebut, Eva dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya berharap permasalahan kasus pelecehan seksual dapat diproses melalui penegakan hukum yang didasarkan pada nilai keadilan sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. “Dampak yang dirasakan korban bisa dimungkinkan berkepanjangan. Sehingga, pertanggungjawaban terhadap pelaku diperlukan sebagai efek jera agar tidak melakukan perbuatan yang sama,” tutupnya. (az/dt/cns)

==================

Jika ingin melaporkan kasus kekerasan seksual dan perundungan kepada ULTKSP FISIP, silahkan klik tautan .

(Visited 760 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?