Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Rencana Investasi Nikel Elon Musk Berpotensi Mengganggu Agenda Mitigasi Perubahan Iklim Indonesia

Kawasan Industri Terpadu pertambangan nikel yang berada di Weda, Maluku Utara (djkn.kemenkeu.go.id)
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Malang, PERSPEKTIF– Rencana kerjasama investasi nikel yang dibicarakan presiden Joko Widodo dengan Elon Musk pada kunjungan kerja di Amerika pada Minggu (15/5) memiliki potensi mengganggu dua agenda besar Indonesia dalam hal mitigasi perubahan iklim, yaitu Nationally Determined Contribution (NDC) dan Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience (LTS-LCCR).

“Jika Tesla memberikan investasi nikel di Indonesia, bisa jadi kerjasama tersebut mengancam NDC, karena empat dari lima sektor utama NDC Indonesia seperti sektor lahan dan kehutanan, sektor industri, sektor energi dan sektor limbah pasti akan terpengaruh apalagi jika investasi dilakukan dalam skala besar. Selain itu, investasi juga akan mengganggu LTS-LCCR dalam mencapai non-zero emission yang ditargetkan di tahun 2060,” ujar Rafaela, aktivis Youth Climate pada Tim Perspektif (8/6).

Menurutnya, rencana investasi bidang nikel yang dibicarakan memang akan membawa banyak peluang bagi Indonesia, terutama dalam hal terciptanya jutaan lapangan kerja yang akan menjawab persoalan bonus demografi di Indonesia. Lebih lagi, adanya investasi juga akan membantu Indonesia dalam mencapai target bauran energi terbarukan pada angka 23% di tahun 2025. 

Meski demikian, berdasarkan track record perusahaan Tesla sebagai perusahaan yang ditempatkan pada urutan ke-22 dalam daftar Toxic 100 Air Polluters Index oleh lembaga riset U-Mass Amherst Political Economy Research Institute tahun 2022 serta penilaian buruk dalam hal strategi rendah karbo oleh index S&P 500. Rafaela mengatakan kerjasama dengan Tesla bisa memukul mundur kelestarian lingkungan di Indonesia.

“Jika Elon Musk memiliki ambisi memberikan investasi, maka pemerintah Indonesia harus benar-benar waspada dan meningkatkan penegakkan hukum yang tegas untuk mematikan Tesla bisa bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan. Karena jika tidak, tentunya hal ini akan menimbulkan berbagai bencana ekologis yang implikasinya bisa mengancam kesejahteraan sosial hingga kestabilan ekonomi,” ujarnya.

Potret pertemuan Presiden Joko Widodo dan Elon Musk (Youtube/Sekretariat Presiden)

Rafaela menambahkan bahwa rencana investasi akan berpotensi memicu terjadinya sengketa antara masyarakat dengan pemerintah karena transparansi dampak lingkungan akibat aktivitas pertambangan di Indonesia masih tergolong rendah.

Satu suara dengan Rafaela, Lutfi Amiruddin selaku Dosen Sosiologi Universitas Brawijaya (UB), mengatakan bahwa rencana kerja sama tersebut harus ditinjau lebih jauh lagi. 

“Kalau Indonesia hanya sekedar jualan barang tambang dan mendirikan perusahaan tambang di Indonesia, kita perlu meninjau lebih jauh. Apa yang akan didapatkan oleh masyarakat lokal, apa dampak ekologi bagi masyarakat lokal,” ujarnya (2/6).

Menanggapi potensi dampak lingkungan yang ditimbulkan, Lutfi turut membeberkan beberapa keraguan terhadap kerjasama yang akan dilakukan.

“Ada banyak kasus yang membuat ragu, belum lagi terkait lubang tambang, penggundulan hutan, dan juga masalah masyarakat lokal mengenai terciptanya lapangan pekerjaan,” ujarnya.

Selain itu, Lutfi juga menambahkan bahwa masalah dalam sektor pertambangan merupakan sektor yang memiliki resiko tinggi. Seharusnya pemerintah bisa belajar banyak dari kasus lumpur lapindo. Sebuah perusahaan tambang yang didirikan di area padat penduduk dan akhirnya berujung malapetaka.

Ia lanjut mengatakan bahwa Indonesia harus memikirkan dampak yang akan ditimbulkan dari kerja sama ini. Jika kerja sama tersebut jangan sampai hanya menguntungkan bagi beberapa pihak saja. Terakhir, Lutfi juga menambahkan bahwa Indonesia juga harus memikirkan cara pengolahan limbah juga harus dipikirkan dengan matang, berkaca dari beberapa kasus yang telah terjadi. (cf/zni/ads)

(Visited 80 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts