Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Diskusi Keilmuan di FISIP Belum Ramah bagi Mahasiswa Disabilitas

Kembar - Gedung A dan B FISIP UB (PERSPEKTIF/Gratio)
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Malang, PERSPEKTIF Diskusi keilmuan dan keterampilan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) sampai saat ini masih belum ramah kepada para mahasiswa disabilitas. 

Hal ini disampaikan oleh Riki Putra, mahasiswa disabilitas di Program Studi (Prodi) Psikologi yang mempertanyakan seputar solusi agenda webinar seperti pembagian tautan presensi atau game yang kurang leluasa diakses bagi teman-teman tunanetra. 

Sependapat dengan Riki, Annisa Wardhani, mahasiswa disabilitas di Prodi Psikologi juga merasa kesulitan mencari pendamping atau relawan yang membantu mahasiswa disabilitas di luar jam kuliah. 

“Menurut saya yang akan kesulitan pada proses webinar ini mahasiswa disabilitas tunarungu dan tunanetra yang harus memiliki pendamping atau volunteer untuk membantu mereka dalam bentuk typing ataupun voice note,” ucapnya (20/7).

Hal ini pun diakui oleh Syawal Nurrahman selaku Menteri Inovasi dan Karya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP UB bahwa beberapa program kerjanya tidak sepenuhnya inklusif. Contohnya seperti juru bahasa isyarat (JBI) yang belum bisa disediakan sepenuhnya untuk mempermudah teman-teman tunarungu agar lebih mudah menyerap informasi.  

“Buat fasilitas interpreter kalau sependek sepengetahuan aku selama beberapa waktu untuk program-program pengkajian ataupun keilmuan terutama di skala FISIP itu memang masih kurang karena keterbatasan fasilitas seperti itu belum (tersedia, red) di semua LKM (Lembaga Kedaulatan Mahasiswa, red) FISIP,” jelasnya (18/7).

Begitu juga dengan Herfinka Riandwi, Ketua Umum Badan Riset Ilmu Sosial (BARIS) yang mengatakan bahwa penyediaan fasilitas ramah disabilitas dalam program kerja BARIS menjadi salah satu bentuk evaluasi yang perlu ditingkatkan. Ia juga menyetujui apabila perlu ditetapkan Standard Operating Procedure (SOP) khusus yang mengatur terkait persoalan penyediaan fasilitas disabilitas. 

Menanggapi hal tersebut, Bambang Dwi Prasetyo selaku Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan FISIP UB merencanakan pengadaan unit kemahasiswaan baru yang melayani mahasiswa disabilitas terutama di lingkungan fakultas. Ia juga mengatakan hal tersebut akan disiapkan minimal di tahun ini. (aql/az/uaep)

(Visited 57 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts