Lompat ke konten

Elegi di Balik Jeruji

Oleh: Attira Marwa Hanifah*

Cerita ini merupakan cerita bersambung milik LPM Perspektif dari karya yang berjudul “Tatapan di Balik Jeruji Besi” yang dapat anda baca pada link berikut https://lpmperspektif.com/2023/06/04/tatapan-di-balik-jeruji-besi/

***

Sejak hari pertama ragaku diseret paksa ke dalam ruangan ini hingga sekarang aku mulai berteman dengan ruangan ini, aku tidak pernah tau apa yang akan terjadi di esok hari. Semuanya menjadi sebuah teka-teki yang tidak bisa kupecahkan. Tubuhku semakin tak terawat, apalagi jiwaku. Setidaknya masih ada siaran rohani pukul 9.30 yang bisa membuat diriku tidak benar-benar gila. Setelah makan pagi tadi, aku iseng bertanya pada penjaga.

“Sekarang sudah tahun berapa?”

“Tahun 2013. Untuk apa kau menanyakan itu? Toh hidupmu akan habis di tempat ini.”

Sungguh jawaban yang sangat menyebalkan. Aku juga tahu kalau hidupku akan habis di sini, tapi bukan berarti aku tidak boleh mengetahui ada di tahun berapa hari ini kan? Sudahlah, setidaknya aku mendapatkan jawaban tahun berapa sekarang. Rupanya sudah sekitar 5 tahun aku tinggal di bilik kecil penuh penderitaan ini. Cukup lama dan entah kapan semuanya akan berakhir.

Aku tidak ingin membiarkan diri ini memikirkan jawaban menyebalkan penjaga pagi tadi, maka kuputuskan untuk mulai menulis puisi yang akan aku tampilkan di pentas seni tiga hari lagi. Pentas seni memang rutin dilaksanakan di tempat ini agar para narapidana dapat menampilkan keahlian mereka dan mendapatkan hiburan. Sebelumnya aku pernah menampilkan teater bersama penghuni lain dan sekarang aku ingin menampilkan karyaku sendiri.

***

Siang tadi aku telah membacakan puisiku hingga bait terakhir. Narapidana lain memberikan tepukan tangan bangga, sedang para penjaga hanya memberikan senyuman tipis menyeramkan. Aku merasa tidak ada yang salah dengan puisi yang kubacakan tadi. Aku hanya menyampaikan apa yang ada di kepala dan pikiranku. Namun, saat ini aku diseret paksa memasuki ruangan kecil berukuran 1 x 1 meter dan tinggi dua setengah meter ini. Tidak ada pencahayaan. Tidak ada ventilasi. Hanya pintu masuk yang menjadi satu-satunya sumber oksigen di ruangan ini.

“Bodoh, apa kau merasa keren membacakan puisi sampahmu itu?”

“Puisi paling sampah yang pernah kudengar!”

“Beraninya kau menampilkan puisi bodoh itu”

Dua penjaga yang menyeretku itu memberikan sumpah serapahnya serta memukuliku tanpa ampun. Tidak ada yang bisa kulakukan selain membiarkan tubuh ringkihku semakin lemah oleh pukulannya. Aku kesulitan mencerna apa yang terjadi sekarang karena semuanya terjadi secara tiba-tiba. Tapi yang jelas, mereka berhasil membangunkan traumaku atas kejadian 5 tahun lalu. Rentetan peristiwa itu mengalir deras dan membanjiri pikiranku, aku kalah.

Aku tidak pernah menyangka akan mencicipi ruangan penyiksaan ini. Hari yang kukira akan membahagiakan malah berujung menjadi hari paling sial. Entah sampai kapan aku akan dikurung di tempat pengap tak berkemanusiaan ini. Lagi-lagi semuanya terjadi karena kesalahan yang tidak sepenuhnya kupahami. Pertanyaan-pertanyaan tak terjawab itu selalu berputar di kepalaku. Kapan semua ini berakhir? Mengapa mereka masih mengulur waktu? Mengapa seakan-akan mereka ingin bermain-main terhadap hukumanku? Malam ini aku ditemani oleh rasa marah yang terpendam dan juga rasa takut yang semakin menggerogoti jiwaku. Ruang penyiksaan ini menjadi saksi atas doa yang kulantunkan untuk menutup hari ini.

Tuhan, segera jemput aku pulang.

Bersambung…

(Visited 86 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswi Psikologi 2022 FISIP Universitas Brawijaya. Saat ini sedang aktif berproses sebagai staff magang di Divisi Sastra LPM Perspektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?