Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Pusaka Bentala Rakyat Ungkap Kegagalan Proyek Lumbung Pangan Merauke

Diskusi terkait kegagalan proyek lumbung pangan Merauke
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Malang, PERSPEKTIF –  Yayasan Pusaka Bentala Rakyat menggelar diskusi bertema “Torang Semua Ini Hanya Jadi Penonton Saja” secara virtual pada Senin (29/8). Berangkat dari laporan dokumentasi lapangan yang ditulis oleh Yayasan Pusaka Bentala Rakyat dan Perkumpulan Petrus Vertenten MSC Papua, acara ini membahas kegagalan proyek lumbung pangan Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) di Tanah Marind, Merauke.

Diskusi diawali dengan pemutaran video pemantik yang menampilkan keseharian masyarakat Marind dan dinamika proyek lumbung pangan yang berdampak pada kehidupan masyarakat dalam sektor ekonomi, sosial, dan pendidikan. 

Diskusi kemudian dilanjutkan dengan pemaparan oleh Rassela Malinda sebagai salah satu penulis laporan. Ia merangkum empat poin yang menjadi perhatiannya dalam laporan tersebut yaitu situasi pangan, hak atas tanah, sosial-ekonomi, dan dinamika gender.

“Dengan pembongkaran hutan secara bertahap untuk menciptakan kawasan industri, masyarakat kehilangan kemampuan produksi pangan sehingga mengakibatkan ketergantungan pangan yang dapat menjadi ancaman jangka panjang,” ucap wanita yang akrab disapa Ella ini.

Ia lalu menambahkan bahwa perempuan juga terdampak dan mengalami krisis reproduksi sosial akibat proyek MIFEE ini. 

“Tuntutan untuk memenuhi kebutuhan pangan, perempuan ikut terjun mencari alternatif sumber pangan lain yang nyatanya tidak memberikan upah yang layak, bahkan di area ekstraksi kayu, perempuan melakukan kerja produktif tanpa dibayar,” imbuhnya.

Harry Woersok, Direktur Perkumpulan Petrus Vertenten MSC juga menyatakan sampai saat ini tidak terlihat suatu perubahan yang cukup signifikan dari kebijakan MIFEE, melainkan hal tersebut  justru memarginalkan orang Marind.

Selanjutnya, kedua penanggap, Laksmi Savitri selaku Aktivis Pangan dari FIAN Indonesia dan Yosehi Mekiuw selaku Akademisi Universitas Musamus Merauke, memberikan pemaparan yang menyetujui laporan tentang proyek MIFEE tersebut. Yosehi juga menggarisbawahi tentang ketidakhadiran negara sebagai fasilitator yang seharusnya menjamin kesetaraan sosial dan kesejahteraan rakyat. 

Diskusi ini juga menghadirkan testimoni dari warga lokal yang membagikan cerita-cerita yang dialami mereka secara nyata di lapangan tentang bagaimana ketimpangan upah diberikan, juga kesulitan mereka dalam mengakses sumber daya pangan setelah adanya proyek MIFEE. (hal/cns/gra)

(Visited 45 times, 2 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts