Lompat ke konten

Menjadi Sekokoh Baja

Baja si manusia silver (PERSPEKTIF/Gratio)

Malang, PERSPEKTIF Malang, kota kecil dengan hiruk pikuk yang ramai. Dipancang oleh beton-beton gedung universitas membuat kota kecil ini cukup sesak dengan mahasiswa dari segala penjuru mata angin. Namun, ini bukan tentang Malang yang disebut kota pelajar, apalagi tentang gaya hidup mahasiswa Malang, tapi ini tentang Baja, individu masyarakat lokal Malang yang terpinggirkan dari rumahnya sendiri.

Covid-19. Siapa yang tidak mengenal pagebluk ini. Pandemi ini menjadi awal dari kisah Baja. Pada awalnya, Baja seperti kebanyakan masyarakat Malang lainnya. Ia bekerja di salah satu pusat perbelanjaan di Malang. Dari pendapatannya saat itu masih bisa mencukupi kehidupannya dan keluarga. Sialnya, di awal tahun 2020 badai Covid-19 mulai berhembus dan semakin kencang menerpa, membuat baja harus dikeluarkan dari pekerjaannya. 

Tak terhitung sudah berapa penolakan yang Baja terima ketika menawarkan tenaganya untuk ditukar dengan uang demi melanjutkan hidup bersama keluarganya. Entah sudah berapa surat permohonan yang dikirimnya, namun tak ada satupun dering telepon yang diterimanya. Bukannya nada panggilan pekerjaan yang dia terima hari-harinya namun nada buah hatinya yang menginjak bangku taman kanak-kanak terus merengek minta susu.  

“Kan anak saya masih kecil, anak saya nggak bisa minum susu (air susu ibu, red), terus saya bingung mau kerja apa,” tutur Baja sembari mencoba menidurkan bayinya di bawah teras toko yang berada di tepian jalan raya.

Baja bersiap untuk ke jalan (PERSPEKTIF/Romi)

Menunggu bukanlah jawaban dari rengekan buah hatinya. Dengan mengiyakan ajakan temannya untuk bekerja di jalan menjadi manusia silver, Baja menghadapi realitanya saat ini. Bukan tanpa pertimbangan, Baja menyadari betul dampak kesehatan dari cat yang digunakannya. Namun mau dikata apa, pertimbangan tersebut nyatanya tak mampu membuatnya menyelesaikan masalah ekonominya. Meski begitu, Baja masih berharap ada panggilan pekerjaan yang datang dengan bayaran yang layak. Namun bisa berkata apa, anaknya terus minta susu, dan harus terus sekolah. Tak banyak bahkan tak ada opsi yang lebih layak yang ia dapat ambil. 

“Siapa, Mas, yang mau terus-terusan kayak gini? Penyakit gitu lho, Mas,” jelasnya. 

Demi menyambung hidup, pekerjaan ini dilakukannya bersama dengan teman dan saudaranya. Tak jarang juga anak pertamanya memaksa untuk ikut dengannya mencari uang-uang receh untuk makan keluarga. Di saat matahari di atas kepala bersinar terik, Baja mulai melumuri tubuhnya dengan cat berwarna silver yang mengkilap. Sekiranya cat sudah menutupi hampir sebagian besar kulitnya, Baja pun melangkahkan kakinya ke persimpangan jalan untuk mengais receh dari para pengemudi bersama dengan rekannya. 

Sama dengannya, rekan Baja memiliki anak yang masih bayi yang harus dijaga bergantian dengan Baja. Jika dirasa sudah cukup untuk menutup hari, Baja membersihkan tubuhnya dari cat dan mendudukkan dirinya di sebuah teras toko. Beralaskan trotoar dan pagar yang menjadi sandaran, Baja menimang-nimang sebuah manusia mungil, anak seperjuangannya. 

Ancaman dan Tangisan

Turun ke jalan untuk hidup (PERSPEKTIF/Gratio)

Hari-hari menjadi manusia silver yang biasa dilakukan baja, tidak selalu mulus. Baja dan rekannya kerap berurusan dengan Satuan Polisi (Satpol) Pamong Praja (PP). Kantor mereka sudah tidak asing baginya. Sudah beberapa kali teguran dan bahkan ancaman dibuang keluar dari Kota Malang. 

Terdapat suatu ketika di bulan Februari 2023 lalu, Baja seperti di hari biasanya pergi untuk mengais uang di persimpangan yang biasa tempati. Namun entah mengapa rekannya mengajak untuk berpindah ke sekitar kawasan wisata Kayutangan. Baja sempat menanyakan mengapa mereka harus pindah? Karena kasihan, Baja pun memutuskan untuk ikut meskipun terpaksa. 

Sesampainya di lokasi, Baja menyadari kehadiran para pamong praja yang sudah mengawasi keberadaan mereka. Betul saja, beberapa saat setelahnya, pamong praja dengan dua sepeda motor dan satu truk pick-up, bergerak untuk menangkap Baja dan rekannya. Mencoba melarikan diri, tarikan dan cakaran harus diterima Baja dan rekannya. Anak-anak mereka yang ikut pun harus turut menjadi korban hingga terjatuh dan terluka.  

Jalan Oro-Oro Dowo menjadi saksi bisu pelarian Baja dan rekannya menghindari pamong praja. Mereka tak kuasa menahan air mata karena harus melihat anak Baja dan rekannya yang masih sangat kecil harus menerima kenyataan pahit di usia yang seharusnya penuh dengan canda dan tawa. “Nangis Mas, soalnya ada anaknya ini, masih kecil, masih bayi,” sedih Baja. 

Baja berjuang menghidupi keluarganya (PERSPEKTIF/Gratio)

Baja dan rekannya tidak pernah setakut itu saat dikejar pamong. Sebelumnya Baja dan dua rekannya sudah pernah terjaring oleh pamong dan saat ditangkap, mereka sudah membuat perjanjian dengan pamong praja untuk tidak menjadi manusia silver lagi. Menurut penuturan rekan Baja, pamong praja tidak ingin ada manusia silver mengingat Malang adalah kota wisata. Dari alasan ini mereka ditangkap dan diancam. Jika menjadi manusia silver kembali, mereka akan dibuang ke Situbondo atau tempat lain. 

Hal ini menjadi keresahan Baja dan rekannya, mengingat anak-anaknya masih kecil dan membutuhkan kehadiran sosok ibu. Saat di kantor pamong praja, Baja dan rekannya ditahan dari pukul dua sore hingga waktu maghrib. Selama itu, mereka hanya diberikan teh yang terlihat kotor dan tanpa rasa manis yang dirasakan lidah. 

Tanpa adanya solusi yang pasti, Baja dan rekannya dipaksa untuk berhenti menjadi manusia silver. Hal ini tidak realistis, modal seperti ikan tongkol, beras, dan cabai tidak lagi diberikan oleh dinas sosial. Baja hanya ditangkap dan diancam untuk dibuang ke daerah lain tanpa pekerjaan dan nasib yang jelas. Baja hanya direpresi namun tidak diberikan solusi. (ran/fkm/cns)

(Visited 114 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?