Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Darsono: “FISIP Seperti Rumah Saya Sendiri”

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp
Sejak awal berdirinya FISIP tahun 2004, FISIP mengalami kemajuan yang bisa dikatakan cukup cepat. Adanya pertentangan pembangunan FISIP dari beberapa fakultas lain tak mematahkan semangat beberapa civitas akademika, yang saat itu diprakarsai oleh dekan FISIP saat ini, Darsono Wisadirana untuk melanjutkan pendirian FISIP. Tim Perspektif melakukan wawancara khusus dengan Darsono (23/10) untuk mengetahui sepak terjangnya dan harapannya setelah tidak menjabat menjadi dekan lagi. Berikut hasil wawancara kami:
 
Perpektif (P): Bagaimana sejarah FISIP hingga dapat menjadi fakultas yang besar seperti sekarang ?
Darsono (D):FISIP itu dibangun dari perjuangan. Mulai tidak ada nama FISIP kemudian saya mencoba untuk mengembangkan Universitas melalui pengembangan fakultas. Kebetulan saya adalah penggagasnya. Pada saat itu, saya bermimpi Universitas Brawijaya (UB) ini memiliki Fakultas Sosial, karena kampus besar mana pun selalu memiliki fakultas tersebut, tapi UB waktu itu tidak ada. Kemudian saya merasa perlu mendirikan fakultas ilmu sosial, tapi pada saat itu beberapa kolega merasa tidak peru karena sudah ada FIA (Fakultas Ilmu Administrasi) tapi saya rasa itu berbeda. Kemudian saya diberi kesempatan oleh Bapak Yogi untuk menulis proposal Program Studi Ilmu Sosial kepada Dikti. Pada saat itu disetujui tapi hanya berlandaskan SK Rektor, hanya saja pembiayaan itu dibiayai sendiri. Nah kata-kata “dibiayai sendiri” ini ditafsirkan lain oleh Universitas bahwa dibiayai oleh prodi sendiri, sehingga pada saat itu  kami menggunakan biaya pribadi, dan bantuan dari beberapa kolega. Berjalanlah Prodi ini dengan sangat sederhana. Hanya bermodal dua ruangan di RKB. Tahun pertama kami bahkan sempat defisit dan sempat kesulitan membiayai karyawan. Tapi saya bersyukur, FISIP dapat berkembang pesat hingga seperti sekarang di usianya yang masih muda, bahkan menyamai fakultas yang sudah dibangun puluhan tahun.

 
P: Bagaimana kesan bapak selama menjadi dekan FISIP?
D: Karena FISIP ini dibangun dari perjuangan, saya tidak pernah merasa sebagai pimpinan. Saya merasa sebagai pekerja yang fokus dan berjuang untuk mengembangkan FISIP agar dapat seperti fakultas yang sudah lama berdiri. Dulu kita sering disindir pada saat menempati RKB, saya sejujurnya sedih pada saat itu. Maka dari itu saya benar-benar berjuang agar FISIP ini memiliki  bangunan sendiri dan Alhamdulillah, bisa sampai  seperti sekarang ini. Supaya  mahasiswa saya juga dapat bangga menjadi bagian dari FISIP.
 
P: Pernahkah pada saat kecil Bapak terpikirkan untuk menjadi seorang dekan?
D: Tidak, justru dulu saya bercita-cita menjadi seorang camat (kepala kecamatan) karena camat bisa mengatur sebuah daerah agar dapat menjadi sejahera. Lalu cita-cita saya yang kedua ingin menjadi seorang akademisi yang bergelar “Prof. Dr. Ir” karena saya terinspirsi oleh Insinyur Soekarno. Tapi sama sekali tidak terpikirkan untuk menjadi dekan ataupun rektor.
 
P: Apa keunikan FISIP Universitas Brawijaya ini dibandingkan Fakultas Ilmu Sosial di Universitas lain?
D: Kalau dari segi perkembangan, kita sering mendapat pujian dari kalangan akademisi Fakultas Sosial lain bahwa FISIP ini sangat cepat berkembang. Mereka kagum dengan kemajuan FISIP hingga seperti sekarang bahkan setara dengan mereka yang sudah lama berdiri. Selain itu, FISIP kita ini sudah menembus dunia. FISIP UB ini merupakan pelopor Fakultas Ilmu Sosial yang menjalin kerja sama dengan luar negeri. Salah satunya ialah programdoube degree. Kemudian dari segi akademisFISIP kita menerapkan kurikulum yang berbeda dibandingkan Fakultas Sosial pada umumnya. Kita adalah fakultas pertama yang menerapkan kurikulum 40% praktik 60% teori. Sedangkan kurikulum yang biasa diterapkan untuk tingkt S1 adalh 30% praktik 70% teori. Hal ini saya terapkan karena saya ingin mahasiswa saya dapat memiliki bekal praktik yang cukup untuk terjun ke dunia kerja. Tetapi juga tetap mampu jika ingin melanjutkan menjadi seorang akademisi.
 
P: Seberapa penting FISIP ini bagi bapak?
D: FISIP bagi saya ini seperti rumah sendiri. Terus terang saya justru lebih nyaman berada dikantor daripada dirumah (kemudian tertawa). Seolah-olah FISIP ini seperti bagian dari saya. Bahkan kalau diijinkan saya ingin nanti ketika meninggal dimakamkan di area FISIP. Tapi karena ini milik Negara jadi tidak boleh (kemudian tertawa).
P: Ketika Bapak tidak lagi mengabdi sebagai dekan, hal apa yang akan Bapak rindukan dari FISIP ini?

 

D: Harapannya saya jadikanlah lembaga ini seperti lembaga masyarakat. kalo misalnya ini dijadikan ajang konflik kan sayang udah sebesar ini. Jadi harapannya, siapapun yang menjadi penerus penerus itu loyalitas, komitmen untuk membangunFISIP ini kedepan, untuk mencapai visi misi. (nnd/rda)
(Visited 90 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts