Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Cerpen: Matahari Segera Berganti

Oleh : Kumba Permata Dewa*
Matahari akan segera berganti ketika sinar-sinar jingga itu membingkas dan menyelusuri tiap-tiap celah di lorong gelap yang kini kulintasi. Samar-samar bayanganku telah memanjang ke belakang dan aku tetap menyelusuri lorong setengah gelap itu. aku hanya mendesis menyuarakan bahwa matahari akan segera berganti.
“Bodoh…,” rutukku dalam hati. Ada kemauan tersendiri mengapa aku kini melintasi lorong dengan kegelapan yang terpecah menjadi siratan cahaya samar-samar yang berasal dari sinar-sinar matahari yang akan segera berganti ini. Aku terus merutuki, entah apa yang kulakukan, namun aku terus merutuki.
“Matahari segera berganti dan kau masih saja berada dalam lorong ini seperti orang yang ingin bunuh diri…,” suara dari dalam diriku mulai berbicara dan memaki-maki diriku seolah-olah aku ini adalah orang yang pantas untuk dicaci, dimaki dan dihina. Setelah kupikir-pikir, mungkin suara di dalam hatiku ini ada benarnya.
Matahari akan segera berganti dan kini aku bisa merasakan seluruh terpaan sinarnya menerjang wajah dan seluruh tubuhku, tatkala aku sampai di ujung lorong yang tadi gelap, kemudian remang-remang dan sekarang mataku menjadi silau karena biasan sinar jingga dari matahari yang akan segera berganti. Aku hanya merutuki diriku sendiri saat itu.
Di mana saat kegelapan terus memelukku, aku hanya terdiam dan berlalu sembari dilumat oleh sekawanan monster-monster yang bernama kegelapan. Segala hal yang gelap, hitam dan pekat tanpa ada arah menyeret-nyeretku ke dalam pusaran kehampaan. Dan aku hanya terdiam tanpa ada perlawanan. Beruntung sekali monster-monster itu menuntunku, hingga aku dapat menyelusuri lorong panjang itu. Lorong panjang dimana ada satu berkas cahaya bingkas yang samar-samar terlihat di ujung tanpa batas itu.
Matahari akan segera berganti.
Aku hanya merutuki diriku sendiri.
Di mana saat sebuah cahaya perlahan memberikan sebuah warna pada lorong-lorong yang kutahu berdinding pucat. Aku tak bisa memastikan karena cahaya itu sangat redup. Adapun ketika aku semakin melangkah, cahaya makin lama makin bersinar, sebuah warna jingga kekuningan. Aku hanya berjalan saja mengikuti lorong.
Matahari kini telah tergelincir dan akan segera berganti.
Aku masih saja menyesali dan merutuki diriku sendiri.
Kini aku sampai di ujung lorong dengan seluruh cahaya matahari yang akan segera berganti menerpaku, menabrak wajahku seperti halnya aku ini hanyalah sebuah samsak. Iya. Samsak bagi sebuah lorong yang terus menyetirku.
“Bodoh… kenapa kau tidak sadar…,”
Aku kemudian tertawa sembari meraup wajahku sendiri dengan tanganku.
“Kenapa kau mau menyelusuri lorong ini?,”
*****
Tentang Penulis:
*Kumba Permata Dewa

Penulis adalah mahasiwa Jurusan Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya. Saat ini ia aktif berproses sebagai  anggota di LPM Perspektif.
(Visited 80 times, 1 visits today)

1 tanggapan pada “Cerpen: Matahari Segera Berganti”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts