Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

In Memoriam: Sastrawan dan Cendekiawan Sapardi Djoko Damono

https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20160128104919-241-107314/sapardi-djoko-damono-bikin-puisi-jangan-marah
Oleh: Anelia Marva Sabella*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Tepat di pertengahan Juli 2020, dunia sastra tanah air diguncang kabar pilu dari seorang sastrawan ternama—the old masterpiece—Sapardi Djoko Damono, yang menutup usia genap di 80 tahun kehidupannya. Sapardi yang kerap disapa SDD, menghembuskan napas terakhir sekitar pukul 09.17 WIB di Eka Hospital, Tangerang Selatan. Mengiringi hal tersebut, sederet artis pun mengucapkan bela sungkawa atas kepergian sang legenda. Beberapa di antaranya ialah musisi seperti Dewa Budjana dan Rara Sekar, komika Arie Keriting, aktris Velove Vexia, sutradara Fajar Nugros, dan penulis millenial abad ini—Tsana (Rintik Sedu) juga mengucapkan bela sungkawa yang begitu dalam, ditambah lagi Goenawan Muhammad—sastrawan andal Indonesia—menjadi yang pertama mengabarkan kepergian Bapak Sapardi Djoko Damono. Tentulah, duka nyata ini dirasakan seluruh masyarakat Indonesia karena kiprah SDD dalam dunia seni sangatlah besar, pelbagai karya indah tercipta, puluhan penghargaan telah diraih, dan profesi-profesi luar biasa yang ia geluti kiranya cukup menjadi bukti kebesaran seorang Sapardi Djoko Damono. Untuk lebih mengenal beliau, mari kita ‘kuak’ sedikit demi sedikit latar belakang seorang tokoh Maha Besar dalam dunia sastra ini.

Sapardi Djoko Damono merupakan anak daerah yang lahir dan besar di Surakarta (Sala) pada 20 Maret 1940 tepatnya di Ngadijayan. Lahir dari pasangan Sadyoko dan Saparian, SDD menjajaki dunia pendidikan mulai dari SR (sekolah rakyat) Kraton “Kasatriyan”, Baluwarti, Solo, kemudian melanjutkan ke SMP Mangkunagaran dan SMA Margoyudan. Baru setelah Sapardi beranjak dewasa, ia memutuskan keluar dari Solo dan mengeksplorasi Yogyakarta untuk melanjutkan studi di Universitas Gajah Mada, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Jurusan Sastra Inggris. Di sinilah, SDD mulai merambah kariernya, berawal dari usaha menempatkan diri pada sematan mahasiswa ‘aktif’ melalui kiriman karya-karya di sejumlah media, Sapardi bertransformasi menjadi penggiat sastra yang luar biasa. Ia bahkan pernah mendalami studi tentang humanities di University of Hawaii, Amerika Serikat, tahun 1970-1971.

Setelah rampung dengan urusan kemahasiswaan dan meraih sarjana nya, SDD menjadi dosen tetap, Ketua Jurusan Bahasa Inggris, IKIP Malang Cabang Madiun, tahun 1964-1968 dan bersamaan dengan itu, beliau pun menjadi dosen tetap di Fakultas Sastra Budaya, Universitas Diponegoro. Pada 1973 dan 1974, Sapardi melebarkan sayapnya dengan menjadi Direktur Pelaksana Yayasan Indonesia (penerbit majalah sastra Horison) di Jakarta, juga bekerja sebagai dosen tetap di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, Jurusan Sastra Indonesia. Dia menjabat Pembantu Dekan III, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia tahun 1979-1982, lalu diangkat sebagai Pembantu Dekan I pada 1982-1996 dan akhirnya menjabat Dekan pada 1996-1999 di fakultas dan universitas yang sama. Dia memasuki masa pensiun sebagai guru besar Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia tahun 2005, tetapi masih diberi tugas sebagai promotor konsultan dan penguji di beberapa perguruan tinggi.

Di samping bekerja sebagai dosen di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, SDD juga menjabat sebagai Sekretaris Yayasan Dokumentasi Sastra H.B. Jassin (sejak 1975), sebagai anggota Dewan Kesenian Jakarta (1977-1979), sebagai anggota redaksi majalah Pembinaan Bahasa Indonesia, Jakarta (sejak 1983), sebagai anggota Badan Pertimbangan Perbukuan Balai Pustaka, Jakarta (sejak 1987), sebagai Sekretaris Yayasan Lontar, Jakarta (sejak 1987), dan sebagai Ketua Pelaksana Pekan Apresiasi Sastra 1988, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta (1988). Kemudian, pada 1986 di Wisma Arga Mulya, Tugu, Bogor—di depan peserta Penataran Sastra Tahap I dan Tahap II Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa—Bapak Sapardi mengemukakan argumen untuk mendirikan organisasi profesi kesastraan di Indonesia yang berhasil terungkap 2 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1988, yaitu Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI). Sapardi Djoko Damono terpilih sebagai Ketua Umum Hiski Pusat selama tiga periode. Selain itu, ia juga tercatat sebagai anggota Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI), dan sebagai anggota Koninklijk Instituut vor Taal Land-en Volkenkunde (KITLV).

Melihat kiprah nya yang begitu luar biasa, sangat tidak afdol jika kita tidak mengupas satu per satu, apa saja yang telah ‘tangan dingin’ seorang SDD hasilkan. Karya indahnya muncul pada pelbagai bentuk seperti puisi dan buku. Sapardi mengumpulkan sajaknya dalam buku yang berjudul Duka-Mu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Akuarium (1974), Perahu Kertas (1983), Sihir Hujan (1984), Hujan Bulan Juni (1994), Arloji (1998), Ayat-Ayat Api (2000), Mata Jendela (2000), dan Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro (2003). Dalam tahun 2001 terbit kumpulan cerpennya berjudul Pengarang Telah Mati dan 8 tahun kemudian, terbitlah kumpulan sajaknya yang berjudul Kolam. Sebagai pakar sastra, Sapardi menulis beberapa buku yang sangat penting, yaitu (1) Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas (1978), (2) Novel Sastra Indonesia Sebelum Perang (1979), (3) Kesusastraan Indonesia Modern : Beberapa Catatan (1999), (4) Novel Jawa Tahun 1950-an : Telaah Fungsi, Isi, dan Struktur (1996), (5) Politik, Ideologi, dan Sastra Hibrida (1999), (6) Sihir Rendra : Permainan Makna (1999) dan Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan : Sebuah Catatan Awal.

Sapardi pun turut menerjemahkan beberapa karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia. Hasil terjemahan tersebut antara lain Lelaki Tua dan Laut (The Old Man and the Sea, Hemingway), Daisy Manis (Daisy Milles, Henry James), Puisi Brasilia Modern, George Siferis, Sepilihan Sajak, Puisi Cina Klasik, Puisi Klasik, Shakuntala, Dimensi Mistik dalam Islam karya Annemarie Schimmel , Afrika yang Resah (Song of Lowino dan Song of Ocol oleh Okot p’Bitek), Duka Cita bagi Elektra (Mourning Becomes Electra oleh Eugene O’Neill), Amarah I dan II (The Grapes of Wrath, John Steinbeck), dan sebagainya. Dari sini tidak heran bahwa segenap masyarakat menjunjung tinggi orisinalitas dan kehebatan SDD dalam mengolah karya. Bahkan, A. Teeuw dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989) menyatakan bahwa Sapardi adalah seorang cendekiawan muda yang mulai menulis sekitar tahun 1960 dan mengikuti jejaknya di tahun mendatang—barangkali—dapat mencerminkan perkembangan di masa depan. Puisi-puisi yang ditulis Sapardi cenderung puisi-puisi yang berkarakter intelektual. Menurut Mahayana (2015: 14) puisi Sapardi Djoko Damono tidak semata ekspresi perasaan hati, melainkan pergulatan estetis dan tarik-menarik gejolak perasaan yang melimpah dan yang harus terintegrasi dengan pemikiran dan kualitas intelektual. “Kata” bagi puisi-puisi Sapardi adalah fondasi untuk langkah selanjutnya di dalam berpuisi.

Untuk itu, SDD telah mendapatkan pelbagai macam penghargaan mulia. Keuletan beserta tangan dinginnya dalam mengolah setiap sajak, kata, dan kalimat, mampu membius masyarakat hingga sedemikian rupa. Berikut ialah daftar penghargaan yang beliau raih selama berkarya dalam dunia sastra :

  1. Cultural Award dari Australia (1978)
  2. Anugerah Puisi Putra dari Malaysia (1983)
  3. SEA Write Award dari Thailand (1986)
  4. Anugerah Seni dari Pemerintah Indonesia (1990)
  5. Mataram Award (1985)
  6. Kalyana Kretya dari Menristek RI (1996)
  7. Penghargaan Achmad Bakrie (2003)

Begitulah kiranya apa yang berhasil diciptakan seorang Sapardi Djoko Damono—the old masterpiece—pada dunia Sastra Indonesia. Sampai sekarang karya-karya nya masih dinikmati dan dijunjung tinggi oleh masyarakat, terutama salah satu tajuk puisi nya yang berhasil di filmkan Hujan Bulan Juni pada 2017 silam. Terima kasih Bapak Sapardi Djoko Damono, karyamu akan selalu kami jaga, kisahmu akan selalu kami kenang, dan perjuanganmu akan selalu menjadi tonggak penyemangat untuk kita semua.

“KUTIPAN”

Sebagai pengarang, kita harus memiliki kepercayaan pada kata. Iman saya adalah kata, menulis adalah menyampaikan sesuatu lewat kata. Selama saya beriman pada kata, saya akan tetap menulis’

Kita tidak perlu terlalu dipusingkan dengan perkataan orang lain, terus kejar apa yang diinginkan

‘Kalau pergi ke sungai dan menunggu inspirasi, tidak akan sampai (datangnya inspirasi). Niatkan saya ingin menulis, itu yang saya kerjakan’

-Sapardi Djoko Damono

Referensi:

Aninda, N. (2020). “Petuah Inspiratif Sapardi Djoko Damono untuk Para Penulis.” Retrieved from Kabar24.bisnis.com website: https://kabar24.bisnis.com/read/20200719/79/1268067/petuah-inspiratif-sapardi-djoko-damono-untuk-para-penulis

Ensiklopedia Sastra Indonesia. (n.d.). Sapardi Djoko Damono. Retrieved from http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Sapardi_Djoko_Damono %7C Ensiklopedia Sastra Indonesia – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

Isnaini, H. (2020). Representasi Ideologi Jawa pada Puisi-Puisi Karya Sapardi Djoko Damono. Pena : Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra10(1), 24-47. https://doi.org/10.22437/pena.v10i1.9343

Suntama, P. (2020). Pengaruh Sapardi Djoko Damono dalam Sejarah Kesusasteraan Indonesia. Retrieved March 22, 2021, from Tirto.co.id website: https://tirto.id/pengaruh-sapardi-djoko-damono-dalam-sejarah-kesusasteraan-indonesia-eLmw

(Visited 72 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswa Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Tahun 2020.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts