Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Menjadi Mahasiswa

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Menjadi mahasiswa seringkali diidentikkan dengan kemandirian, tidak lagi dengan serta-merta bergantung pada orang lain. Di usia-usia inilah, manusia ditempa menjadi manusia yang tangguh, berjuang menuntaskan harapan dipundaknya. Mereka juga dituntut siap membuat keputusan, dengan segala pertimbangan konsekuensi.

Beragam tuntutan dibebankan pada pundak mahasiswa: menjadi penjaga moral, calon pemimpin, dan sebagainya. Sementara, mahasiswa menyikapinya dengan berbagai cara. Menjadi aktivis, misalnya. Setidaknya, begitulah ingatan kolektif kita tentang arti menjadi “mahasiswa”, manusia-manusia beruntung yang mengenyam pendidikan tinggi dan diharapkan menjadi man of analysis.

Apapun itu, terutama soal cara mahasiswa bertindak menyikapi harapannya masing-masing, harapan orang tua, maupun masyarakat, masih menjadi perdebatan yang tampaknya tak pernah usang. Pasalnya, definisi “mahasiswa” yang kemudian mewujud dalam cara mahasiswa bersikap di lingkungan, yang menjadi perdebatan itu nisbi tak lengkap. Begitupula kebanggaan yang melekat di status “mahasiswa”, tak pernah lengkap jika definisi “mahasiswa” itu masih goyah.

Begitulah harapan-harapan yang mesti dipikul di pundak mahasiswa. Masyarakat kita seringkali kesulitan memisahkan mutiara dari pasir. Segala yang berlumur pasir akan dianggap sebagai kotoran. Itulah yang diharapkan dari mahasiswa. Mengabdi pada masyarakat lewat implementasi ilmu yang mereka dapat. Sebab, hanya man of analysis-lah yang mampu memisahkan mutiara dari pasirnya.

Selamat datang, selamat berjuang menuntaskan harapan!

(Visited 121 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts