Malang, PERSPEKTIF Mahasiswa baru (maba) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) 2015, sampai awal Desember ini masih belum bisa mendapatkan almamaternya. Begitu pula dengan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) yang juga belum didapatkan maba.

“Kalau untuk almamater setahu saya dan sudah dikabarkan di grup Presiden bahwa minggu lalu itu sudah hadir, almamaternya sudah ada. Namun, jumlahnya belum sesuai dengan jumlah mahasiswa yang masuk pada tahun ini. Sehingga, kita simpulkan bahwa kita akan ada pembagian almamater serentak di satu tempat,” terang Nurul Rohmah selaku Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP, Rabu (02/12).

Masalah keterlambatan almamater ini tidak hanya terjadi di FISIP saja, namun juga terjadi di fakultas lain. “Kalau untuk tentang almamater dan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) itu langsung dari pusat, dari pihak rektorat. Mereka (pihak rektorat, red.) tidak pernah memberikan pernyataan konkrit untuk pemberian almamater. Bahkan EM (Eksekutif Mahasiswa), BEM setiap fakultas kumpul untuk meminta kepastian juga. Tapi pihak rektorat selalu menjawab bahwa mereka belum bisa memastikan,” jelas mahasiswi Hubungan Internasional tersebut.

Almamater sendiri khususnya di FISIP, digunakan sebagai ‘pembeda’ bagi maba pada saat awal mereka memasuki perkuliahan. Mahasiswi yang akrab dipanggil Noyi tersebut mengatakan apabila almamaternya sudah dibagikan, kebijakan untuk menggunakan almamater bagi maba akan tetap dilakukan. Untuk saat ini maba hanya menggunakan id card atau nametag.

“Karena kebijakannya sendiri untuk membedakan maba, maba menggunakan almamater. Nah,mengeluarkan kebijakan tersebut tapi almamaternya sendiri belum ada. Jadi, dari kita selaku perwakilan tiap fakultas dan EM yang mengepalai, menanyakan bagaimana kebijakan sudah ada namun alatnya sendiri belum,” tutur mahasiswi yang berhijab tersebut.

Ketika awak Perspektif mencoba untuk mengkonfirmasi pada pihak rektorat, narasumber dari kepala bagian Pengadaan di lantai 4 tidak bisa dikonfirmasi. Namun, dari bagian pengadaan lantai 4 mengatakan bahwa keterlambatan pembagian almamater karena jumlahnya masih tidak sesuai dengan jumlah mahasiswa, dan juga banyaknya terjadi pergantian ukuran pada almamater yang dibuat. Mengenai KTM menurut bagian akademik dan informasi lantai 2 rektorat, saat ini jadwal untuk pembuatan KTM sedang berjalan sesuai jadwal yang memang sudah ditentukan.

“Solusi untuk mengatasi keterlambatan ini menurut aku seharusnya dari kampus terutama pusat, kalau sudah memperkirakan penerimaan mahasiswa pada tahun itu berapa, maka harus mulai memesan almamater jauh-jauh hari,” ungkap Noyi. Mahasiswi berkacamata tersebut juga mengatakan selain permasalahan pada keterlambatan juga pada warna almamater yang setiap tahun terlihat berbeda. Menurutnya, Universitas Brawijaya harusnya menggunakan satu vendor saja mengingat biayanya yang juga besar.

“Saya pribadi merasa cukup kecewa karena terlalu lama jangka waktu pembagiannya (almamater, .red). Sedangkan kita membutuhkan almamater itu untuk kegiatan organisasi atau seminar resmi. Karena kita belum mendapatkan almamater, jadi kita harus meminjam kepada kakak tingkat,” ungkap Aulia Urgenadila, mahasiswi Ilmu Politik 2015 tersebut. Lebih lanjut, Aulia berpendapat bahwa peraturan penggunaan id card atau nametag sebagai identitas maba kurang efisien karena banyak maba yang melanggar dan tidak memakainya. (ank)

(Visited 76 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here