Illustrator: Sari Rimayanti

*Oleh: Debby Kusuma

“Hmmm…” laki-laki itu berulang kali berdeham dan menarik napas panjang, sembari melihat cermin yang ada di depannya. Hari ini laki-laki itu tampak sempurna dengan setelan jas beserta dasi dan bunga yang tersemat di kantongnya, rambut pirang yang sedikit acak-acakan, dan mata biru yang menawan. Perpaduan yang sangat pas, namun belum bisa meredakan gugup yang menjalari seluruh tubuhnya. Laki-laki itu melihat arloji di tangannya dan menunjukkan pukul 08.00. “Sudah waktunya” kata laki-laki itu dalam hati. Sebuah senyum mengembang di wajahnya dan ia pun berjalan meninggalkan cermin itu.

Belum pernah ada pagi yang seindah ini―diluar matahari bersinar lembut, orang-orang terkasih berkumpul dengan bahagia, dan alunan piano yang menenangkan, kesemuanya itu semakin meyakinkan langkah laki-laki itu. Ketika ia membalikkan badannya, tampaklah seorang perempuan cantik dengan bunga mawar putih di tangannya merekahkan senyum tanpa ragu. Semua yang datangpun berdiri dan perempuan itu bersiap menghampiri sang laki-laki.

Tepat saat perempuan itu mengayunkan langkah pertamanya, pintu besar dibelakangnya terbuka. Dari balik pintu itu semua dapat melihat, tiga orang berkulit putih menenteng benda hitam panjang. Laki-laki itu tidak pernah menyangka bahwa ketika pintu itu terbuka, semua mimpi mimpinya mendadak sirna.

***

Mengapa lama sekali, mengapa dia tak kunjung datang? Aku sudah muak dengan rasa sepi ini, bahkan hingga di kondisiku yang sekarang, rasa sepi ini enggan berlalu. Ia berjanji akan menemuiku jam 10 malam ini, namun apa yang kudapat? Jam 11 malam dan aku masih sendiri (selalu, seperti biasa, aku tidak ditemani siapapun). Namun, hari ini berbeda. Hari ini hari Minggu, dia tidak pernah absen menemuiku saat hari Minggu. Entah pagi, sore atau bahkan tengah malam seperti ini dia selalu menyempatkan waktunya untuk bertemu diriku disini. Sebenarnya pertemuan kami bukan hanya hari minggu; setiap Rabu saat dia berlatih piano, dan setiap Sabtu saat ia berkumpul dengan teman-temannya, dia selalu menyempatkan diri untuk menemuiku.

Pagi ini, dia rela menaiki berpuluh-puluh anak tangga untuk sekedar mengatakan, “Nanti malam aku akan menemuimu jam 10, aku harap kau tidak keluyuran kemana-mana” padaku. Tidak seperti biasanya ia menemuiku sesingkat itu. Oleh karena hal inilah aku penasaran apa yang akan disampaikannya padaku.

Biasanya jam segini aku mampir keluar untuk sekadar melihat-lihat situasi jalanan dan menenangkan pikiranku. Jam 11 malam jalanan sudah sepi, hanya ada beberapa sepeda motor dan mobil yang berseliweran. Aku biasa duduk dibawah pohon di taman kota yang ada di depan gedung tempat aku tinggal. Berpuluh-puluh tahun aku tinggal di kota ini dan aku merasa tiada banyak yang hal berubah. Yah meskipun zaman sudah semakin maju dan kota ini―beserta dengan penduduk-penduduknya mulai modern namun aku bersyukur mereka tidak meninggalkan nilai-nilai yang saat ini “sudah dianggap kuno” membuatku tetap nyaman untuk tinggal disini. Malam ini berbeda, aku tidak melakukan rutinitasku, karena dia―satu-satunya teman yang kupunya, memintaku untuk bertemu dengannya. Sedari tadi aku hanya memandang jalanan melalui jendela kecil di ujung ruangan hingga pada akhirnya suara berderit terdengar dari tangga yang terbuat dari kayu yang rapuh. “Itu pasti dia”, batinku. Dengan semangat aku melangkah menuju pintu yang terbuka sedetik kemudian.

“Hi B, maaf aku terlambat menemuimu”

“Ah, tidak apa-apa, kau mau menemuiku saja sudah sangat menyenangkan hatiku. Ngomong-ngomong, kau terlihat kelelahan. Apa kau sedang tidak enak badan?”

“Tidak, mungkin aku hanya kelelahan mengayuh sepeda. Bukan sebuah masalah, aku tidak apa-apa.”

“Kau tidak diantar?”

“Tidak, aku menyelinap keluar. Seisi rumahku sudah tidur. Ngomong-ngomong aku kemari ingin memberimu ini.”

“A-apa? Kau tidak salah?”

“Tidak, aku mengerti maksudmu. Memang ini tidak kau butuhkan, kau juga tidak akan bisa memakainya. Aku tak tahu mau memberimu apa, kuputuskan untuk memberimu ini. Kau tahu, aku merajutnya dengan tanganku sendiri. Aku belajar merajut beberapa bulan terakhir hanya untuk membuat ini. Aku harap kau menyukainya sebagai…”

“Sebagai apa Yuki?”

“Sebagai tanda perpisahan. Agar kau tidak melupakanku”

“Perpisahan? Kau sudah tidak ingin berteman lagi denganku?”

“Bukan, bukan seperti itu. Aku akan melanjutkan kuliahku di Jakarta. Orangtuaku pun sudah membeli apartemen disana. Kami sekeluarga akan pindah. Maaf B aku tidak bisa berteman lebih lama lagi denganmu.”

“Tapi-tapi…”

“Aku sungguh meminta maaf untuk tidak memberitahumu pada awalnya. Besok keretaku berangkat pukul 11 siang. Tapi orangtuaku masih disini  hingga bulan depan, kau masih bisa melihat mereka.”

“Kau tahu Yuki, di tempat ini aku bertemu seseorang yang sangat kucintai, di tempat ini pula aku kehilangannya. Hatiku hancur. Aku sendirian. Aku kesepian, bertahun-tahun. Kucoba mencari teman tapi tiada pernah kutemukan. Hingga pada suatu hari seorang gadis kecil menemukanku dan kamipun berteman baik. Dia selalu mendengarkan cerita-ceritaku. Dia sangat mengerti diriku. Kupikir pertemanan ini akan bertahan selamanya hingga pada suatu malam satu kata perpisahan menyirnakan semua harapanku.”

“Aku sungguh meminta maaf padamu, B. Ini semua kehendak orangtuaku. Aku tidak bisa menolaknya. Mungkin aku akan kembali ke kota ini beberapa tahun kedepan saat reuni bersama teman-temanku. Aku harap aku masih bisa menemuimu di tempat ini.”

“Semoga kau selalu berbahagia. Aku tidak bisa berjanji padamu apakah aku masih akan disini untuk beberapa tahun kedepan. Maaf aku tidak bisa memberimu kenang-kenangan.”

“Tidak apa-apa B, kau akan selalu menjadi temanku. Kau tahu itu B. Aku juga membawakanmu bunga peony dan bunga tulip kesukaanmu sebagai tanda perpisahan. Jangan lupakan aku B. Aku pamit dan selamat tinggal.”

“Maaf aku tidak bisa memelukmu. Semoga kau selalu berbahagia.”

***

Sendiri dan sendiri lagi. Sudah 3 tahun sejak kepergiannya, belum juga kutemukan seorang teman. Aku masih tetap aku yang dahulu. Meskipun kadang rasanya masih aneh dan aku merasa seolah ada yang kurang di hari Rabu, Sabtu dan Minggu karena tidak bertemu Yuki. Entah bagaimana kabarnya sekarang. Dengan kondisiku yang seperti ini tentu aku tidak bisa menghubunginya untuk sekadar berbagi cerita. Sangat jarang sekali orang-orang seperti Yuki dapat ditemui di tempat ini. Terkadang aku merasa iri dengan remaja-remaja yang biasa menghabiskan waktu mereka di taman kota untuk saling bercerita dan menghabiskan waktu bersama. Untuk saat ini biarlah angin, hujan, bulan, bintang dan matahari senja yang menjadi temanku. Setidaknya mereka mendengar keluh kesahku meskipun tiada balasan dari mereka. Akan kucoba bertahan di tempat ini, setidaknya sampai Yuki datang kembali, sesuai janjinya kepadaku. Dalam batinku aku terus bertanya, sampai kapan aku seperti ini hingga pada suatu sore yang mendung suara dari tangga yang rapuh itu terdengar lagi dan pintu itupun terbuka setelah bertahun-tahun tidak terbuka.

Dari balik pintu itu munculah seorang gadis dengan mata hazel dan rambut pirangnya yang bergelombang ea ra kebingungan. Ia melangkahkan kakinya dengan ragu. Matanya tertuju pada bunga peony dan tulip serta syal yang diberikan Yuki padaku tiga tahun lalu. Tangannya meraih syal itu, ia berniat membawanya sampai matanya beradu pandang dengan mataku. Pada awalnya ia kaget dan kebingungan sampai akhirnya ia meletakkan syal itu kembali dan tersenyum padaku. “Halo” sapanya. Setelah tersenyum dan menyapaku ia menuju ea rah tangga dan menutup pintu itu kembali. Ia dapat mengenaliku. Sama seperti Yuki. Gadis itu sama seperti Yuki. Tak ku tahu apakah ia akan kembali kesini lagi setelah ini. Namun, entah mengapa aku yakin bahwa aku akan memiliki pengganti Yuki. Tanpa kusadari sebuah senyum mengembang di wajahku, aku tidak akan kesepian lagi. Semoga.

 

*)Penulis merupakan mahasiswi Ilmu Komunikasi angkatan 2017 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya. Saat ini aktif di Divisi Markom LPM Perspektif.

(Visited 43 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here