Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Puisi dan Ucapan yang Terlambat untuk Toety Heraty

Sumber gambar: Chris Woodrich via https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Toeti_Heraty_at_the_International_Conference_on_Feminism,_2016-09-24_01.jpg
Oleh: Riqko Nur Ardi Windayanto*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Tidak banyak pengetahuan saya mengenai Toety Heraty, mahaguru purnabakti filsafat di Universitas Indonesia itu. Namanya pertama kali saya ketahui dari sebuah judul buku yang ditulis oleh pembimbing akademik saya di FIB UGM. Buku itu berjudul Wanita di Mata Wanita: Perspektif Sajak-Sajak Toety Heraty. Entah kapan tepatnya saya mengetahui buku itu, yang pasti, saya masih belum pernah membacanya. Dengan kata lain, pengetahuan saya masih terbatas pada sampul buku semata, bukan pada apa isi buku yang pada gilirannya, mengarahkan saya untuk mengetahui siapa Toety. Namun, buku itu mengarahkan saya pada satu pemahaman bahwa ia adalah seorang penyair—penulis puisi, lebih tepatnya. Satu waktu pula, ada hasrat yang mengarahkan saya untuk menelusurinya lebih lanjut. Bukan lewat informasi biografis, tetapi melalui sebuah video orasi di Youtube. Lantas, bertemulah saya dengan sebuah video orasi Toety mengenai—kurang lebih—wacana perempuan dan ideologi “ibuisme”.

Sedikit banyak baru saya pahami bahwa Toety adalah seorang feminis. Femininitas itu itu ia wujudkan melalui kiprahnya sebagai salah satu pendiri Jurnal Perempuan. Dimuat di Jurnal Perempuan pada Agustus 2016, ditulis oleh Gadis Arivia, tulisan itu berjudul “Toety Heraty: ‘Kupu-Kupu dalam Sinar Matahari’”[i]. Saya mengira dan menaksir, barangkali ada semacam kedekatan ideologis yang mendasari Gadis menulis profil guru sekaligus koleganya di Filsafat UI sebab bagaimana pun, ia juga seorang feminis. Seorang feminis menulis seorang feminis. Begitu lah kira-kira yang saya maksud dengan kedekatan ideologis. Dalam tulisan itu, Gadis tidak sekadar menyajikan biografi. Ia menggambarkan bagaimana alur perjalanan intelektual Toety bersanding seiring dengan filsafat, feminisme, dan puisi. Saya tidak akan berbicara terlalu renik perihal feminisme. Namun, persoalannya kemudian, apakah saya pernah membaca puisi(-puisi)nya? Kapan saya membacanya? Pertanyaan ini akan saya jawab nanti; mari kita menelusuri sebuah puisi.

SAJAK-SAJAK

sambil erat-erat berpegang
menjenguk dalam kelam
hidup remang-remang
merenggut merjan atau bintang
diusap, ditimang, dironce, ditebarkan

pulang-pulang ada yang menyusup
dalam degup, deras menggetar
sampai ke puncak-puncak
sekilas tertahan jadi kilangan
yang rebah-rebah dalam dekapan

Membaca “Sajak-Sajak” itu mengingatkan saya pada dua nama: Andries Teeuw dan Budi Darma. Dengan mengulas “Cocktail Party” karya Toety, Teeuw mengatakan bahwa puisi itu begitu rumit sehingga menjadi yang paling sulit untuk dikupas[ii]. Meskipun bukan mengulas “Sajak-Sajak”, persoalan penting dari pendapat Teeuw adalah mengenai kerumitan puisi seorang Toety. Akan tetapi, dalam tulisan pengantar untuk antologi Nostalgi = Transendensi: Pilihan Sajak karya Toety[iii], Budi Darma menyatakan bahwa puisi-puisi seorang Toety mampu menghidupkan pijar-pijar komunikasi. Dua pemikiran dua nama itu, kemudian, menjelama sebagai pertarungan dalam alam pikiran saya: kesulitan bertanding dengan komunikasi. Bukankah komunikasi tak mampu berpijar jika tak menemui titik terang? Bukankah titik terang juga tak mampu dihadirkan juga terbelenggu kerumitan dan kesulitan? Hal ini saya rasakan secara personal ketika membaca puisi Toety di atas. Sekilas memang tampak ringkih, tetapi puisi itu begitu kuat. Saya mengatakan ringkih karena seolah-olah, puisi itu dibangun dari kesederhanaan bahasa, yang tidak tenggelam dalam permainan metafora. Namun, bagaimana pun sebuah puisi—dalam pandangan Riffaterre—selalu menyampaikan sesuatu secara tidak langsung. Untuk itu, Riffaterre menawarkan dua pembacaan puisi, yaitu secara heuristik untuk menemukan makna dan secara hermeneutik untuk menemukan arti[iv]. Agar tidak larut dalam persoalan teoretik ini, saya mencoba melakukan keduanya.

Puisi “Sajak-Sajak” sama sekali tak menyebut siapa subjek atau pelaku. Siapa yang berpegang erat, yang menjenguk, yang merenggut, dan yang pulang? Subjek yang tak dikenali ini berpegang pada entah suatu apa begitu eratnya. Ia melihat ke depan dengan menjorokkan kepalanya ke depan, tetapi yang ia lihat justru kekelaman, ruang yang hampa cahaya. Tanpa cahaya, sang subjek merasa hidup dalam keremang-remangan. Namun, di dalamnya, subjek masih sanggup menemui dua objek yang ia lihat, yang akan ia pilih untuk direnggut, yaitu manik-manik atau bintang. Di antaranya keduanya, yang ia pilih akan diusap saja atau ditimang, dironce atau ditebarkan. Namun, setelah menarik kepalanya kembali, ia keluar dari ruang yang gelap tadi. Ia kembali ke asalnya, ruang yang, secara tidak langsung, bercahaya, yang segalanya jelas terlihat. Dengan kejelasan itu, ia mampu melihat seorang penyusup. Tetapi siapa? Puisi itu sama sekali tak memberikan jawaban siapa subjek yang menyusup. Penyusup itu membuat degup subjek yang pertama. Degup begitu kencang, seakan-akan begitu tinggi menggapai puncak, lalu begitu kuat seumpama batu kilangan. Namun kemudian, degup itu berhenti, merebah dalam dekapan.

Makna puisi itu masih misteri karena kita belum menemukan arti. Makna itu masih penuh dengan ketidakmungkinan. Sebab, tak mungkin seseorang tiba-tiba masuk ke dalam ruang gelap hanya dengan menjengukkan kepalanya. Tidak mungkin lagi di dalam kegelapan itu ia sanggup menemukan merjan atau bintang. Merjan bisa dijangkau karena ia ada di dunia, tetapi bintang bersemayam di cakrawala jauh dan tinggi yang seorang pun tak dapat menggapainya. Bahkan, tak mungkin jika bintang itu diusap, ditimang, dironce, ditebarkan. Bait pertama puisi itu adalah sebuah pretensi, keinginan yang tak berdasar, yang oleh karena itu, sebuah hasrat yang mustahil untuk diwujudkan. Pretensi tak serupa dengan mimpi sebab mimpi relatif mungkin menemukan jalannya untuk diwujudkan. Bait kedua adalah mimpi. Mimpi seorang subjek untuk bertemu dengan subjek yang ia rindukan, yang ia tunggu dalam kesendirian, dalam keremang-remangan. Rindu yang mendegupkan, menggetarkan, dan menjadikan perasaan seumpama kilangan karena begitu kuatnya. Lalu, rindu terbayarkan dalam satu pertemuan, satu dekapan.

Saya hanya menyajikan analisis pendek yang sangat terbuka untuk diperdebatkan. Namun, analisis singkat itu merasa perlu saya sajikan untuk melihat kedalaman misteri yang disampaikan Toety dalam puisinya. Misteri semacam ini barangkali ia hadirkan dalam puisi sebagai akumulasi seorang intelektual, filsuf, budayawan, dan tentu saja, seorang penyair. Itu sebabnya, memahami puisi Toety seperti membawa diri menuju sebuah terowongan yang amat panjang dan gelap sembari berharap akan ada cahaya di ujungnya nanti. Terowongan ini seperti yang disampaikan Teeuw sebagai kerumitan dan kesulitan, sedangkan cahaya di ujungnya nanti adalah pijar-pijar komunikasi seperti yang disinggung oleh Budi Darma. Untuk itu, saya kira Toety tidak menyalakan pijar-pijar komunikasi begitu saja. Ia ingin menghadirkan cahaya setelah gelap. Mengapa? Karena sesuatu disebut terang atau bercahaya jika ada gelap atau tanpa cahaya yang mengiringi. Teoty adalah penyair yang mampu menerjemahkan dan mengucapkan pikiran segelap dan seterang itu di dalam puisinya.

Untuk itu pula, saya merasa berkewajiban untuk menjawab pertanyaan saya semula. Apakah saya pernah membaca puisi(-puisi)nya? Kapan saya membacanya? “Sajak-Sajak” adalah puisi Toety Heraty yang pertama kali saya baca sepanjang jalan panjang saya di padang luas ilmu sastra. Malangnya, puisi itu baru saya baca pada satu malam tanggal 12 Juni 2021 di Kota Malang. Entah hasrat apa yang mendorong, saya menelusuri #toetyheraty di media sosial Instagram, lalu menemukan sebuah unggahan oleh sebuah akun yang memuat puisi tersebut. Esok hari pada Ahad 13 Juni 2021 yang teduh, dari unggahan Dr. Hilmar Farid (Dirjen Kebudayaan RI), saya mengetahui bahwa Toety Heraty telah berpulang di usia senja yang begitu purna. Cukup mengejutkan karena ketika saya mulai tertarik dan tenggelam dalam karya-karya dan pemikiran-pemikirannya, beliau telah menemui titik akhir yang sempurna dari sebuah perjalanan hidup.

Memang, saya bukan murid secara langsung dari Toety Heraty. Beliau pun juga tidak mengenal siapa saya karena kami tidak memiliki kedekatan intelektual, selain juga karena kami berbeda institusi ilmu pengetahuan. Namun, meskipun saya bukan muridnya secara langsung, karya-karya dan pemikiran-pemikirannya, baik sastra maupun kebudayaan secara umum, telah merasuk menggenapi ilmu pengetahuan saya yang masih terbatas, yang tak setara dengan luasnya alam pikiran seorang Toety Heraty. Untuk itu, kendati beliau tak mengetahui siapa saya, beliau tetaplah guru bagi saya dan mungkin, semua orang yang mengenalnya. Benar apa yang dikatakan oleh Gadis Arivia dalam sebuah obituari di Tempo, Toety Heraty telah melakukan banyak hal yang kadang terlalu banyak. Pekerjaannya telah selesai dan hidupnya sempurna[v]. Selamat berpulang Toety Heraty. Maaf, ucapan ini terlambat berhari-hari, bahkan berminggu-minggu setelah ketiadaanmu.***


[i] Arivia, Gadis. (2016). Toety Heraty: Kupu-Kupu dalam Sinar Matahari. Jurnal Perempuan,
           
21(3): 355-359.

[ii]Mahayana, Maman S. (2010). Ironi Toety Heraty. Retrived from http://sastra-
            indonesia.com/2010/06/ironi-toeti-heraty/#more-9923.

[iii]Heraty, Toety. (1995). Nostalgi = Transendensi: Pilihan Sajak. Jakarta: Gramedia
            Widiasarana Indonesia.

[iv] Faruk. (2020). Metode Penelitian Sastra: Sebuah Penjelajahan Awal. Cetakan kelima.
            Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

[v] Arivia, Gadis. (2021). Toety Heraty, Sang Guru. Retrieved from
            https://majalah.tempo.co/amp/obituari/163422/obituari-toeti-heraty-guru-yang-
            membawa-filsafat-ke-dunia-aktivisme.

(Visited 83 times, 1 visits today)
*) Penulis adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, 2019. Tulisan-tulisannya dimuat pada sejumlah media massa dan jurnal akademik. Saat ini, berkegiatan dalam penelitian (sastra, bahasa, dan kebudayaan), baik sebagai peneliti mandiri maupun asisten peneliti di FIB UGM.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts