Lompat ke konten

Bagian 3: The Pocong Who Can’t Be Moved

Ilustrator - Puri Rahayu
Oleh: Reny Heldayanti*

Aku memandangi genangan air yang ada di hadapanku, menatapnya dalam-dalam, sampai aku menyadari bahwa tak ada bayanganku di sana. Aku teringat lagi dengan perempuan di malam kemarin yang aku temui. Barangkali, kami memang menikah dan kami terikat satu sama lain. Akan tetapi, tetap saja, aku tak bisa melakukan apa-apa. Aku mati, aku tak punya tubuh secara nyata. Barangkali, lebih baik perempuan itu mencintai laki-laki lain saja. Namun, hatiku terasa terlalu berat jika menyaksikannya. Rasanya itu akan sangat menyakitkan, walaupun aku sudah melewati sakitnya kematian. Mungkin ini sebabnya, aku tak bisa menjadi hantu secara “normal”, karena aku masih terjebak dalam perasaan seorang manusia.

Aku menyadari, walaupun aku tak ingat siapa aku sebenarnya, tetapi aku masih bisa merasa layaknya seperti orang yang masih hidup. Aku merasakan cinta, sakit, sedih, dan segala emosi manusia. Seandainya aku bisa memeluknya sekali saja, mungkin aku akan ingat siapa aku sebenarnya dan semua kenangan di antara kami berdua. Tapi itu mustahil, tanganku ini terikat erat dan tak mampu untuk kugerakkan. Aku bahkan tak bisa berjalan secara normal seperti manusia, aku hanya bisa melompat-lompat.

Perempuan itu harus bahagia, dia harus hidup dengan baik. Sedangkan aku akan menunggunya, di sudut jalan yang mungkin pernah kita lewati bersama. Aku beranjak pergi dari kuburanku yang basah, mencoba melihat alamku yang baru ini. Aku melompat-lompat jauh ke tempat sepi, di sana ada seseorang yang sedang merenung. Aku ingin mencoba menakut-nakutinya, barangkali aku bisa merasa bahagia layaknya hantu normal di saat melakukan hal tersebut.

Aku mendekatinya, berusaha berbisik di telinganya. Namun, saat ku dekati, orang itu memakai earphone yang sedang memutar sebuah lagu.

“I know it makes no sense but what else can I do
How can I move on when I’m still in love with you
… ‘Cause if one day you wake up and find that you’re missing me
And your heart starts to wonder where on this Earth I could be
Thinkin’ maybe you’ll come back here to the place that we’d meet
And you’ll see me waiting for you on the corner of the street
So I’m not moving, I’m not moving”

Lirik lagu yang kudengar membuatku teringat pada perempuan malam itu, dia sangat merindukanku dan keadaanku sesuai dengan lagu ini. Aku akan ada di sudut jalan yang sama, menunggumu di sana.

Aku menoleh ke arah laki-laki di sebelahku, matanya sayu, kelihatannya lebih baik aku tak mengganggunya. Tiba-tiba saja dia bergumam, “Gue gak tau harus gimana, tapi gue tetep suka sama lo, walaupun lo gak nganggep gue sama sekali. Gue bakal terus nungguin lo, di tempat pertama kali kita ketemu. “

Aku melihat laki-laki itu menitikkan air mata, memandang gelapnya malam yang sedang mengelilinginya. Barangkali, rasa cintanya tak terbalaskan atau dia terlalu lama menunggu untuk sesuatu yang tak seharusnya. Aku tak tahu pasti, tetapi aku tak ingin mengganggunya. 

Aku pergi dari tempat itu, memilih untuk merenung di bawah sebatang pohon pisang. Menatap buah-buahnya yang hampir matang. Aku baru sadar, bahwa aku tak ingat bagaimana rasanya buah pisang. Apakah terasa enak atau malah biasa saja. Saat memandangi buah itu aku terkejut, sebuah tangan penuh bulu menyentuh pundakku. Tetapi, aku tidak terkejut kalau itu adalah Wowok si genderuwo. 

“Lu udah mati, Cong! Lu harus bisa misahin dunia dan juga alam kematian. Lu gak bisa stuck dengan perasaan lu pas jadi manusia. Lu harus jadi hantu seutuhnya. Menakuti manusia dan merasa bahagia karenanya!

Aku menelan semua kata-kata itu, menanamkannya kuat-kuat di pikiranku. Apa yang dikatakan Wowok benar adanya. Aku harus berusaha bergerak, walaupun aku adalah pocong yang sedang tak bisa bergerak. Aku mati, dan perasaanku juga mati. Habis dalam cinta yang bahkan aku tak ingat. Tetapi, aku harus bisa menjadi pocong seutuhnya. Aku bukanlah manusia lagi, aku adalah pocong yang melompat-lompat. Maka, setelah mendengar kata-kata dari Wowok, aku melompat-lompat sampai kepalaku terbentur buah pisang yang hampir masak. Kain kafanku jadi sedikit lengket, terkena getah pisang di bagian kepala. Ini karena aku terlalu bersemangat. 

“Gitu dong, Cong. Semangat jadi hantu. Masa udah mati masih aja galau lu, Cong,” ucap Wowok sambil terkekeh.

“Iya, Wok, tau kok. Aku belum terbiasa aja ini. Doain aja biar bisa terbiasa,” balasku.

“Lah, emang hantu masih bisa berdoa?”

“Nggak tau, jujur. Bantuin aja dulu. Nggak usah komen gitu dong, Wok!”

Wowok hanya bisa menggelengkan kepalanya, aku tersenyum menatapnya dan melompat pergi darinya. Mencoba berpikir bagaimana caranya menakuti orang-orang.

Aku melompat hampir tiga kilometer jauhnya, ternyata sangat melelahkan menjadi pocong. Mengapa aku harus melompat? Tak bisakah aku terbang saja seperti hantu jenis lain? Mungkin, jika aku manusia, aku sudah mati karena kelelahan melompat sejauh ini.

Aku sampai di sebuah warung kopi, memandang ke arah tiga orang bapak-bapak yang sedang minum kopi sambil memakan gorengan. Maka, aku memunculkan diriku, melompat ke arah mereka. Rasanya aku sudah siap menjadi  hantu seutuhnya. Tetapi, bukannya ketakutan, bapak-bapak itu malah menyiramiku dengan kopi panas. Untung saja aku sudah mati, setidaknya kulitku tidak terbakar karena kopi sialan itu. Aku tetap berusaha untuk menakuti mereka, kemudian ada bapak-bapak lain yang membacakan ayat kursi. Entah mengapa, aku merasa terbakar. Kopi itu memang tidak membakarku, tetapi ayat itulah yang membakarku. Maka aku pun pergi, melompat sekuat tenaga.

Aku tak mengira bahwa mati sangatlah melelahkan. Melompat-lompat untuk bepergian atau harus menakuti orang-orang. Bagaimana bisa hantu-hantu itu bisa begitu gembira saat menakuti manusia? Rasanya ini sangat menghabiskan energi, belum lagi jika yang kudatangi adalah orang yang hafal banyak surah. Barangkali, beginilah rasanya menjadi manusia mati, tetap saja menderita ketika menjadi pocong. Benar-benar pekerjaan yang tak sesuai untukku. Tetapi kata-kata Wowok yang tertanam di kepalaku rasanya seperti menempeleng wajahku sampai membiru. Tapi, mau bagaimana lagi. Aku sangat sulit beradaptasi, aku tak pandai menjadi pocong. Bahkan di kehidupan sebelumnya, aku lebih berharap bereinkarnasi menjadi seekor kucing yang dipelihara oleh orang kaya. Hanya makan, tidur, dan tak melakukan apa-apa.

Beginilah adanya, aku adalah pocong yang tak bisa beranjak dari kenyataan bahwa aku telah mati atau aku telah meninggalkan orang yang kucintai. Barangkali, di kematian ini aku bisa mendapatkan sesuatu, begitulah yang kuharapkan saat ini. Tetapi, nyatanya aku berada di sudut yang sama dan menantikan hal yang sama, layaknya seperti manusia hidup. Mungkin di kehidupan lain, aku akan hidup lebih lama. Lalu, jika aku mati, aku bisa menjadi hantu seutuhnya. Tetapi, itu sulit untuk di kehidupan dan kematian kali ini, rasanya ada sesuatu yang tertinggal di dalam diriku, yang membuatku merasa kewalahan untuk maju dan menerima diriku seutuhnya sebagai pocong. 

(Visited 3 times, 1 visits today)
*) Penulis adalah mahasiswa jurusan Ilmu Pemerintahan angkatan 2024. Sekarang sebagai staf tetap Divisi Sastra LPM Perspektif 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?